Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Kementerian PUPR Siapkan Seribu Rumah untuk Relokasi Korban Bencana NTT

1.000 unit rumah khusus akan dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merelokasi masyarakat yang terdampak bencana alam banjir bandang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

1.000 unit rumah khusus akan dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merelokasi masyarakat yang terdampak bencana alam banjir bandang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembangunan rumah khusus tersebut akan dilaksanakan di dua wilayah yakni Lembata (700 unit) dan Adonara (300 unit) dengan menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). “Kami akan segera melaksanakan pembangunan rumah khusus sekitar 1.000 unit unit merelokasi masyarakat yang rumahnya terdampak banjir bandang di NTT,” ujar Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (P2P) Nusa Tenggara II Direktorat Jenderal Perumahan Yublina D Bunga, dalam siaran pers, Selasa (11/5).

istimewa
istimewa

Dia menerangkan, pembangunan rumah khusus ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Jokowi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Lokasi bencana sebelumnya. Sejauh ini pihaknya telah mengalokasikan sebanyak 300 unit rumah khusus di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur dengan nilai bantuan Rp126 juta per unit. Selain itu pembangunan rumah khusus juga dilaksanakan di Kabupaten Lembata sebanyak 700 unit dengan nilai bantuan Rp 122 juta per unit rumah.

“Kami berharap pembangunan rumah khusus bisa segera dimulai dan nantinya kami akan menggunakan teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat). Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat agar proses pendataan dan relokasi bisa berjalan dengan baik,” tandasnya. S

Sementara itu, Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli menegaskan bahwa bantuan perumahan ini ditujukan untuk Masyarakat Terdampak Bencana Alam di Desa Oyangbara. Di daerah tersebut akan dibangun sebanyak 50 Unit rumah khusus tipe 36 sebagai tempat relokasi masyarakat. “Kami juga menghimbau masyarakat agar tidak lagi membangun rumah atau melakukan aktifitas di sekitar daerah bekas bencana,” terangnya.

3 Prioritas Kementerian PUPR dalam Penanganan Bencana di NTT dan NTB

Kementerian PUPR
Kementerian PUPR

Kementerian PUPR terus berusaha mendampingi dan merangkul masyarakat terdampak bencana. Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan juga berencana akan membangun Rumah Khusus (Rusus) di Donggala yang diperuntukkan warga terkena bencana gempa dan tsunami.

Tonton juga:

Genap setahun layani COVID-19, RSD Wisma Atlet sudah terima tiga penghargaan bergengsi. Mulai dari penghargaan MURI hingga dari Kementerian PANRB.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menekankan tiga hal yang jadi prioritas dalam mendukung penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Antara lain soal percepatan peningkatan konektivitas untuk mempermudah pendistribusian logistik, proses evakuasi, dan ketersediaan sarana dan prasarana dasar masyarakat terdampak bencana.

Hal itu disampaikan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di NTT dan NTB, Widiarto. Satgas Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana untuk NTT dan NTB ini bertanggungjawab dalam penanganan dampak bencana, seperti menjaga konektivitas jaringan jalan dan jembatan.

Kemudian, menyediakan fasilitas air bersih/air minum, sanitasi dan hunian sementara (pengungsian), relokasi korban terdampak dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan penanganan kerusakan infrastruktur PUPR.

"Konsolisasi data dengan pihak-pihak terkait juga penting, nanti kita satu data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," kata Widiarto, seperti dilansir liputan6.com.

Sebagai upaya penanganan darurat bencana banjir bandang dan longsor di NTT dan NTB, Kementerian PUPR telah mengerahkan alat berat sebanyak 214 unit dan 80 unit sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan sanitasi dan air minum seperti Hidran Umum, Mobil Tangki Air, dan Mobil MCK.

Selanjutnya, hasil monitoring dan evaluasi di wilayah terdampak di NTT terdapat 48 infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) mengalami kerusakan. Beberapa infrastruktur dalam penanganan seperti Bendung Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara mengalami dinding saluran primer runtuh dan mercu bendung jebol dilakukan pembuatan alur air menuju intake.

Infrastruktur jalan dan jembatan terdapat 74 titik lokasi kerusakan dan seluruhnya telah dipasang rambu peringatan dan pembersihan. Sejumlah jembatan rusak dilakukan perbaikan oprit dan pengaman oprit menggunakan bronjong serta penggantian jembatan sementara (bailey) seperti Jembatan Waiburak 2 di Kabupaten Flores Timur.

Bidang permukiman terdapat 17 kegiatan penyediaan sarana umum yang tersebar di 6 kabupaten/kota di NTT. Selanjutnya penanganan perumahan tercatat 4 titik lokasi kerusakan permukiman akibat longsor yang perlu direlokasi yakni di Kabupaten Lembata, Alor, Flores Timur, dan Kupang.

Di NTB, dilakukan survei inventori terhadap 9 infrastruktur SDA mengalami kerusakan. Beberapa sudah mulai penanganan seperti Bendungan Woro di Kabupaten Bima rusak pada sandaran tebing sebelah kiri dengan perbaikan rip-rap.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation