Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

COVID-19 di India, Menyebar dari Kota Menuju Desa Terpencil

Kini warga desa di India harus hadapi gelombang kedua COVID-19 yang fatal. Ini terjadi karena infrastruktur yang gak memadai dan pengetahuan warga desa yang minim.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Desa-desa di India kini menghadapi gelombang kedua COVID-19. Pada gelombang pertama Covid belum fatal menyerang warga pedesaan. Pada gelombang kedua menjadi yang terparah. Keluarga pasien COVID-19 yang meninggal sengaja membuang mayat ke sungai karena gak mampu bayar kremasi dan urus prosesi kematian.

Sekitar 2 ribuan jenazah ditemukan mengapung di sepanjang Sungai Gangga, India. Banyak yang mengaitkan mayat yang terdampar di bantaran sungai dengan gelombang kedua covid India. Mayat diduga berasal dari wilayah desa seperti Uttar Pradesh.

Anggota keluarga Vijay Raju, yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), berduka sebelum kremasinya di tanah krematorium di desa Giddenahalli di pinggiran Bengaluru, India, Kamis (13/5/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Samuel Rajkum.
Anggota keluarga Vijay Raju, yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), berduka sebelum kremasinya di tanah krematorium di desa Giddenahalli di pinggiran Bengaluru, India, Kamis (13/5/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Samuel Rajkum.

Pejabat senior di India, Manoj Kumar Singh berpendapat banyak warga desa gak mampu bayar prosesi kremasi keluarga yang meninggal. Tumpukan kayu untuk membakar mayat dihargai Rp 3 juta yang terlalu mahal buat warga desa.

"Pemerintah memiliki informasi bahwa jenazah mereka yang meninggal karena COVID-19 atau penyakit lainnya dibuang ke sungai alih-alih dibuang sesuai ritual yang tepat," kata Kumar dikutip dari Reuters.

Pekerja sosial, Ashutosh Kumar Pandey mengatakan jenazah mengapung di sungai sudah biasa terjadi di sungai Gangga. Karena ada kebiasaan warga buang mayat hindari proses kremasi yang mahal. Namun, kali ini jumlahnya banyak terkesan seperti eksodus COVID-19.

Kasus COVID-19 di Pedesaan Tinggi

Mayat mengapung hanyalah masalah permukaan seperti pucuk gunung es. Masalah yang utama dibalik ini adalah tingginya angka kasus Covid di pedesaan India.

Contoh saja, kasus di wilayah Basi, 1,5 jam dari ibukota New Delhi. sekitar tiga perempat dari 5.400 penduduk desa sakit dan lebih dari 30 orang meninggal dalam tiga minggu terakhir.

Lonjakan kasus juga terjadi di wilayah pinggiran Allahabad, Uttar Pradesh. Pada 20 April tercatat 54.339 kasus COVID-19. Dalam rentang waktu seminggu telah terjadi kenaikan kasus mencapai 11.318 pasien. Dari angka tersebut telah terjadi kematian 32% pada bulan April saja.

Per tanggal 1 Maret wilayah Kabirdham, Chhattisgarh gak ada kasus aktif COVID-19. Tiba-tiba angkanya mencapai 3.000 kasus dalam 7 hari.

Ketua komunitas petani di Basi, Sanjeev Kumar mengatakan kematian pasien Covid di desa terjadi karena akses fasilitas rumah sakit yang sulit. Banyak dari mereka gak menerima oksigen di RS setempat. “Yang sakit dilarikan ke markas distrik dan pasien yang sangat sakit itu harus menempuh perjalanan sekitar empat jam,” ungkap Sanjeev dikutip dari Bloomberg.

Peneliti mengkonfirmasi skenario seperti ini juga terjadi di lebih dari 18 kota kecil. Ada pula yang mengatakan kasus gelombang kedua India lebih besar dari data yang terlihat.

Kok, Bisa Terjadi, Sih?

Ada dua masalah utama penanganan gelombang kedua Covid India yang terjadi di pedesaan. Pertama, masalah datang dari kondisi sosial masyarakat pedesaan. Kedua, ketidaksiapan pemerintah India menangani gelombang kedua Covid.

Tahun 2020 pedesaan di India sangat sedikit terdampak COVID-19. Hingga warga desa banyak yang menganggap ini adalah penyakit ‘orang kota’. Muncul festival Kumbh Mela di sungai Gangga yang dihadiri warga dari segala penjuru negeri.

Mereka yang terinfeksi COVID-19 di Kumbh Mela menularkan penyakit ke keluarga terdekat hingga warga sekitar. Pada saat ini warga sudah kewalahan menangani pasien di wilayah infrastruktur kesehatannya gak memadai. Kurang oksigen, ventilator dan tenaga kesehatan yang kurang mumpuni.

Selain itu, banyak kota-kota kecil seperti Maharashtra, Rajasthan dan Uttar Pradesh bergantung sama kota perekonomian di sekitarnya. Pekerja Sosial Gaurav Singh Pardhi mengatakan banyak orang desa yang hilir mudik ke kota membawa penyakit ke desa. “Sebagian besar penduduk desa pergi untuk mengakses layanan sipil, menjual hasil bumi atau untuk pekerjaan,” ungkapnya dikutip dari India Today.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Jangan Cuma Salahkan Warga Desa

Warga Desa Gak Bisa Disalahkan Sepenuhnya

Kelalaian pemerintah India ikut berkontribusi memperburuk gelombang kedua Covid di wilayah desa. Mulanya pemerintah India berhasil menangani pandemi COVID-19 lewat program vaksinnya yang paling optimis di dunia.

Sejak bulan September kasus COVID-19 di India perlahan turun. Kembali melonjak pada bulan Maret ketika para pimpinan negara sesumbar untuk mengendurkan protokol kesehatan. Termasuk membolehkan festival Kumbh Mela dan kampanye politik.

”Ada di dalam diri kita perasaan bahwa ini adalah sesuatu yang telah ditangani secara substansial. Kami melihat tanda-tanda lonjakan berikutnya, tetapi skala dan intensitasnya tidak jelas,” kata epidemiolog India, Vijay Raghavan dikutip dari CNN.

Tonton juga:

Lonjakan kasus Covid-19 di India membuat masyarakat miskin pilih pengobatan dukun covid yang potensi buat kematian lebih fatal.

Saat gelombang kedua sudah menyerang pemerintah pusat melakukan blunder dengan gak ada tindakan darurat. Perdana Menteri Narendra Modi baru mengambil tindakan pada tanggal 20 April. Sebulan setelah gelombang kedua Covid India dimulai.

Semuanya sudah terlambat persiapan tabung oksigen dan obat remdesivir untuk gelombang kedua gak dilakukan sejak awal. Pemerintah terlalu membanggakan program vaksinasi dan berkata India sudah diujung pandemi.

Pencegahan serangan mutasi virus juga gak dilakukan. Riset-riset terbaru mutasi virus dianggap gak penting. Akibatnya varian virus corona B1617 menjadi dalang gelombang kedua di India.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation