Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Keistimewaan Surat Fisik dalam Komunikasi yang Mulai Dilupakan

Adanya media sosial memudahkan manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain.Tapi seberapa besar pengaruhnya pada gaya komunikasi?

Rahmat Tri Prawira Agara  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita berkomunikasi melalui dua cara. Pertama komunikasi dalam bentuk lisan dan yang kedua komunikasi dalam bentuk tulisan. Kalau melihat sejarahnya, komunikasi dalam bentuk lisan merupakan metode yang ditemukan belakangan, ketika manusia pertama kali membuat sistem huruf, yang konon katanya pertama kali lahir di Mesir 3200-400 tahun sebelum Masehi, yang ditandai dengan munculnya Hieroglif pada saat itu.

Sebelum adanya huruf, praktis segala bentuk komunikasi dilakukan dengan metode lisan dari mulut ke mulut. Sejak adanya huruf dan teknologi seperti kertas dan percetakan, pola komunikasi lisan mulai menjadi metode yang penting digunakan dalam penyebaran informasi, berita, dan pengetahuan tertentu.

Salah satu bentuk komunikasi lisan yang paling tua dan masih bertahan sampai saat ini adalah komunikasi dalam bentuk surat. Orang-orang menggunakan surat untuk kepentingan formal perdagangan, diplomasi, negosiasi, hingga urusan-urusan non-formal secara individu.

Saking pentingnya surat menyurat dalam kehidupan sehari-hari, pada abad pertengahan dulu, juru tulis menjadi salah satu profesi yang lazim ditemukan saat itu.

Selain karena tidak semua orang mengerti aspek kebahasaan secara mendalam, kemampuan menulis dan membaca adalah salah satu keterampilan yang tidak semua orang miliki pada saat itu, karena tidak semua orang mampu mendapatkan pendidikan dasar secara mudah dan terbuka seperti sekarang.

Secara fisik, orang sekarang mungkin sangat jarang dalam menulis surat seperti dulu. Dengan adanya berbagai macam platform seperti E-mail, WhatsApp, Line, dan lain-lain. Untuk berkomunikasi dengan orang lintas benua dan zona waktu sekarang hanya berjarak hitungan detik dan jari saja.

Adanya platform-platform tersebut membantu orang untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih cepat, praktis, dan mudah. Namun di sisi lain, kemudahan teknologi ini sepertinya sedikit banyak juga menghilangkan kesakralan dari cara kita berkomunikasi.

Mari kita bayangkan sejenak dan kembali kepada zaman dimana surat fisik masih menjadi metode utama dalam berkomunikasi. Lazimnya untuk suatu surat diterima, butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kurir pos menyampaikannya ke alamat tujuan. Itupun kalau suratnya sampai ke tujuan, dalam banyak kesempatan seringkali surat itu tidak sampai kepada alamat yang dituju.

Bayangkan kebahagiaan yang dirasakan ketika melihat kurir pos berdiri di depan rumah dengan memegang surat yang kita nanti-nanti. Barangkali rasanya ibarat melihat malaikat yang sedang turun dengan membawa Wahyu.

Dalam rentang Minggu dan bulan di antaranya, waktu-waktu tersebut merupakan hal yang serba tidak pasti baik bagi sang penerima maupun pengirim surat.

Apakah surat saya sudah sampai atau belum? Mengapa balasan tidak kunjung datang? Kira-kira mungkin seperti itulah yang menjadi kecemasan umum yang dialami orang-orang pada zaman itu.

Selain itu, banyak hal yang bisa terjadi dalam rentang waktu tersebut. Kematian bisa datang, bencana dapat melanda, atau bahkan suasana hati pun bisa berubah-ubah.

Itulah mengapa dalam isi surat yang ditulis orang dulu, isinya panjang hingga berlembar-lembar. Segala macam perasaan dan keluh kesan yang mereka rasakan ditumpahkan semua dalam surat-surat tersebut. Mereka tahu bahwa bisa jadi surat yang mereka kirim ini adalah surat yang terakhir mereka tulis. Oleh karena itu, sebelum menulis mereka perlu pemikiran secara mendalam dan agak lama untuk menuliskan apa saja yang akan mereka tuangkan dalam isi surat mereka.

Dalam aspek kebahasaan juga, mereka lebih artikulatif dan sastrawi dalam menyampaikan gagasannya. Dalam isi surat cinta yang disampaikan kepada seorang kekasih misalnya, bagian pembuka surat biasanya akan dimulai dengan bait-bait puisi yang digubah oleh sang penulis surat seperti :

"Di bawah duku"
"Kutuliskan surat ini padamu"
"Yang berisi titipan rindu"
"Dari wanita yang selalu mencintaimu"
Bla bla bla....(Silakan dilanjut sendiri)

Tapi, kekayaan artikulasi bahasa semacam ini rasanya bakal jarang kita temukan pasangan kekasih dalam chat-chat di medsos mereka, yang salah satunya dicontohkan dalam kasus berikut :

"P", "P"
"Apa kabar?" "Lagi ngapain?"
"Sudah makan belum"
"Assalamualaikum ukhti.." (Versi yg religius)

Selain kurang bervariasi dan berulang-ulang, pesan yang sama juga dikirim setiap beberapa jam sekali. Persis seperti jadwal orang ketika akan minum obat. Contoh di atas mungkin hanya rekayasa saja. Tapi setidaknya itu menggambarkan bagaimana pola komunikasi kita saat ini pun mengalami pendangkalan, penyempitan, bahkan hingga tingkat yang membosankan karena saking mudahnya kita berkomunikasi saat ini.

Kita kehilangan kedalaman dan keintiman komunikasi seperti yang dialami oleh dua orang yang menanti balasan surat selama berbulan-bulan. Akibatnya, kita menganggap komunikasi dengan orang lain itu menjadi sesuatu yang tidak sakral lagi dan hal yang cenderung sepele.

Barangkali itulah mengapa orang-orang sekarang itu senang dan gandrung dengan sesuatu yang disebut sebagai sticky notes, karangan bunga, selempang, atau bentuk ucapan selamat dalam bentuk tertulis lainnya. Itu karena dalam sticky notes dan yang lainnya terdapat bukti jejak fisik tulisan dari orang yang mengucapkan. Ada kesan emosi dan perasaan yang tergurat dalam goresan pena dan tinta dari sang penulis yang bisa diraba dan dilihat secara langsung serta dapat diarsipkan dan disimpan dalam waktu lama.

Kita bisa membayangkan sosok sang penulis dengan aroma kertas dan tinta yang bercampur dengan parfum sang penulis. Dan itu mungkin tidak akan ditemui dan dirasakan dalam ruang chat di media sosial.

Satu lagi perumpamaan yang mungkin cukup berkaitan dengan kasus di atas adalah situasi yang kita hadapi saat ini. Kebetulan selama setahun kebelakang ini, dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Sesuai anjuran dari para ahli kesehatan, orang-orang membatasi gerak dan mobilitasnya, yang tentunya juga membatasi intensitas pertemuan dengan orang lain secara tatap muka.

Meskipun ada fitur-fitur pengganti pertemuan berupa zoom atau video call, tetap saja rasanya ada yang kurang dan berbeda dibandingkan jika pertemuan dilakukan secara daring. Secara naluriah, orang-orang merasakan suasana kehangatan pertemuan bila itu diadakan secara fisik tatap muka langsung.

Saya teringat pengalaman ketika pandemi ini baru berlangsung di awal tahun lalu, ketika pertama kali keluar dan bertemu beberapa teman di luar rumah, sensasi pertemuannya jauh berbeda dari pertemuan sebelum-sebelumnya.

Kalau diumpamakan, mungkin ibarat orang yang baru saja habis pulang dari medan perang selama bertahun-tahun dan menemui sahabat dan kerabatnya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Pertemuan itu rasanya jadi jauh lebih sakral dibandingkan sebelum pandemi. Walaupun sebenarnya tidak bertemu hanya dalam beberapa bulan saja, sewaktu bertemu itu rasanya seperti sudah terpisah selama beberapa puluh tahun.

Begitulah, kadangkali kemudahan itu seringkali membuat manusia menggampangkan dan meremehkan sesuatu yang sebenarnya cukup penting. Ketika sesuatu itu hilang, kita baru merasakan betapa bermaknanya sesuatu itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Salah satunya adalah komunikasi dan pertemuan dengan orang lain.

DITULIS OLEH
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation