Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Kenapa Orang Salah Kalau Ditegur Malah Lebih Galak? Ini Penjelasan Psikologisnya

Kalau ada orang yang salah ya diingetin. Eh tapi kok dalam beberapa kejadian, orang salah kalau ditegur malah lebih galak, kenapa bisa gitu ya?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Karena kita hidup di lingkungan sosial, kita pasti pernah melihat perilaku manusia yang kadang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Saat melihat perilaku menyimpang tersebut, hal yang biasa dilakukan oleh orang terdekat adalah mengingatkan. Namun dalam beberapa kejadian, orang salah kalau ditegur malah lebih galak, mengapa bisa demikian?

Beberapa di antara kalian pasti pernah mengalami situasi di mana ada orang yang berbuat tidak sesuai dengan norma, namun saat ditegur atau diingatkan justru marah dan menyerang balik orang yang menegurnya tadi.

Situasi seperti ini biasanya banyak terjadi di tempat umum, seperti di jalanan, pusat perbelanjaan, transportasi umum, atau tempat-tempat lainnya. Namun dengan adanya media sosial seperti saat ini, situasi serupa tidak hanya dapat dilihat oleh orang yang berada di lokasi kejadian, tapi bisa juga ditonton oleh seluruh pengguna media sosial.

View this post on Instagram

A post shared by smartgram (@smart.gram)

Seperti halnya dengan unggahan video yang viral beberapa waktu lalu di jagat maya. Video yang diunggah oleh akun @smart.gram tersebut menunjukkan seorang laki-laki yang ditegur karena menyela antrean di sebuah minimarket. Alih-alih memilih tertib dan mengantre dari belakang, laki-laki berkaos putih tersebut justru terlihat emosi dan terlihat mengejar orang yang menegurnya tersebut.

Ada Beberapa Faktor Penyebab

Rose Mini Agoes Salim, seorang dosen psikolog Universitas Indonesia memberikan penjelasan soal fenomena tersebut. Menurutnya, ada dua faktor yang membuat orang yang melakukan kesalahan justru menjadi lebih galak saat orang lain yang menegurnya.

Image source: pixahive.com
Image source: pixahive.com

Faktor yang pertama adalah rasa tidak nyaman ketika orang yang melakukan kesalahan diingatkan di depan orang banyak. Meski kadang tidak bermaksud untuk “menggurui” di depan orang banyak, namun sebagian orang yang ditegur tersebut melihat fenomena sebagai sesuai yang memalukan dirinya sendiri.

“Pertama, orang kalau ditegur di depan orang lain, rasanya pasti lebih tidak nyaman, malu ya,” kata Rose kepada Kompas, Minggu (30/5).

Faktor yang kedua adalah perasaan tidak terima jika teguran disampaikan secara kurang tepat. Banyak orang yang mungkin niat awalnya baik mengingatkan agar orang lain melakukan hal yang seharusnya dilakukan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, namun cara penyampaiannya salah. Terlebih kedua orang tersebut belum saling mengenal.

“Kalau kita ditegur orang yang tidak kita kenal, ego kita jadi lebih tinggi keluarnya. Terus merasa, ‘Siapa elu kok ngingetin gue?’ Bisa seperti itu. Akibatnya, dia merasa terusik,” lanjut Rose.

Cara Menegur yang Baik

Demi menghindari situasi seperti ini, Rose menyebut pihak yang hendak menegur juga harus melakukannya dengan cara yang baik, termasuk pemilihan nada bicara serta diksi kalimat yang baik. Jika kedua hal tersebut dilakukan, respons negatif berupa emosi yang tak terkendali dapat dihindarkan.

“Kadang-kadang orang yang menegur ‘Gimana sih lo, antri dong!’ itu yang membuat orang naik darah. Tapi kalau ‘Mohon maaf ya Pak, saya sudah duluan. Kalau enggak salah, antri itu harus dari belakang sana Pak, tidak bisa langsung potong dari sini. Terima kasih’, kalau informasinya seperti itu, dengan nada datar, mungkin penyampaian kita juga bisa membantu untuk tidak membuat orang itu marah,” kata Rose mencontohkan.

Photo by LinkedIn Sales Solutions on Unsplash
Photo by LinkedIn Sales Solutions on Unsplash

Saat menegur seseorang yang melakukan kesalahan, ada baiknya kita memperhatikan perasaan dan kenyamanan orang yang kita tegur tersebut. Contohnya dengan tidak menegur dengan cara berteriak-teriak. Jika menegur di muka umum saja sudah membuat seseorang merasa tidak nyaman, apalagi jika teguran itu dilakukan dengan nada tinggi.

“Gak perlu teriak-teriak di depan orang segitu banyaknya, jadi masih menghargai dia sebagai manusia,” kata Rose.

Sama Kayak Nagih Utang

Etika menegur dengan baik juga berlaku dalam konteks penagih utang dan orang yang ditagih. Meski orang yang menunggak membayar utang, atau berkelit dan banyak alasan ketika utangnya ditagih sama sekali tidak dibenarkan, namun bisa jadi orang tersebut tak kunjung melunasinya karena cara yang dipilih penagih utang kurang baik.

“Kalau orang yang utang yang ditagih, mungkin cara menagihnya yang membuat orang itu enggak nyaman. Dibentak dan sebagainya. Memang yang salah yang tidak membayar utang, tapi kalau dibentak ya mungkin jadi jatuhnya tidak nyaman. Akhirnya bukannya dia membayar, tetapi malah dia lebih marah lagi,” jelas Rose.

Selain itu, Rose juga menjelaskan bahwa setiap orang memiliki dorongan untuk mempertahankan harga dirinya di depan orang lain. Ada kalanya, seseorang merasa terinjak dan perlu memberikan respons tertentu supaya harga dirinya tetap terjaga. Dalam kondisi tersebut, terkadang orang kehilangan kendali atas apa yang ia ucapkan.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation