Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Pemerintah Bikin Kebijakan Kaya Orang Moody, Masyarakat Nekat Mudik

Pemerintah dinilai gak konsisten membuat kebijakan larangan mudik saat pandemi membuat masyarakat nekat mudik.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan survei 18 juta orang akan nekat mudik di masa Lebaran. Adanya kemungkinan ini membuat pemerintah justru bikin kebijakan mudik gak konsisten, kaya orang moody. Mudik dilarang tapi masyarakat boleh melakukan wisata. Belum lagi soal larangan mudik lokal yang muncul tiba-tiba. Ini membuat bingung dan masyarakat nekat mudik.

Salah satu yang membuat masyarakat bingung kebijakan aglomerasi atau mudik lokal kota penyangga. Pada hari Kamis pagi (06/05), masyarakat masih diperbolehkan keluar masuk Jabodetabek tanpa SIKM. Tiba-tiba sore hari, Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menegaskan mudik lokal dilarang, kecuali golongan masyarakat tertentu.

“Untuk memecah kebingungan di masyarakat soal mudik lokal di wilayah aglomerasi, saya tegaskan bahwa pemerintah melarang apapun bentuk mudik, baik lintas provinsi maupun dalam satu wilayah kabupaten/kota aglomerasi,” ujar Wiku.

Upaya lain yang dilakukan pemerintah dalam larangan mudik yaitu menutup tol jalur mudik. Jika pemudik nekat sanksinya akan dipaksa putar balik dan penilangan. Kereta api antar kota dan KRL juga dibatasi hanya pada jam tertentu dan diwajibkan memiliki SIKM.

Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat/Antara
Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat/Antara

Tapi Masyarakat Diizinkan Berwisata

Meski mudik lokal dilarang tapi belum ada kelanjutan kebijakan soal berwisata di wilayah aglomerasi. Soalnya, Wiku sempat mengizinkan kegiatan wisata masyarakat asalkan di kota/kabupaten domisili.

Anehnya, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka membuka lebar pintu wisatawan datang ke Solo. Surat edaran Wali Kota Solo Nomor 067/1309 mengizinkan kegiatan wisata beroperasi dengan protokol kesehatan.

Solo akan mengadakan event Bakdan Ing Balekambang di Taman Balekambang. Acara siap menyambut wisatawan yang negatif Covid-19 dan SIKM selama libur lebaran.

Tonton juga:

Menurut riset The Trade Desk, larangan mudik 2021 membuat tren belanja online meningkat pesat saat Ramadan. Ini karena alokasi dana mudik diprediksi bakal berpindah haluan.

“Tempat wisata boleh buka tapi yang regular. Tidak boleh ada event yang bersifat mengumpulkan massa,” kata Ketua Pelaksana Satgas Covid-19 Solo, Ahyani dikutip dari Kompas.

Namanya wisata bukannya sudah pasti mengumpulkan massa, Mba? Lagian SIKM kan khusus untuk orang yang dalam keadaan darurat, kok boleh berwisata?

Petugas Kepolisan (kiri) memeriksa truk bermuatan sayur yang membawa pemudik saat melintas di check point penyekatan arus mudik di Tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat/Antara
Petugas Kepolisan (kiri) memeriksa truk bermuatan sayur yang membawa pemudik saat melintas di check point penyekatan arus mudik di Tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat/Antara

Larangan Mudik Percuma, Warga Tetap Nekat

Sudah cukup bingung dengan kebijakannya? Jangan heran. Ini juga bisa membuat orang nekat untuk tetap mudik. Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Wahyono menilai kebijakan larangan mudik gak konsisten. Orang dilarang mudik tapi mall, tempat wisata tetap diizinkan tetap beroperasi tanpa pertimbangan zona penularan Covid-19 dan prokes yang ketat.

“Dilarang mudik itu kan pembatasan sosial sedang, dicampur dengan buka wisata, itu malah pembebasan sosial. Negara ini gak pernah konsisten. Karena mungkin pertimbangannya ekonomi,” ungkap Tri Yunis kepada CNBC Indonesia.

Pengamat kebijakan Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah memprediksi masyarakat yang nekat mudik melebihi perkiraan pemerintah. Keinginan masyarakat mudik sudah gak terbendung dari tahun kemarin. Ketakutan orang sama virus juga makin berkurang karena munculnya vaksinasi.

Kenekatan masyarakat untuk mudik juga makin kuat dengan kebijakan pemerintah yang gak konsisten. “Saat PSBB psikologis orang takut. Sekarang masyarakat sudah divaksin, sudah tahu protokol kesehatan. Menurut saya masyarakat akan nekat mudik,” ungkapnya kepada CNN Indonesia.

Gara-gara pemerintah bikin kebijakan sifatnya moody, potensi penularan virus corona bisa melonjak. Apalagi di tengah momen mudik, kelompok yang paling terancam adalah orang tua dengan umur di atas 60 tahun. Vaksinasi untuk kelompok ini masih kurang merata karena beberapa kendala.

Orang tua yang masuk dalam kategori rawan penularan Covid-19 memiliki tingkat kematian hingga 85%. Tentu saja dampak dari inkonsistensi kebijakan bisa fatal dalam pandemi Covid-19.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation