Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Indonesia Bisa Seperti India Abis Mudik Lebaran?

WHO katakan pandemi kopet tahun kedua bakal makin parah dan minta negara berbagi vaksin. Apakah Indonesia bisa jadi seperti India abis mudik lebaran ini?

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mewanti-wanti pandemi COVID-19 tahun kedua berpeluang makin parah secara global. Pandemi bisa lebih mematikan dari sebelumnya. Semoga situasi Indonesia abis mudik lebaran gak jadi kayak India. 

“Kita melihat kalau tahun kedua pandemi jauh lebih mematikan dari tahun pertama,” ungkap Tedros dikutip dari AFP.

Ia mendorong negara-negara maju bisa donasikan stok vaksin kelompok remaja ke negara-negara yang masih kesulitan akses vaksin. Donasi vaksin bisa dilakukan lewat Covax, sebuah jaringan pemerataan distribusi vaksin COVID-19 di dunia. Supaya penanganan pandemi covid gelombang ke-2 bisa dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dunia.

Suasana kremasi masal mereka yang meninggal dunia akibat penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah krematorium di New Delhi, India/Antara
Suasana kremasi masal mereka yang meninggal dunia akibat penyakit virus korona (COVID-19) di sebuah krematorium di New Delhi, India/Antara

Tanda-tanda COVID-19 Makin Parah di Dunia

WHO menaruh perhatian besar kepada kasus COVID-19 di India. Selama Covid gelombang ke-2 India mengalami lonjakan kasus pandemi yang menghantam warganya. Kondisi ini terjadi salah satunya karena mutasi virus B1617 yang menyerang warga India dan menyebar ke 50 negara di dunia.

“Transmisi varian ini lebih cepat daripada varian yang paling umum di Inggris, yaitu B117. Waktu penggandaan yang diamati adalah sekitar satu minggu atau varian corona India mutan ganda B 1617 memicu banyak klaster,” ungkap peneliti strategis WHO.

Tonton juga:

Pengobatan dukun India ini menggunakan metode besi panas, yaitu dengan menempelkan besi panas ke perut penderita COVID-19.

Virus corona varian India memiliki keunggulan transmisi 40-50 persen secara nasional. Hal ini menjadi faktor pendorong RS di India penuh dan terjadi antrian kremasi mayat di rumah duka. Rasio transmisi yang besar dapat memicu gelombang baru pandemi yang lebih fatal di seluruh dunia.

Tercatat pada hari Minggu (16/05), angka kematian covid di India mencapai 4.000 dalam 24 jam. Kini India mengalami 24.684.077 kasus COVID-19 dengan total kematian 270 ribu. Angka ini menempatkan negara Bollywood kedua kasus COVID-19 terparah di dunia.

Selain B1617, ada 3 varian virus corona berpotensi menyebabkan pandemi makin parah di tahun kedua. Varian baru corona B117 (Inggris), P1 (Brazil) dan B 1351 (Afrika Selatan).

Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat/Antara
Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat/Antara

Pandemi di Indonesia Sebenarnya Mengerikan

Kementerian Kesehatan sudah menyatakan 3 varian baru corona di atas sudah masuk ke Indonesia (04/05). Sebanyak 10 provinsi besar di Indonesia sudah terjadi penularan varian baru corona. Diantaranya Kep. Riau dan DKI Jakarta masing-masing 1 kasus B1617. Kasus B117 terjadi di Sumatera Utara, (1 kasus), Banten (1 kasus), Jawa Barat (5 kasus), Jawa Timur (1 Kasus), Bali 1 (1 kasus), Kalimantan Timur (1 kasus). Dan varian B 1351 terjadi di Bali (1 kasus).

Jubir vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan pihaknya terus meneliti varian baru corona yang membahayakan ini. Ia menghimbau masyarakat untuk kurangi mobilitas sosial.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardo mengatakan persentase kematian karena Covid belakangan naik. Himpunan data Satgas Covid 15 Mei menemukan persentase kematian Covid kini sebesar 2, 76 persen. Lebih berbahaya jika dibandingkan persentase dunia mencapai 2,07 persen.

Doni memerintahkan kepada daerah untuk menyelidiki faktor tingginya persentase kematian. “Apakah ada komorbid yang relatif tinggi atau kelompok usia yang dikategorikan rentan,” ungkapnya dikutip dari Kompas.

Epidemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Wahyono menyatakan pandemi di Indonesia makin mengkhawatirkan. Data penurunan kasus gak transparan, grafik seolah-olah turun padahal kegiatan tracing, testing, treatment (3T) pemerintah lemah.

Apalagi pemerintah terus membawa wacana pandemi sekarang aman-aman saja ke masyarakat. Padahal kasus seperti kerumunan di Tanah Abang, mudik dan lainnya bisa menjadi pemicu lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. “Seharusnya pemerintah lakukan social distancing sedang, tidak ada tawar menawar. Tetapi malah melakukan PPKM yang sifatnya ringan,” ucap Tri kepada CNBC Indonesia.

Hal ini membuat masyarakat menjadi abai dengan protokol kesehatan. Ditambah dengan kegiatan vaksinasi yang belum maksimal terus disuarakan membuat orang makin terlena dengan keamanan semu pandemi COVID-19.

Sejumlah wisatawan antre untuk memasuki tempat wisata Ancol Jakarta/Antara
Sejumlah wisatawan antre untuk memasuki tempat wisata Ancol Jakarta/Antara

Indonesia Bisa Seperti India Karena Libur Lebaran

Indonesia menghadapi potensi kasus covid gelombang kedua setelah lebaran. Momen mudik dan wisata libur libur lebaran bisa membuat Indonesia seperti India. Ini terjadi karena penularan sudah masuk level penularan dalam komunitas. “Ini sudah dalam kondisi community transmission, itu gradasi yang dikeluarkan WHO itu sudah satu tahun ya,” ungkap Dicky Budiman dalam keterangan pers diterima Opini.

Sebagai gambaran India juga mengalami penularan berbasis komunitas di pedesaan. Ini terjadi karena hasil tradisi budaya dan kegiatan pemilu yang menimbulkan kerumunan. COVID-19 dibawa dari orang kota ke pedesaan.

Dicky mewanti-wanti pemerintah harus fokus pada penanganan masa mudik lebaran dan kegiatan wisata. Pemudik yang ketahuan positif corona setelah pulang kampung bisa menjadi superspreader di kota perantauan. Selain itu beberapa kasus kerumunan wisata juga bisa membawa Indonesia mengalami lonjakan kasus seperti India.

“Orang berinteraksi tinggi dalam kondisi sangat rawan seperti ini, level community transmission dan positivity rate selalu di atas 10%, berpotensi membawa dan menularkan virus,” ujar Dicky.

Ia menyarankan pemerintah harus menggalakkan 3T dan melakukan pengurangan mobilitas penduduk. Serta mengurangi glorifikasi vaksinasi yang membuat masyarakat merasa aman menghadapi pandemi.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation