Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Wilayah Gaza Blur di Google Earth, Peneliti Sulit Lacak Lokasi Konflik

Gaza kembali menjadi sorotan namun kali ini yang disoroti oleh para peneliti adalah sulitnya menggunakan salah satu fitur Google karena wilayah Gaza blur di Google Earth.

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Gaza sebagai salah satu wilayah terpadat di dunia—2,048 jiwa pada 2020—telah lama menjadi sorotan dunia. Jika biasanya karena konflik yang sering terjadi di sana, kali ini yang disoroti oleh para peneliti adalah sulitnya menggunakan salah satu fitur Google karena wilayah gaza blur di Google Earth.

Agaknya wajar para peneliti menggunakan Google Earth, karena fitur Google itu merupakan sumber terbuka yang tersedia untuk umum dan dapat digunakan oleh siapa saja. Sejatinya, para peneliti menggunakannya untuk melakukan pemetaan lokasi serangan dan dokumentasi wilayah konflik.

Akan tetapi, sebagian besar wilayah Israel dan Palestina yang ada di Google Earth muncul sebagai citra satelit dengan resolusi rendah dan cenderung blur. Mengherankan mengingat gambar dengan kualitas tinggi sebenarnya disediakan oleh pihak perusahaan satelit. Bahkan mobil-mobil di Kota Gaza tidak sampai terlihat.

Jika wilayah Gaza diklaim sebagai daerah rahasia yang rawan konflik kepentingan, hal tersebut ternyata tidak berlaku di Pyongyang, ibu kota Korea Utara. Jika dibandingkan dengan Pyongyang, mobil-mobil dan kendaraan yang ada di sana dapat dilihat dengan resolusi tinggi sehingga gambar terlihat tajam.

Kiri: Foto buram Gaza. Kanan: Foto Pyongyang, Korut. Sumber: Google.
Kiri: Foto buram Gaza. Kanan: Foto Pyongyang, Korut. Sumber: Google.

Citra Satelit Penting dalam Pemetaan Konflik

Citra satelit yang dapat dilihat secara gratis di Google Earth telah jadi elemen penting dalam pelaporan konflik, meskipun ada pula kekhawatiran akan ketersediaan gambar yang merinci dapat membahayakan keamanan.

Namun demi pelaporan kondisi terkini di wilayah konflik, agaknya kekhawatiran akan keamanan privasi bisa dikesampingkan terlebih dahulu. Seperti halnya dalam konfrontasi Timur Tengah terbaru, para peneliti dan penyidik berusaha menguatkan lokasi tembakan rudal dan bangunan-bangunan yang menjadi sasaran di wilayah Gaza menggunakan satelit.

Kiri: Gambar menara Hanadi di Gaza di Google Earth saat ini; kanan: gambar satelit resolusi tinggi yang menunjukkan menara hancur.
Kiri: Gambar menara Hanadi di Gaza di Google Earth saat ini; kanan: gambar satelit resolusi tinggi yang menunjukkan menara hancur.

“Fakta bahwa kami tidak mendapatkan citra satelit resolusi tinggi dari wilayah Israel dan Palestina membuat kami mundur,” kata Samir selaku penyelidik yang memanfaatkan fitur open source kepada BBC.

Meski demikian, di Google Earth sebagai platform gambar yang paling banyak digunakan, citra terbaru untuk Gaza memiliki resolusi rendah dan justru blur.

“Gambar Google Earth terbaru berasal dari tahun 2016 dan terlihat seperti sampah. Saya memperbesar beberapa daerah pedesaan Suriah secara acak dan telah ada lebih dari 20 gambar yang diambil sejak saat itu, dalam resolusi yang sangat tinggi,” kata Aric Toler, seorang jurnalis untuk Bellingcat dalam cuitannya di Twitter.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Pihak google buka suara...

Pihak Google Buka Suara

Menurut pengakuan Google, tujuan mereka membuat wilayah Gaza menjadi kabur dan beresolusi rendah adalah untuk “menjaga tempat-tempat padat penduduk yang tengah diperbarui secara teratur”.

“Secara keseluruhan, tujuan kami adalah untuk memperbarui tempat-tempat padat penduduk secara teratur dan mengikuti perubahan dunia, jadi kami akan menyegarkan area lebih sering ketika kami merasa ada banyak bangunan atau pembangunan jalan yang sedang berlangsung,” kata Matt Manolides, Pakar Strategi Data Geo Google dalam sebuah posting blog Google yang ditulis Oktober 2020 lalu.

Dengan lebih dari 13.000 orang per mil persegi, Kota Gaza lebih padat penduduk daripada kota-kota besar dunia seperti London dan Shanghai. Tapi Google Maps menunjukkan gambar yang lebih jelas dari daerah berpenduduk jauh lebih sedikit daripada Gaza tersebut.

Mengapa Gambar Gaza Masih Buram?

Faktanya, Google masih menggunakan gambar buram dari 2016 untuk menunjukkan wilayah Gaza. Menurut laporan BBC, Google mengatakan bahwa pihaknya mempertimbangkan “peluang untuk memperbarui kembali citra satelit selagi citra dengan resolusi lebih tinggi belum tersedia”. Akan tetapi, Google juga menambahkan kalimat yang menyatakan bahwa, “tidak ada rencana untuk dibagikan dalam waktu dekat”.

Potret Gaza di Google Earth. Foto: Google Earth.
Potret Gaza di Google Earth. Foto: Google Earth.

Selain Google, Apple Inc., yang juga merupakan perusahaan yang memiliki fitur citra satelit melalui aplikasi pemetaannya, mengatakan sedang berupaya memperbarui petanya ke resolusi yang lebih tinggi, menurut BBC.

Sangat disayangkan terlebih dalam situasi sulit seperti saat ini fitur citra satelit tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Citra satelit sejatinya telah memainkan peran penting dalam menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di seluruh dunia.

Misalnya pada tahun 2017, Human Rights Watch bermitra dengan pencitraan satelit dan perusahaan data Planet Labs untuk mendokumentasikan pelanggaran hak, terutama di negara-negara tempat konflik pembatasan, seperti Myanmar atau Suriah. Pada saat itu, gambar satelit yang disediakan oleh Planet Labs berhasil menunjukkan meluasnya pembakaran desa etnis Rohingya di Myanmar.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation