Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

5 Rintangan Larangan Mudik Bikin Pulkam Serasa Main Benteng Takeshi

Meski larangan mudik diterapkan, masyarakat tetap rela mudik saat pandemi dengan konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Pemerintah sudah melarang masyarakat mudik untuk cegah lonjakan kasus Covid-19 mulai dari 6-17 Mei. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dari segala penjuru untuk mencegah mobilitas mudik masyarakat. Namun, diketahui banyak yang masih ingin pulang ke kampung halaman di tengah larangan mudik.

Ada kemungkinan lolos dari pos penjagaan larangan mudik yang dijaga aparat. Potensi lolosnya kecil banget, ibarat seperti berhasil lolos dari rintangan Benteng Takeshi. Gak percaya?

Berikut 5 level rintangan buat masyarakat yang nekat pulang kampung di tengah larang mudik.

 

1. Bolak-balik Kelurahan Urus SIKM

 

Ada pengecualian buat golongan orang tertentu yang bisa melakukan mudik atau mobilitas antar daerah. Seperti orang yang bekerja logistik, kepentingan dinas, urusan duka orang meninggal dan urusan persalinan ibu hamil.

Syarat itu pun gak cukup, golongan orang yang dikecualikan kebijakan larangan mudik perlu mengurus Surat Izin Keluar Masuk (SIKM). Masyarakat harus mengurus SIKM di kelurahan domisili masing-masing.

Kebijakannya semua upaya masyarakat ingin lintas daerah, baik menggunakan transportasi pribadi atau umum harus memiliki SIKM.

Skeptisnya gini saja, di satu kelurahan ada 100 orang yang memenuhi syarat tersebut mengajukan SIKM. Nah, kebayang gak tuh kalian akan mengantri giliran untuk mengurus SIKM saja. Belum lagi bisa jadi bolak-balik fotokopi penuhi dokumen persyaratan buat diberikan ke ASN kelurahan. Ya, keburu Lebaran sudah lewat kalau gitu.

Petugas gabungan memeriksa kendaraan pemudik yang melintasi Jalur Selatan di Pos penyekatan Parakan Honje, Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat/Antara
Petugas gabungan memeriksa kendaraan pemudik yang melintasi Jalur Selatan di Pos penyekatan Parakan Honje, Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat/Antara

 

2. Potensi Tinggi Diperintahkan Putar Balik oleh Polisi di Tengah Jalan

 

Ini rintangan yang cukup berat, Kakorlantas Polri telah mengerahkan 155 ribu personel gabungan untuk menghalau pemudik yang nekat. Sekitar 381 pos penyekatan dari Sumatera hingga Bali siap menghadang pemudik. Pos penyekatan mudik akan beroperasi selama 24 jam.

Terus kalau kena apa yang terjadi? Polisi, TNI dan Satpol PP akan memaksa masyarakat putar balik di lapangan, gak peduli jarak dengan rumah Si Mbah tinggal 5 kilometer lagi. Ia

Hari pertama larangan mudik (06/05), Polda Jabar sudah memutar balikkan paksa 5 ribu pemudik dengan kendaraan pribadi di pos penyekatan. Mayoritas pemudik berasal dari Jakarta. “Situasi berjalan lancar, seluruhnya sekitar 17 ribu yang diperiksa, ada 5 ribuan diputar balik hari ini, bisa bertambah,” ungkap Wakapolda Jabar Brigjen Eddy Sumitro dikutip dari CNN Indonesia.

Pemudik yang disuruh putar balik juga terjadi di Palembang, Pelabuhan Merak dan wilayah lainnya. Layaknya labirin maut Benteng Takeshi, kalau ketahuan sama 2 algojo diceburkan ke kubang air atau di suruh kembali dari awal.

3. Pintu Tol Ditutup, Operasional KAI Dibatasi

Tantangan sulit lain yang harus dilewati pemudik adalah akses tol ditutup dan transportasi umum dibatasi. Cikampek sebagai jalur penghubung Jawa ditutup. Hari pertama kebijakan larangan mudik, sempat terjadi aksi protes pekerja daerah Cikampek karena jalur menuju rumahnya ditutup.

Perjalanan kereta api jarak jauh juga dibatasi. KAI masih mengoperasikan 19 KA jarak jauh, hanya untuk mobilitas orang yang memenuhi syarat SIKM.

Bahkan KRL yang sifatnya penghubung daerah aglomerasi (Contoh: Jabodetabek) saja dibatasi jam operasional dan gerbongnya. Jam operasional mulai dari 04.00 hingga 20.00 saja.

HALAMAN SELANJUTNYA next page
4. Jalan Tikus Macet

Petugas kepolisian menutup jalan alternatif Lebak-Bogor di Kecamatan Curugbitung, Lebak, Banten/Antara
Petugas kepolisian menutup jalan alternatif Lebak-Bogor di Kecamatan Curugbitung, Lebak, Banten/Antara

 

4. Jalan Tikus Macet

 

Sebanyak-banyaknya personil pasti gak mampu menjaga ratusan jalan di Pulau Jawa atau Sumatera. Ada jalan alternatif selain protokol atau tol yang gak dijaga oleh aparat gabungan.

Tonton juga:

Polisi mulai lakukan penyekatan di beberapa titik keluar masuk Jakarta sebagai implementasi kebijakan larangan mudik. Tapi, hal itu justru berdampak kepada para buruh di Cikarang.

Pemudik nekat akan berpikir jalan alternatif untuk sampai kampung halaman. Jika ini terjadi jalan ‘tikus’ yang sempit akan dipenuhi oleh kendaraan. Seperti yang terjadi di jalur alternatif Jembatan Siphon Cibeet, Karawang, Jawa Barat. Menurut aparat telah terjadi kemacetan sepanjang 2 kilometer.

 

5. Bikin Klaster Keluarga di Kampung Halaman

 

Ini nih, tantangan yang paling berat. Ibarat melawan pasukan Raja Takeshi saat bermain semprot air dengan mobil gokart.

Pemerintah sudah mewanti-wanti mudik bisa meningkatkan risiko penularan Covid-19 ke keluarga dan orang tua di kampung. Salah satu contoh terjadi pada 39 warga Desa Kuryokalangan, Pati, Jawa Tengah tertular Covid-19 dari orang yang baru datang dari Jakarta. Warga desa ini tertular saat acara kebudayaan setempat.

Skenario paling buruk kejadian ini bisa saja orang tua yang imunnya kurang baik dan sakit-sakitan terkena Covid-19 dan potensi meninggal. Jika terjadi sangat sulit kalau harus menghadapi kasus kaya gini. Tentu saja hal ini bisa dihindari jika kita gak mengikuti rasa egoisme sendiri.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation