Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Mudik 2021 Unfaedah: Bikin Emosi, Banyak Sanksi, Rawan Terinfeksi

Data Kemenhub, jumlah total masyarakat mudik 2021 mencapai 1,5 juta orang. Sebandingkah bertemu sanak famili dengan emosi, sanksi, dan risiko terinfeksi?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Larangan mudik 2021 yang diterapkan pemerintah di tengah situasi yang masih pandemi ini rasanya tak begitu diindahkan masyarakat. Buktinya, menurut data dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah total pemudik selama Lebaran 2021 mencapai 1,5 juta orang.

Foto: ANTARA.
Foto: ANTARA.

Pergerakan massal masyarakat yang bertekad bulat untuk kembali ke kampung halaman mengundang banyak konflik di lapangan. Beberapa hari ke belakang, media sosial dihebohkan oleh beberapa video pemudik yang meluapkan amarahnya kepada petugas di sejumlah titik penyekatan mudik.

Rentetan fenomena mudik yang sarat akan konflik seharusnya membuat kita berpikir, apakah sebanding temu kangen dengan keluarga dengan terkurasnya emosi, ancaman sanksi, dan risiko terinfeksi virus COVID-19 saat kembali ke rumah? Apalagi sejak 6 Mei 2021 lalu, ada lebih dari 4.000 pemudik yang dinyatakan positif COVID-19.

Belum lama ini, musisi sekaligus dokter Tompi kehilangan sang ibu akibat COVID-19. Melalui akun Instagram pribadinya, ia membagikan kisah duka dan kronologisnya secara lengkap.

View this post on Instagram

A post shared by Dr tompi (@dr_tompi)

Tompi dan mendiang ibunya tinggal bersama di Jakarta. Menjelang Ramadan tahun ini, sang ibu rindu keluarga di kampung halaman sekaligus ingin mengunjungi makam suaminya di Aceh, sehingga beliau meminta pulang. Mengetahui hal itu, Tompi mengizinkan ibunya pulang namun dengan catatan tetap di rumah dan menerapkan protokol kesehatan. Meski telah menjalani protokol kesehatan, ada kejadian tak diinginkan yang kemudian terjadi.

“Salah satu dari anggota keluarga kami, yang saya curiganya adalah salah satu yang sering ekspos di luar karena memang pekerjaannya demikian, itu yang pertama sakit. Ini ketahuannya setelah saya tracing, setelah ibu saya berpulang,” kata Tompi melalui akun Instagram @dr_tompi, Minggu (16/5).

Kata Tompi, salah satu anggota keluarganya tersebut mengaku hanya mengalami gejala flu, tanpa curiga terinfeksi virus COVID-19. Namun karena rumah keluarga di Aceh saling berdempetan, keluarganya sering berkumpul untuk sekadar mengobrol atau makan bersama. Tompi curiga, momen itulah yang mungkin jadi penyebab sang ibu terinfeksi virus COVID-19.

Salah satu poin penting yang Tompi katakan adalah penanganan COVID-19 di luar Jakarta masih menjadi tantangan besar. Jawaban berupa perubahan akan tantangan tersebut tentunya sulit didapatkan dalam waktu singkat. Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat bisa mengantisipasinya dengan bersabar dan tidak memaksakan kehendak untuk mudik terlebih dahulu.

Tompi juga berharap, situasi sulit yang tengah ia dan keluarganya hadapi tidak menjadi titik awal gelombang COVID-19 yang lebih besar, seperti yang sudah terjadi di India.

Pas Pergi Ribet, Pas Balik Juga Ruwet

Berhasil mudik bukanlah akhir dari perjuangan pemudik, mereka masih harus menghadapi tantangan selanjutnya, yakni bagaimana caranya agar bisa kembali ke tempat tinggal mereka di kota. Belum lagi, pemerintah diketahui telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk masyarakat yang nekat mudik dan kembali ke rumah masing-masing.

Opini.id telah merangkum beberapa aturan tersebut, di antaranya sebagai berikut.

Masuk DKI Jakarta Harus Pakai Surat Bebas COVID, Bukan SIKM

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan aturan bahwa masyarakat harus memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) sebagai syarat berpergian dari dan keluar wilayah DKI Jakarta.

Namun per hari Selasa (18/5), masyarakat tak lagi memerlukan dokumen SIKM sebagai syarat sebab Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan yang dibutuhkan masyarakat yang mudik atau keluar kota adalah surat keterangan bebas virus COVID-19 atau hasil negatif tes swab antigen.

Foto: ANTARA.
Foto: ANTARA.

“Jadi dokumen yang harus disiapkan itu dipastikan negatif, surat keterangan bebas COVID-nya. Untuk memastikan agar arus balik dapat kita kurangi, dan juga nanti ada penyekatan, pemeriksaan random antigen atau swab PCR dan sebagainya. Semua sesuai prosedur,” kata Riza di Balai Kota Jakarta pada Senin (17/5).

Masih menurut Riza, masyarakat yang ingin kembali ke Jakarta juga perlu menunjukkan dokumen kependudukan seperti KTP. Kemudian, nantinya warga yang akan masuk ke Jakarta akan ditanya oleh petugas di pos-pos penyekatan.

Secara terpisah, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan, jika ada pemudik yang kembali ke Jakarta tanpa membawa surat keterangan bebas COVID-19, maka mereka akan dipaksa untuk menjalani isolasi mandiri.

Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sejumlah kepala daerah di wilayah Jawa Barat, Banten, dan wilayah penyangga lainnya seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi dalam melakukan penyekatan selama masa arus balik tahun 2021.

Sejauh ini, Pemprov DKI Jakarta telah menerima sebanyak 5.280 permohonan SIKM dari masyarakat. namun, lebih dari setengahnya yakni 2.918 SIKM ditolak. Umumnya penolakan terjadi karena pemohon keliru dalam pengajuan, baik saat pengisian data maupun kriteria perjalanan nonmudik yang tidak diperkenankan.

Rumah Warga DKI yang Mudik Akan Ditempel Stiker

Aturan lain diberlakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan dalam upaya untuk mengantisipasi arus balik pemudik, yakni dengan menempelkan stiker pada rumah warga Jakarta Selatan yang baru kembali dari kampung halaman.

Dikutp dari laman Kompas, Lurah Kalibata Maman mengatakan, setiap pemudik wajib melaporkan diri ke Satgas COVID-19 di tingkat RW sebelum sampai di rumah.

“Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, seperti pengecekan suhu. Nanti kalau melebihi suhu yang ditentukan kita akan koordinasi dengan Puskesmas,” kata Maman.

Sejauh ini, Maman baru menempelkan satu stiker di rumah warga yang baru saja kembali dari kampung halaman. Sementara itu, Lurah Kuningan Timur IGK Rama mengaku bahwa ia telah menempel 42 stiker di rumah warga Kuningan Timur yang baru pulang mudik.

Terancam Sanksi Sosial dari Warga Setempat

Selain langkah tegas dari pemerintah setempat, pemudik yang kembali tanpa surat bebas COVID-19 di beberapa daerah juga terancam terkena sanksi sosial.

Seperti halnya yang terjadi di daerah Tangerang Selatan, warga beramai-ramai memasang spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap pemudik yang kembali dari kampung halaman tanpa membawa surat bebas COVID-19.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyambut positif langkah warganya dan menilai hal ini sebagai bentuk kesadaran warga akan pentingnya menjaga kesehatan di tengah ancaman penularan COVID-19 pascamudik Lebaran.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation