Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Kasus Varian Baru COVID-19 Bertambah, Kalau Santuy Terus Bahaya

Varian baru COVID-19 terus muncul di beberapa provinsi Indonesia. Epidemiolog menilai kita malah bertindak seakan pandemi terkendali.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Ngerasa gak, sih, kita makin santuy menghadapi pandemi COVID-19? Penanganan Covid Indonesia santuy, kita juga jadi terbawa terlalu santuy. Apalagi banyak melihat kawan di medsos banyak pelesiran ke Bali. Penyebaran varian baru COVID-19 makin bertambah, loh, di Indonesia. Jakarta sudah terkontaminasi dengan varian Covid India. Lonjakan kasus COVID-19 imbas libur lebaran juga sudah muncul tanda-tandanya.

Baru-baru ini diberitakan salah satu jalur masuknya varian baru COVID-19 ke Indonesia lewat perdagangan impor gula dari India. Awak kapal pembawa gula, MV Hilmar Bulker, diketahui terinfeksi virus varian B1617 saat berlabuh di Cilacap, Jawa Tengah . Sejumlah 14 dari 20 awak kapal dinyatakan positif, satu orang dinyatakan meninggal di RSUD Cilacap (11/05).

Sebanyak 33 nakes RSUD Cilacap yang terkonfirmasi positif COVID-19 saat merawat 14 ABK asal Filipina yang terpapar virus varian baru dari India menjalani isolasi terpusat di RS Priscilla Medical Center Sampang, Cilacap/Antara
Sebanyak 33 nakes RSUD Cilacap yang terkonfirmasi positif COVID-19 saat merawat 14 ABK asal Filipina yang terpapar virus varian baru dari India menjalani isolasi terpusat di RS Priscilla Medical Center Sampang, Cilacap/Antara

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, hal ini diketahui setelah awak dites dengan metode penelusuran genome baru. Saat melakukan tracing, ternyata awak telah menulari seorang perawat RS dan sudah dilakukan karantina.

“Dan pada saat mereka di RS, di Cilacap, langsung kita tracing kontak erat dan kontak dekat,” ungkap Ganjar dikutip dari VOA Indonesia.

Belum diketahui secara pasti awal masuknya varian virus baru ke Indonesia. Kasus diatas hanya salah satunya, masih ada kasus lain seperti yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta dan lainnya yang bisa jadi titik awal penyebaran.

11 Provinsi Sudah Ada Kasus COVID-19 Varian Baru

Setidaknya, Indonesia sudah kebobolan tiga jenis varian baru COVID-19. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono mengatakan ada 54 kasus Covid varian baru di seluruh Indonesia. Varian baru ini berasal dari India (B1617), Afrika (B1351) dan Inggris (B117).

Tonton juga:

Pengobatan dukun India ini menggunakan metode besi panas, yaitu dengan menempelkan besi panas ke perut penderita COVID-19.

Dante menjelaskan 35 kasus dibawa oleh imigran dan WNA ke Indonesia. “Sementara itu, 19 kasus berasal dari varian yang berasal dari Indonesia. Jadi sudah ada kontak internal, penyebaran secara internal variant of concern (VoC) itu,” ungkap Dante dinukil dari Liputan 6.

11 provinsi yang terdapat kasus positif COVID-19 varian baru:
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Selatan
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Banten
  • DKI Jakarta
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur

emudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat/Antara
emudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat/Antara

Lonjakan Kasus Pasca Libur Lebaran Bisa Perburuk Pandemi

Dampak libur lebaran terhadap pandemi di Indonesia mulai terasa, nih. Dante mengakui sudah ada indikasi kenaikan kasus sebagai dampak mobilitas tinggi lebaran sebanyak 5.000 per hari seminggu belakangan. Lonjakan kasus atas dampak mobilitas tinggi lebaran diperkirakan akan naik 30-60 persen dalam 3 bulan ke depan.

“Dari kalkulasi ini prediksi yang kita lakukan mungkin akan mencapai peningkatan kasus sampai pertengahan minggu yang akan datang,” ujar Wamenkes dalam konpers virtual.

Varian baru COVID-19 juga menghantui lonjakan kasus di Indonesia. Kementerian Kesehatan mengklaim RS sudah siap menghadapi lonjakan ini. Sekitar 50 ribu atau 250 persen disediakan untuk isolasi kasus COVID-19. Serta 7.500 tempat tidur untuk pasien positif COVID-19 di Indonesia.

Upaya 3T (Testing, tracing dan treatment) juga akan digalakkan kembali. Kemenkes kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu patuh protokol kesehatan dan mengikuti vaksinasi yang dijalankan pemerintah.

Sejumlah wisatawan duduk di area lingkaran khusus untuk menjaga jarak antara wisatawan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta/Antara
Sejumlah wisatawan duduk di area lingkaran khusus untuk menjaga jarak antara wisatawan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta/Antara

Epidemiolog: Pandemi di Indonesia Seakan-akan Terkendali

FYI, negara-negara ASEAN lebih serius menanggapi kenaikan kasus di negaranya, loh. Pertengahan Mei lalu, Singapura, Malaysia dan Thailand kembali perketat mobilitas masyarakat. Aktivitas nge-mall, makan di restoran dan keluar belanja dibatasi. Upaya ini untuk mengurangi lonjakan kasus yang terjadi.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman berpendapat situasi di Indonesia seperti gak ada masalah. Orang sudah mulai cuek sama dan memilih untuk merawat pasien COVID-19 secara mandiri di rumah. Warga juga makin gak taat sama prokes dan cenderung meremehkan Covid.

“Itu yang menyebabkan India seperti sekarang dan berpotensi dialami Indonesia, paling gak dua hingga tiga bulan ke depan. Ini salah satu jawaban Indonesia seperti gak ada masalah, kalau diperiksa banyak,” ungkapnya dikutip dari BBC Indonesia.

Pemerintah juga terkesan santuy merespon pandemi belakangan ini. Selain gak ada pembatasan mobilitas masyarakat yang berarti, testing dan tracing makin jarang dilakukan. Estimasi Dicky pemerintah hanya melaporkan sepersepuluh dari kenyataannya, jika dihitung lewat pemodelan epidemiologi. Angka kasus akan turun jika positivity rate gak lebih dari 5%. Tapi kita masih di angka 10% ke atas.

“Itu adalah bukti kasus gak terkendali dari logika program epidemiologi. Jika ada 5 ribu kasus dilaporkan dalam 3 x 24 jam, maka terjadi 100 ribu testing, itu minimal,” ungkapnya.

Hal ini juga dipertegas oleh pakar pemodelan matematika ITB, Nuning Nuraini. Ia menyebutkan data positivity rate Indonesia di kisaran 20-40%. Padahal standarnya 5%.

Ia menduga 3T berkurang karena relawan banyak yang berhenti. Sehingga, sumber daya pengetesan dan pelacakan kurang. “Oleh sebab itu, karena kurang dites kasus tampak gak terlihat,” katanya.

Dicky melanjutkan penanganan varian baru COVID-19 di Indonesia juga minim. Pengetesan dengan metode pelacakan varian baru atau disebut whole genome sequencing jarang dilakukan. Padahal, penularan COVID-19 sudah dalam skala komunitas, antar keluarga dan lingkungan rumah. Gak menutup kemungkinan ada yang terinfeksi Covid VoC.

Lonjakan kasus dan Covid varian baru harusnya jadi sinyal serius buat kita untuk mencegah pandemi makin buruk di Indonesia.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation