Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Beragam Cara Masyarakat Siasati Larangan Mudik Lebaran 2021

Pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik. Meski demikian, ada 1001 cara masyarakat siasati larangan mudik lebaran tersebut~

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Tahun ini adalah kali kedua masyarakat Indonesia terpaksa Lebaran di tengah pandemi virus corona. Dampaknya, libur lebaran akan kembali terasa hampa terlebih saat pemerintah mengeluarkan larangan mudik. Meski demikian, ada saja cara masyarakat siasati larangan mudik lebaran tersebut.

Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/5/2020). Penyekatan akses transportasi tersebut sebagai tindak lanjut kebijakan larangan mudik Lebaran pada 6 -17 Mei 2021 yang berlaku bagi kendaraan pribadi, angkutan umum dan motor kecuali mobil pemadam kebakaran, angkutan logistik dan kebutuhan pokok serta ambulans. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/foc.
Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/5/2020). Penyekatan akses transportasi tersebut sebagai tindak lanjut kebijakan larangan mudik Lebaran pada 6 -17 Mei 2021 yang berlaku bagi kendaraan pribadi, angkutan umum dan motor kecuali mobil pemadam kebakaran, angkutan logistik dan kebutuhan pokok serta ambulans. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/foc.

Pemerintah mengeluarkan larangan mudik melalui Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah.

Dalam surat edaran tersebut, disebutkan bahwa masyarakat dilarangan mudik terhitung dari tanggal 6-17 Mei 2021. Selain itu pemerintah juga menetapkan aturan tambahan yakni pengetatan perjalanan yang berlaku dua periode, yakni 22 April-5 Mei, dan 18-24 Mei 2021.

Menurut Doni Monardo selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19, larangan mudik dilatarbelakangi oleh penularan Covid-19 yang dikhawatirkan akan semakin parah karena interaksi antarmanusia. Maka dari itu, Doni berharap tidak ada mudik Lebaran tahun ini, baik itu jarak jauh atau pun lokal.

Doni Monardo (kedua kanan) berbincang dengan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Ahmad Dofiri (kedua kiri) dan Sekda Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja (tengah) saat meninjau posko penyekatan larangan mudik di gerbang Tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (29/4/2021). Peninjauan posko tersebut untuk memastikan kesiapan personel dalam rangka peyekatan larangan mudik Lebaran. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj.
Doni Monardo (kedua kanan) berbincang dengan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Ahmad Dofiri (kedua kiri) dan Sekda Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja (tengah) saat meninjau posko penyekatan larangan mudik di gerbang Tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (29/4/2021). Peninjauan posko tersebut untuk memastikan kesiapan personel dalam rangka peyekatan larangan mudik Lebaran. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj.

“Jangan dibiarkan terjadi mudik lokal. Kalau terjadi mudik lokal artinya ada silaturahmi, ada salam-salaman, ada cipika-cipiki. Artinya apa? Bisa terjadi proses penularan satu sama lain,” kata Doni saat Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 Nasional yang disiarkan secara virtual, Minggu (2/5).

Namun kenyataannya, larangan mudik tersebut tidak mempengaruhi niat sejumlah masyarakat untuk tetap mudik Lebaran meski ada penyekatan jalan di sejumlah titik mudik. Bahkan sempat dilaporkan, sejumlah pengendara nekat melakukan aksi berbahaya demi tetap sampai ke kampung halaman mereka masing-masing.

Apa saja aksi nekat tersebut? Berikut informasi yang kami rangkum dari berbagai sumber.

Mudik Sebelum Dilarang, Kembali Setelah Masa Larangan

Siasat pertama yang dilakukan oleh masyarakat yang ngotot pengin mudik adalah pergi ke kampung halaman sebelum adanya larangan dari pemerintah. Tentu, hal ini dibutuhkan insting dan feeling yang kuat kapan sekiranya pemerintah akan mengeluarkan larangan mudik. Dan ternyata, beberapa orang memiliki insting dan feeling yang cukup kuat dan akurat.

Sejumlah penumpang kereta api berjalan setibanya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Rabu (5/5/2021). Menurut data PT KAI Daop VI Yogyakarta tanggal 1 - 5 Mei 2021 atau jelang pemberlakuan larangan mudik Lebaran 2021, jumlah penumpang kereta jarak jauh yang turun di Daop VI tercatat sebanyak 15.476 penumpang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.
Sejumlah penumpang kereta api berjalan setibanya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Rabu (5/5/2021). Menurut data PT KAI Daop VI Yogyakarta tanggal 1 - 5 Mei 2021 atau jelang pemberlakuan larangan mudik Lebaran 2021, jumlah penumpang kereta jarak jauh yang turun di Daop VI tercatat sebanyak 15.476 penumpang. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.

Salah satunya adalah pemudik bernama David Kristanto. Dikutp dari laman Bisnis, David merupakan satu dari sekian banyak masyarakat yang mudik “dari jauh-jauh hari” menggunakan kereta api ke kampung halamannya yang terletak di Bojonegoro, Jawa Timur.

David memutuskan untuk mudik tepat satu hari sebelum larangan mudik dikeluarkan oleh pemerintah, yakni pada tanggal 5 Mei 2021. Saat ditanya bagaimana nantinya ia kembali ke Jakarta, dengan simpel ia menjawab: Saat masa larangan mudik dari pemerintah berakhir.

“Tanggal 5 masih bisa untuk mudik, jadi pas (pada tanggal itu) mudik. Nanti larangan (mudik) berakhir tanggal 17, tanggal 18-nya kita berangkat dari Bojonegoro,” kata David kepada wartawan Bisnis, Rabu (5/5).

Terobos Pembatas Jalan Tol

Pada Kamis (6/5) dini hari, beredar foto kendaraan roda empat yang diduga milik pemudik yang nekat menerobos pembatas jalan setelah terjaring penyekatan jalan dalam rangka larangan mudik. Aksi nekat tersebut diketahui berlokasi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek).

Meskipun akses masuk ke arah Cikampek dari Gerbang Tol Cikarang Barat telah ditutup, namun kendaraan tersebut berhasil lolos dan masuk Tol Japek. Menurut laporan sejumlah media di lokasi, ada puluhan kendaraan yang berupaya menerobos pembatas jalan yang memiliki tinggi kurang lebih 40 cm.

Sejumlah kendaraan menerobos pembatas jalan Tol Jakarta-Cikampek di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021) dini hari. Cara tersebut diduga untuk menghindari petugas gabungan yang melakukan penyekatan arus mudik di Tol Cikarang Barat. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.
Sejumlah kendaraan menerobos pembatas jalan Tol Jakarta-Cikampek di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021) dini hari. Cara tersebut diduga untuk menghindari petugas gabungan yang melakukan penyekatan arus mudik di Tol Cikarang Barat. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.

Secara terpisah, pihak kepolisian akan memberi teguran terhadap masyarakat yang tidak mematuhi petugas saat masa larangan mudik, termasuk mereka yang nekat menerobos penyekatan jalan. Meski bisa dijerat pidana, namun polisi mengaku lebih mengedepankan upaya persuasif.

Hal ini dikatakan langsung oleh Kapolda Banten Irjen Pol Rudy Heriyanto. Dilansir dari laman CNN Indonesia, Rudy berharap masyarakat bisa bersifat kooperatif terhadap aturan yang berlaku sehingga nantinya tidak akan ada sanksi pidana.

“Sebetulnya ada pasal pidana yang bisa diterapkan, kalau yang bersangkutan melawan petugas, seperti pasal 212, 214, dan pasal 216 KUHP, ada ancaman pidananya,” kata Rudy, Kamis (6/5).

Ramai-ramai Bikin Macet Jalan Tol, Nanti Juga “Diloloskan”

Suatu larangan bisa menimbulkan masalah baru jika skenario terburuknya tak begitu dipikirkan. Dalam konteks larangan mudik, mungkin salah satu skenario terburuknya adalah: Ratusan kendaraan yang memenuhi jalan hingga mengakibatkan kemacetan panjang yang mengular berkilo-kilometer.

Skenario tersebut beneran terjadi di Gerbang Tol Cikarang Barat arah Cikampek pada Kamis (6/5). Usut punya usut, kemacetan ini adalah akibat dari adanya penyekatan jalan dalam rangka larangan mudik libur Lebaran 2021.

Foto aerial kendaraan terjebak macet di Pintu Tol Cikupa, Tangerang, Banten, Kamis (6/5/2021). Ribuan kendaraan terjebak macet hingga delapan kilometer akibat kegiatan penyekatan larangan mudik Lebaran 2021. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Foto aerial kendaraan terjebak macet di Pintu Tol Cikupa, Tangerang, Banten, Kamis (6/5/2021). Ribuan kendaraan terjebak macet hingga delapan kilometer akibat kegiatan penyekatan larangan mudik Lebaran 2021. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.

Tak tanggung-tanggung, kemacetan yang diakibatkan oleh tingginya volume lalu lintas dalam tol ini menumpuk kendaraan roda empat sepanjang 5 sampai dengan 8 kilometer.

Kalau sudah begini, petugas di lapangan harus melakukan upaya demi mengurai kemacetan, dan upaya yang dilakukan adalah: Memberhentikan sementara penyekatan mudik.

Alhasil, kendaraan-kendaraan tersebut diizinkan meneruskan perjalanan mereka. Pemeriksaan akan kembali dilakukan saat kemacetan sudah mulai terurai dan kondisi lalu lintas telah lancar.

“Kami akan los (lepas) pemeriksaan sampai nanti ekornya kurang lebih 1 sampai 2 kilometer, baru kemudian kita akan laksanakan pemeriksaan kembali. Supaya ini juga tidak menghambat,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo, dikutip dari Jawapos, Kamis (6/5).

Petugas medis melakukan tes usap antigen kepada penumpang kendaraan berplat nomor luar kota saat penyekatan pemudik di jalur Pantura Tegal, Jawa Twengah, Kamis (6/5/2021). Penyekatan pemudik oleh TNI/Polri dan Dinas Perhubungan Kota Tegal tersebut dilakukan karena adanya larangan mudik Lebaran 2021 sebagai upaya meminimalisir penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc.
Petugas medis melakukan tes usap antigen kepada penumpang kendaraan berplat nomor luar kota saat penyekatan pemudik di jalur Pantura Tegal, Jawa Twengah, Kamis (6/5/2021). Penyekatan pemudik oleh TNI/Polri dan Dinas Perhubungan Kota Tegal tersebut dilakukan karena adanya larangan mudik Lebaran 2021 sebagai upaya meminimalisir penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc.

Yak, demikian daftar akal-akalan masyarakat dalam menyiasati larangan mudik Lebaran 2021. Rasanya sudah menjadi harapan kita bersama untuk lepas dari pandemi Covid-19 sehingga bisa lekas melakukan banyak hal yang dapat kita lakukan sebagaimana mestinya, tanpa ada pembatasan atau pun pelarangan.

Untuk mencapai semua itu, dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan juga pemerintah selaku pembuat kebijakan. Dalam hal ini, masyarakat diharapkan dapat berpikir dua kali jika ingin pulang ke kampung halaman, sehingga tidak terjadi aksi-aksi yang lebih nekat di kemudian hari. Selain berpotensi terkena sanksi, bukan tidak mungkin aksi nekat dalam bentuk apa pun akan membahayakan diri sendiri.

Selain itu, pemerintah dan petugas di lapangan diharapkan bisa berkoordinasi dengan optimal sehingga tidak menghasilkan peraturan yang inkonsisten, miskomunikasi, atau informasi yang membuat bingung masyarakat. Dampak terburuk dari suatu larangan juga harus mendapatkan perhatian lebih sehingga dapat teratasi jika terjadi di kemudian hari.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation