Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Niat Anak Anggota DPRD Bekasi Nikahi Korban Pemerkosaan, Coreng Keadilan Kekerasan Seksual

Upaya tersangka kekerasan seksual di Bekasi, Amri Tanjung ingin nikahkan korban agar bisa terhindar dari hukuman 15 tahun penjara.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Masih ingat sama Amri Tanjung (21), Si anak anggota DPRD Bekasi yang tega memerkosa dan menjual gadis berusia 15 tahun? Kabar terbaru doi mau kurangi hukuman dengan cara menikahkan korban. Oh, tidak semudah itu, Ferguso. Itu sama saja melecehkan keadilan kekerasan seksual.

Niat ini diutarakan oleh pengacara tersangka, Bambang Sunaryo. Ia mengklaim pelaku sayang sama korban. “Saya berharap ini AT dan PU ini bisa kita nikahkan, kita urus ya walaupun proses hukum tetap berjalan. Barangkali bisa untuk meringankan karena ini sudah terjadi. Cobalah kalau mau dinikahkan untuk menghapus dosa karena ini sudah zinah,” ungkapnya dikutip dari Kompas.

Bambang melanjutkan walaupun belum ngobrol sama keluarga korban, lebih baik jalan terbaiknya ke pengadilan agama mengacu UU Perkawinan dan kombinasi hukum Islam. Ia berjanji jika pernikahan terjadi, hak PU sebagai anak di bawah umur masih tetap terpenuhi.

Sebelumnya, Amri diserahkan oleh pihak keluarga ke Polres Metro Bekasi Kota setelah buron beberapa bulan. Anak anggota DPRD Bekasi ini tersangka pemerkosaan dan eksploitasi seksual seorang remaja.

Ia mengelak gak menjual korban di aplikasi Mi Chat. Malah balik menuduh bahwa korban yang open BO sendiri. Dan mengaku gak pernah menyekap korban.

“Ternyata dia Open BO dengan teman saya. Saya tampar dia, (masih) gak mau ngaku. Saya tampar sekali lagi dan sudah. Di situ kita berdamai berdua dan akhirnya korban pulang ke rumah orang tuanya,” kata tersangka.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Keluarga Korban Menolak

Ilustrasi korban pemerkosaan perempuan/123rf
Ilustrasi korban pemerkosaan perempuan/123rf

Keluarga Korban Menolak

Pernyataan pihak tersangka benar-benar membingungkan. Soalnya Amri sempat mengaku gak sayang sama korban dan pas tersangka sudah di ujung tanduk tiba-tiba mengaku sayang dan ingin menikahkan.

Tonton juga:

Korban kekerasan seksual dipaksa bungkam oleh masyarakat melalui tekanan sosial dan labelling yang diberikan kepada korban. Korban tidak punya ruang untuk berekspresi atau curhat untuk melepas bayang-bayang masa lalunya. Akibatnya korban merasa depresi, tertekan hingga bunuh diri karena hantu masa lalu. House of the Unsilenced memberi ruang untuk korban kekerasan seksual berekspresi lewat seni. Inisiator acara, Eliza Vitri Handayani ingin korban ceritakan perjuangan mereka untuk pulih dari masa lalunya. Penulis novel tersebut ajak seniman untuk memberikan lokakarya kepada para korban kekerasan seksual. Hasil karya mereka dipamerkan di Galeri Cemara 6. Berbagai macam medium seni di pamerkan seperti seni rupa, instalasi, karya sastra dan teater. Eliza juga mengajak seniman rajut dan kolase, Ika Vantiani untuk menjadi kurator. Acara juga didukung oleh organisasi nirlaba yang bergerak di isu perempuan seperti Hollaback, LBH APIK.

Ayah korban, D jelas menolak upaya jalur damai secara halus ini. Ia mengatakan anak perempuannya sempat merasa terpukul dengan pernyataan tersangka gak sayang sama korban. “Waktu press rilis sudah jelas tidak ada rasa sayang, tidak pernah mengatakan sayang,” tegas D dikutip dari Okezone.

“Dari segi moral anak saya sudah dirusak begitu biadabnya, akhlak dia di mana? Apa mungkin kedepannya bisa langgeng (jika menikah),” D kembali menegaskan.

D juga gak mau niat pelaku nikahkan korban justru melemahkan proses hukum kekerasan seksual. Apalagi PU masih dibawah umur dilarang menikah dalam UU Perkawinan. Dan meminta masyarakat terus memantau kasus kekerasan seksual ini.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Nikah Justru Perburuk Masalah

Ilustrasi korban yang menolak berhubungan seksual/123rf
Ilustrasi korban yang menolak berhubungan seksual/123rf

Nikah Justru Perburuk Masalah

Komisioner Komnas Perempuan, Imam Nahei menerangkan jika pelaku memaksa menikah maka bisa terjadi kasus kekerasan lain terhadap anak. Kasus ini gak bisa selesai begitu saja lewat pernikahan karena sudah menyangkut tindak pemerkosaan. Jika dilakukan maka sama saja melecehkan keadilan terhadap kekerasan seksual dan perempuan itu sendiri.

Ia juga punya perhatian terhadap psikologis korban yang mengalami trauma. “Iming-iming pernikahan di sana itu bentuk perendahan terhadap perempuan. Korban harus melapor ke Komnas Perempuan dan anak. Atau bisa kita rujuk mitra lain untuk pendampingan,” kata Imam dikutip Kompas.

Imam juga menegaskan proses hukum harus dilakukan sampai tuntas. Ini terkait dengan kasus yang menyinggung pejabat. Jika berujung pernikahan maka akan muncul kasus-kasus serupa.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto mengatakan banyak kasus serupa supaya pelaku bisa lolos jeratan hukum. Ia gak setuju jalur nikah karena korban masih di bawah umur yang melanggar UU Perlindungan Anak.

“Mohon kepolisian harus tetap tegas dengan mengacu kepada Undang-undang Perlindungan Anak,” tegas Kak Seto dikutip dari Kompas.

Jangan Biarkan Pelaku Lolos Hukuman Penjara 15 Tahun

Kalau saja pelaku dan korban berhasil nikah, besar kemungkinan lolos dari jeratan pasal 81 dan pasal 88 UU Perlindungan Anak. Pasal 81 menyinggung tentang hukuman 15 tahun denda 300 juta untuk pemerkosa anak. Dan pasal 88 berkaitan dengan hukuman 10 tahun bagi pelaku eksploitasi anak.

Jika pernikahan terjadi ini sama saja melecehkan dan mencoreng keadilan bagi kasus kekerasan seksual.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation