Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Penjelasan Ahli Soal Cahaya Hijau di Puncak Gunung Merapi

Cahaya hijau tertangkap kamera terpancar dari puncak Gunung Merapi. Foto tersebut berasal dari Fotografer Gunarto Song. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memberi tanggapan terhadap cahaya itu.

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Cahaya hijau yang terpancar tertangkap kamera dari puncak Gunung Merapi. Momen ini tertangkap kamera Fotografer Gunarto Song. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memberi tanggapan terhadap cahaya misterius di sekitar puncak Gunung Merapi, yang kini tengah viral.

BPPTKG menyertakan pula video berdurasi 12 detik yang memperlihatkan kilatan cahaya di sisi timur Gunung Merapi pada Kamis (27/5/2021) pukul 23.08 WIB.

"Sehubungan dengan beredarnya berita tersebut, dapat kami sampaikan bahwa kamera CCTV yang berada di Deles (sisi timur Gunung Merapi) sempat merekam kilatan cahaya pada tanggal 27 Mei 2021 pukul 23.08.10 WIB," terang Kepala Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida.

Kendati mengakui adanya kilatan cahaya terekam kamera, tetapi BPPTKG tak bisa memastikan apa benda itu.

Tonton juga:

Warga Desa Mulyodadi, Lampung minum air rendaman meteor dari langit. Mereka percaya ini berkhasiat. Iya, benar khasiat menimbulkan kanker.

"Salah satu tugas BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi adalah melakukan mitigasi Gunung Merapi, namun kami tidak memiliki tugas untuk mengamati benda langit sehingga kami tidak bisa memastikan benda apa yang terlihat dalam gambar tersebut," tambah BPPTKG.

Sementara itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan bahwa cahaya hijau yang muncul di dekat Gunung Merapi kemungkinan berkaitan dengan aktivitas hujan meteor.

"Diduga kilatan cahaya yang kehijauan yang muncul di dekat Gunung Merapi mungkin terkait dengan aktivitas hujan meteor," kata peneliti LAPAN Andi Pangerang, seperti dilansir situs Edukasi Sains Antariksa LAPAN.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin setelah menganalisis dan membandingkan foto yang viral di media sosial yang merekam dugaan kilatan meteor jatuh itu dengan rekaman CCTV di Puncak Merapi.

Bila benar itu foto long exposure maka itu adalah foto meteor sporadik yang jatuh dari arah selatan karena pengamat berada di arah selatan dan meteor jatuh tegak lurus
- Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin

Thomas menyimpulkan itu karena CCTV mengambil citra dari sisi timur Gunung Merapi dan tampak kilatan cahaya dari arah Selatan. Waktunya pun beririsan sekitar Pukul 23.08 WIB pada CCTV dan 23.07 pada rekaman foto. "Cahaya terang meteor karena foto long exposure, bukan karena meteor terang," kata dia menambahkan dalam analisisnya.

Thomas menjelaskan, meteor sporadik setiap saat jatuh karena berpapasan dengan Bumi. Meteor sporadik disebutnya berasal dari batuan antarplanet sisa pembentukan tata surya, yang disebut meteoroid (bakal meteor).

Arah jatuh yang dari selatan, berarti meteoroid tersebut adalah objek yang mengelilingi matahari dengan orbit tidak sebidang orbit Bumi. Saat jatuh ke Bumi di sekitar Gunung Merapi, meteoroid tersebut sesungguhnya sedang berpapasan dengan orbit Bumi ketika orbitnya sedang mengarah ke utara.

"Dari citra CCTV, disimpulkan itu meteor kecil, sehingga kalau pun bersisa tidak menimbulkan getaran," katanya menambahkan.

Keterangan Thomas yang terakhir merujuk kepada pernyataan Kepala Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, bahwa tidak terekam sinyal kegempaan yang signifikan saat kilatan cahaya itu terekam CCTV.

Sempat Diragukan Netizen, Disebut Hoax

Instagram Gunarto_Song
Instagram Gunarto_Song

Fotografer Gunarto Song memberikan klarifikasi soal foto cahaya misterius di puncak Gunung Merapi. Pasalnya, ternyata banyak yang meragukan keaslian foto tersebut dan menganggap Gunarto Song sudah mengedit terlebih dahulu sebelum mengunggahnya ke Instagram.

Melalui empat video yang diunggah ulang @merapi_uncover di Instagram, Minggu (30/5/2021), Gunarto Song memberikan penjelasan soal foto tersebut.

"Untuk menjawab rasa penasaran Teman-Teman, apakah Foto Viral saya editan atau tidak?, Ayoo simak video sederhana ini... Semoga berkenan... salam fotografi," tulisnya.

Pada video pertama, Gunarto Song secara langsung membuktikan lewat file raw, atau file mentah, bahwa foto tersebut tidak diedit.

"Kalau ngomong file raw berarti foto itu akan ketahuan ada penambahan elemen atau pengurangan elemen dalam foto itu atau tidak," ucap Gunarto Song.

Begitu file dibuka, memang di foto itu langsung terlihat sudah ada cahaya misterius di puncak Gunung Merapi.

Gunarto Song juga sedikit menjelaskan komposisi pengaturan kamera saat memotret Gunung Merapi, antara lain ISO 2.000, focal length 39 mm, lensa 270, diafragma 4,5, dan speed 4 detik.

Selain itu, dirinya mengaku tak banyak mengubah pengaturan foto yang diambil pada malam hari. Ia hanya mengatur temperatur pada angka 4.800 dan exposure 1,20.

Sementara itu, pengaturan yang lain ia biarkan netral pada angka 0 supaya, menurutnya, menghasilkan potret yang natural.

"Nah ini hasilnya, sesuai dengan kemarin yang saya unggah di IG @gunarto_song," kata dia.

"Di sini ada ambience cahaya kehijauan. Saya punya keyakinan, cahaya yang jatuh ini arahnya mendekati ke puncak gunung karena awan ini berada di kurang lebih di atas Gunung Merapi," jelas Gunarto Song.

Di samping itu, lanjutnya, ukuran cahaya dari atas lebih tipis dan makin melebar ke bawah.

"Memang perspektifnya seolah-olah jatuh ke puncak ya, tetapi kemarin berdasarkan video yang diunggah oleh @BPPTKG, dari sisi timur, itu paling enggak bisa untuk menjawab bahwa memang cahaya itu jatuhnya tidak jauh dari puncak Gunung Merapi," terang Gunarto Song.

"Poin penting dari penjelasan ini adalah bahwa foto ini bukan editan, tidak ada penambahan elemen di dalam foto saya yang viral kemarin," tutupnya.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation