Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Dear Konsumen, Pahami Dulu Sistem COD, Biar Gak Ngomel ke Kurir

Banyak kurir yang disemprot konsumen karena sistem COD. Seharusnya konsumen komplain ke penjual saat barang tidak sesuai. Lalu apa yang membuat masih adanya konsumen yang belum paham sistem ini.

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Belanja menggunakan jasa E-commerce dianggap mempermudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Bagaimana tidak, tanpa capek-capek berpergian barang yang diinginkan meluncur ke rumah kita. Semakin berkembang E-commerce pun memperbaiki sistemnya dengan kemudahan. Salah satunya sistem pembayaran. Biasanya sistem pembayaran hanya melalui transfer tapi sekarang bisa melalui sistem Cash On Delivery (COD). COD dianggap meringankan konsumen yang tidak punya uang di tabungannya, dan hanya memiliki uang cash.

COD yang dianggap mempermudah transaksi untuk sebagian orang, ternyata menjadi malapetaka, bagi yang tidak paham dan tidak mengerti. Padahal aturan COD sudah diatur jelas oleh masing-masing E-commerce. Belakang ini banyak kasus terjadi kesalahpahaman terkait sistem COD.

Kurir yang terkena getahnya. Padahal kurir hanya mengantarkan barang tersebut. Banyak kurir yang disemprot konsumen, karena barang yang dibeli tak sesuai dengan pesanan. Seharusnya konsumen komplain ke penjual. Konsumen semestinya sudah paham sistem sederhana ini, Lalu apa yang membuat masih adanya konsumen yang belum paham sistem ini. Mari kita Bahas.

Minim Edukasi, Atau Konsumen Miskin Literasi

Unsplash.com
Unsplash.com

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti minimnya edukasi atau pengetahunan konsumen dalam berbelanja online saat ini. Hal ini terlihat dari sebuah video yang beredar di jagad maya, ketika pembeli memarahi kurir karena barang diterima tidak sesuai.

Terkait hal tersebut Sekretaris YLKI Agus Suyatno mengatakan, tuntutan adaptasi digital di masa pandemi Covid-19 belum sejalan dengan literasi masyarakat Indonesia tentang aturan dan cara berbelanja di e-commerce. “Yang perlu lebih mendapat edukasi adalah konsumen. Kita harus mengakui masyarakat kita masih gagap teknologi dan tidak secara pintar melakukan pembelian melalui e-commerce,” ungkap Agus seperti dilansir Kompas.com.

E-commerce banyak memberikan pilihan pembayaran untuk memudahkan konsumen, seperti metode transfer, pay later, dan COD (Cash On Delivery). Metode COD memungkinkan konsumen bisa membeli barang dengan metode bayar di tempat, yang artinya konsumen bisa melihat kesesuaian barang terlebih dahulu sebelum membayarnya kepada kurir.

Adapun opsi yang bisa dilakukan jika barang yang dikirim tidak sesuai adalah dengan melaporkan berdasarkan bukti foto atau video ke penjual di e-commerce untuk penyelesaian masalah. “Ketika terjadi permasalahan konsumen punya hak untuk mengadu, diselesaikan, didengar dan ditindaklanjuti permasalahannya tentunya dengan mekanisme yang berlaku. Ini yang perlu diperhatikan konsumen.

 Ketikan konsumen komplain itu, orientasinya untuk menyelesaikan masalah,” tegas dia. Agus juga mengatakan, dalam menyelesaikan masalah tentunya konsumen tidak perlu mengedepankan sisi emosional. Hal ini mengingat tujuan dari penyelesaian masalah adalah mendapatkan solusi yang sama-sama menguntungan antara penjual dan pembeli. “Ketika terjadi masalah dan ingin komplain, orientasinya untuk penyelesaian masalah. Banyak yang belum memahami dalam menyelesaikan masalah bukan mengedepankan emosional,” jelas dia.

Ia juga menyampaikan, ada tiga pihak yang terlibat dalam metode pembelian COD, yaitu penjual, konsumen, dan kurir. Bila ternyata item barang yang dikirim tidak sesuai, menurut Agus, hal ini merupakan tanggung jawab penjual.

“Permasalahan bukan terletak di pihak kurir, tapi pelaku usaha yang memberikan barang yang tidak sesuai. Komplain itu harusnya ke pelaku usahanya, bukan ke kurir,” tegas dia. Sebagai informasi, sepanjang tahun 2020, YLKI menerima 3.692 kasus pengaduan. Pengaduan dengan jumlah tertinggi adalah terkait dengan produk jasa keuangan sebesar 33,50 persen, e-commerce 12,70 persen, telekomunikasi 8,30 persen, kelistrikan 8,20 persen, dan perumahan 5,70 persen.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
Aturan COD di E-commerce

Aturan COD di E-commerce

Unsplash
Unsplash

COD sendiri memang kini menjadi salah satu metode pembayaran yang cukup favorit. COD sendiri artinya metode pembayaran yang dilakukan secara langsung di tempat setelah pesanan dari kurir diterima oleh pembeli. Jadi poinnya, pembeli cukup bayar ketika barang diterima via kurir. Sejumlah e-commerce punya aturan terkait COD.

Blibli adalah E-commerce yang menyediakan fitur COD. Dilansir dari situs resmi Blibli, konsumen juga dapat melakukan pembayaran dengan COD. Ada beberapa ketentuan bagi pembeli yang menggunakan metode pembayaran COD, yakni: Untuk melakukan pembayaran dengan COD, pembeli dapat memilih opsi “Bayar di Tempat (COD)” pada kolom Pilih Metode Pembayaran. Pesanan hanya akan diserahkan apabila kamu telah menyelesaikan pembayaran ke kurir Blibli. Pembayaran menggunakan metode COD akan dikenakan biaya 2 persen dari total transaksi.

 Kurir pengantar akan melakukan penagihan ketika sampai di alamat tujuan. Yang perlu diperhatikan, saat ini pembayaran dengan metode Bayar di Tempat (COD) hanya berlaku untuk produk tertentu yang bertanda “Dikirimkan oleh Blibli” dan seller pilihan serta wilayah pengiriman tertentu, dengan maksimal pesanan Rp 3 juta.

 Pengembalian barang Untuk pengajuan pengembalian barang karena kekeliruan barang atau kerusakan barang, bisa mengikuti tata caranya sebagai berikut: Masuk ke tab profile akun Blibli.com, pilih tab "Pengembalian" dan pilih "Ajukan Pengembalian Produk". Pada tab "Pesanan Selesai", pilih produk yang ingin Anda kembalikan. Pilih "Pengembalian Produk" dan lengkapi form pengembalian produk. Beri tanda centang pada produk yang ingin dikembalikan, klik "Lanjutkan".

Pilih Alasan Pengambilan Produk, Ekspektasi Solusi Pengembalian, dan Metode Pengembalian Produk. Tulis detail permasalahan pada kolom “Deskripsikan Keluhan” dan unggah bukti foto produk yang ingin dikembalikan. Bila bukti kendala kerusakan yang kamu miliki berupa video, kamu harus tetap mengunggah 1 foto produk.

Kemudian, lampirkan bukti video pada bagian “Deskripsi Keluhan” atau kirimkan via e-mail ke Customer Care Blibli (selengkapnya dapat dilihat pada bagian catatan di bawah). Beri tanda centang pada bagian persetujuan Syarat & Ketentuan, kemudian pilih “Konfirmasi Pengajuan”. Untuk ekspektasi solusi pengembalian “Tukar Produk”, tersedia fitur self-replacement yang memungkinkan Anda dapat memilih penggantian dengan produk yang sama, produk sama dengan varian berbeda (beda ukuran atau warna) , atau produk yang berbeda. Nantinya, Anda akan mendapatkan Informasi nomor pengembalian (RMAxxxx). Anda dapat mengunduh label pengembalian produk kamu pada “Cetak Label Pengiriman Produk Di Sini”.

Bukalapak juga menawarkan fitur COD ini. Dilansir dari laman resmi Bukalapak, pengguna yang bisa menggunakan fitur ini diharuskan sudah melakukan verifikasi email dan nomor telepon.

Metode pembayaran COD hanya berlaku untuk jasa pengiriman SiCepat Regular dan lapak yang sudah mengaktifkan metode COD ini.

"Dalam satu transaksi COD, minimal belanja mulai dari Rp30.000 hingga Rp2.000.000," bunyi keterangan Bukalapak.

Pembeli diwajibkan melakukan pembayaran secara tunai dan penuh sesuai yang ada pada detail tagihan atau label pengiriman ke kurir sebelum menerima ataupun membuka paket. Artinya, membuka paket sebelum dibayar tidak diperbolehkan.

"Pembeli tidak diperbolehkan membuka pesanan sebelum menyelesaikan pembayaran. Apabila setelah menerima barang, terdapat kendala pada paket pembeli dapat melakukan ajukan bantuan di BukaBantuan," bunyi keterangan Bukalapak.

Pembeli yang melakukan penolakan pembayaran atau tidak ada di tempat saat kurir melakukan percobaan pengiriman paket selama 3 kali dalam 7 hari akan diblokir dari sistem metode pembayaran COD. Metode pembayaran COD juga akan dinonaktifkan sementara apabila pembeli melakukan pembatalan pesanan sebanyak 2 kali dalam 60 hari.

Bukalapak mengenakan biaya admin sebesar 1,1% dengan minimum biaya admin ialah Rp2.000 dari nilai harga barang. Kemudian, asuransi pengiriman dalam metode pembayaran COD di Bukalapak bersifat wajib, besarannya adalah 0.45% dari nilai harga barang.

Tokopedia juga menawarkan layanan COD untuk penggunanya. Dilansir dari laman resmi Tokopedia, satu akun pengguna Tokopedia hanya boleh bertransaksi menggunakan fitur COD maksimal 5 kali dalam seminggu dengan frekuensi maksimal dua kali sehari.

Maksimum jumlah pembelian Barang yang menggunakan fitur COD adalah sebesar Rp 2.500.000 per transaksi, termasuk apabila terdapat promo berupa potongan harga.

Sama seperti Shopee dan Bukalapak, pengguna Tokopedia diwajibkan memberikan uang pembayaran kepada kurir saat pesanan tiba sesuai dengan nominal yang tertera pada faktur tagihan invoice. Pembeli juga tidak diperbolehkan untuk membuka paket hingga memberikan uang pembayaran kepada kurir.

Tokopedia memberikan kesempatan kepada Pembeli untuk melakukan pengembalian barang atau retur apabila belum membuka paket. Bila pengembalian barang dilakukan tanpa membuka paket, maka pembeli tidak perlu memberikan uang pembayaran kepada kurir.

Namun, apabila pembeli sudah membuka paket atau kiriman narang dan ingin melakukan pengembalian, maka wajib membayar semua pesanan pengembalian kepada kurir dan mengajukan komplain pengembalian barang pada penjual melalui pusat resolusi Tokopedia.

"Apabila dalam 60 hari pembeli melakukan pembatalan transaksi yang menggunakan fitur COD sebanyak 2 kali atau pembeli tidak ada di tempat pada saat kurir melakukan pengiriman paket sebanyak 2 kali, maka fitur COD akan dinonaktifkan dari pilihan metode pembayaran oleh Tokopedia," bunyi keterangan Tokopedia.

Khusus pengguna baru COD di Tokopedia, untuk transaksi pertama hingga transaksi ketiga tidak dikenakan biaya tambahan. Namun, untuk transaksi keempat dan selanjutnya, akan dikenakan biaya layanan sebesar 2% dari total transaksi.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation