Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Privilege Roadbike Bisa Diskriminasi Pesepeda Harian di Jalanan Ibu Kota

Makin hari pesepeda roadbike makin gak asik, terlalu banyak privilege roadbike yang diberikan sampai lupa kepentingan pesepeda harian.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Kebijakan uji coba penggunaan roadbike di jalan layang non tol (JLNT) Casablanca bikin bingung kita semua. Pasalnya, motor saja gak boleh melewati jalur tersebut karena hembusan angin yang kencang, tapi mengapa pesepeda roadbike boleh melintas? Komunitas Bike To Work berpendapat privilege roadbike berpotensi mengesampingkan kepentingan pesepeda harian.

Kita sering dibuat geram dengan roadies yang menjadikan jalanan ibukota arena balap seperti Tour de France. Memacu sepeda dengan kecepatan tinggi, hingga berbaris panjang yang membuat pengendara kendaraan bermotor naik pitam.

Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsungnya uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta
Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsungnya uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta/Antara

Ditambah pemerintah provinsi DKI malah mengizinkan JLNT Casablanca dilalui roadies. Tujuan pemberian privilege JLNT Casablanca khusus untuk roadbike untuk jamin keselamatan penggunaan sepeda dengan performa tinggi. “Mengingat road bikers melaju dengan kecepatan tinggi,” ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Lupito dikutip dari Tempo.

Motor tetap dilarang melalui jalur itu. Roadbike hanya boleh melintas pada jam 05.00-08.00. Jam itu diklaim aman mengingat hembusan angin gak terlalu kencang. Selebihnya angin menerpa kencang di jembatan setinggi 18 meter tersebut.

Dishub dan Dirlantas Polda Metro Jaya akan lakukan evaluasi uji coba ini.

Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsungnya uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta/Antara
Sejumlah pesepeda memacu kecepatan saat berlangsungnya uji coba pemberlakuan lintasan road bike di jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta/Antara

Roadbike Terlalu Diistimewakan, Pengguna Sepeda Harian Tersingkirkan

Komunitas Bike to Work mengatakan pesepeda perlakuan istimewa roadbike bisa mengganggu upaya mengintegrasikan sepeda ke dalam sistem transportasi ibukota. Soalnya, roadbike sering bertindak arogan dan antipati terhadap pengguna sepeda harian dan pengguna jalan lain.

Tonton juga:

Jalur sepeda terproteksi penting supaya warga bisa kurangin ketergantungan kendaraan pribadi yang makin lama bikin macet ibukota.

Ketua advokasi Bike to Work, Fahmi Saimima perilaku buruk roadies yang malah merusak citra pesepeda secara keseluruhan. Mereka sering membahayakan pengguna sepeda lain menyalip dengan kecepatan tinggi. Dan abai keselamatan pengguna jalan lain.

“Kami hanya tidak ingin stigma masyarakat makin membenci pesepeda, setelah sepeda roadbike mendapatkan privilege tersendiri,” ungkap Fahmi kepada Opini.

Event seperti Kamis Tarkam yang didukung oleh ISSI Jakarta dan sejumlah komunitas terkesan mendiskriminasi pengguna jalan lain. Mereka menggunakan jalanan publik sebagai ajang balap sepeda yang punya potensi bahaya tinggi. Ajang seperti ini butuh sosialisasi mendalam agar semua bisa bersepakat dan berbagi jalan dengan aman.

Ia juga sempat menyinggung upaya peniadaan jalur sepeda terproteksi oleh Polda Metro yang disetujui oleh anggota DPR RI Ahmad Sahroni. Jalur sepeda terproteksi penting buat pesepeda yang rentan di jalanan ibukota, bukan buat roadbike yang punya keahlian dan performa tinggi.

“Apalagi beranggapan jalur sepeda gak fungsi. Keistimewaan yang kami tentang,” tambahnya.

Perlakuan istimewa roadbike telah mengorbankan kepentingan publik yang lebih besar. Yaitu upaya menjadikan jalanan ibukota ramah bagi seluruh pengguna jalan.

Jalur Sepeda Buat Difabel, Perempuan dan Anak-anak

Fahmi meminta upaya penggunaan JLNT Casablanca untuk roadbike dibatalkan. Angin kencang jadi faktor keselamatan, serta prioritas kebijakan yang gak tepat. Lebih baik pemprov mempertahankan jalur sepeda terproteksi yang direncanakan ditiadakan.

Jalur sepeda terproteksi bukan sekedar hiasan yang dapat diserobot motor begitu saja. Jalur sepeda sangat dibutuhkan oleh pesepeda disabilitas seperti Achmad Budi Santos. Ia sehari-hari menggunakan jalur sepeda untuk pergi ke kantor di daerah Jalan Merdeka.

Ia sehari-hari melakukan mix commute bersepeda dari Bekasi ke stasiun terdekat. Berhenti di Stasiun Sudirman lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda lipatnya.

Jalur sepeda terproteksi bisa memberikan rasa aman bagi pengguna sepeda rentan dari bahaya lalu lintas kendaraan bermotor.

National Association of City Transportation Officials (NACTO) merangkum kelompok pesepeda yang harus diprioritaskan di jalanan ibukota. Pertama adalah anak-anak yang punya tubuh kecil dan kemampuan bersepeda minim untuk pergi ke sekolah. Kedua, lansia. Ketiga, perempuan hingga pesepeda roadbike dalam skala prioritas terakhir, Mereka dianggap memiliki kemampuan mumpuni di jalanan yang bercampur kendaraan bermotor.

Kelompok pesepeda yang paling diprioritaskan di jalanan mulai dari kiri atas paling prioritas hingga kanan bawah prioritas rendah/NACTO
Kelompok pesepeda yang paling diprioritaskan di jalanan mulai dari kiri atas paling prioritas hingga kanan bawah prioritas rendah/NACTO

Komunitas Bike to Work gak menampik kebutuhan olahraga buat pesepeda roadbike, termasuk memfasilitasi potensi atlit di sebuah komunitas. Ia merekomendasikan pesepeda roadbike menggunakan jalanan komplek minim lalu lintas. Seperti di kawasan Bintaro, Pantai Indah Kapuk dan BSD.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation