Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Tabiat Netizen Indonesia: Dibatasi di Dalam Negeri, Barbar di Luar Negeri

Kekuatan netizen Indonesia udah gak bisa diraguin lagi dalam membela negara di jagat virtual. Ini tulisan yang bisa jadi renungan kita bersama #azek.

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Kekuatan netizen Indonesia udah gak bisa diraguin lagi dalam membela negara di jagat virtual. Kalau Korea Selatan punya wamil, Indonesia juga punya pasukan. Bedanya, pasukan Indonesia gak perlu diwajibkan dan medannya juga bukan di lapangan terbuka, melainkan di kolom komentar.

Banyak yang nyebut “pasukan” ini dengan istilah keyboard warrior, yang kalo menurut laman Urban Dictionary definisinya: A person who being unable to express his anger through physical violence, alias orang yang gak bisa ngeluapin kekesalannya dengan kekerasan fisik. Makanya, mereka manfaatin media internet berbasis teks buat ngeluapin emosi mereka tadi.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Serangannya biasanya berbentuk tulisan agresif yang kalimat-kalimatnya itu gak akan bisa diomongin sama para keyboard warrior di kehidupan nyata. Itu kata Urban Dictionary ya, kalo mau protes jangan di mari.

Contoh yang baru-baru ini terjadi adalah perkara Microsoft yang bikin survei dan hasilnya, Indonesia jadi negara dengan netizen paling gak sopan peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Bahkan jadi negara yang tingkat kesopanannya paling rendah se-Asia Tenggara.

Data tersebut bikin gue jadi prihatin ke netizen Indonesia dan Microsoft. Prihatin ke netizen Indonesia karena jelas, nama Indonesia khususnya netizennya di mata dunia jadi gak keren. Kalo prihatin ke Microsoft-nya sih lebih kayak, ini survei kan nunjukkin kalo netizen Indonesia barbar, berarti gede dong kemungkinan akun Microsoft diserang?

Bener aja. Survei yang tadinya bersifat kualitatif dengan cuma nyajiin angka, otomatis jadi kualitatif penuh dengan lampiran praktik yang langsung ditunjukin sama netizen Indonesia lewat kolom komentar akun Instagram Microsoft.

Serangan komentar netizen Indonesia di kolom komentar Instagram Microsoft. Postingannya tentang apa, komentarnya tentang apa. Ora nyambung. Dok: Istimewa.
Serangan komentar netizen Indonesia di kolom komentar Instagram Microsoft. Postingannya tentang apa, komentarnya tentang apa. Ora nyambung. Dok: Istimewa.

Dikutip dari CNN Indonesia, Pakar Budaya dan Komunikasi Digital, Firman Kurniawan bilang netizen Indonesia yang bermedia sosial sangat mengerikan. Banyaknya praktik merugikan seperti doxing hingga scamming jika atas dasar ketidaksetujuan dengan pendapat tertentu jadi salah satu faktornya.

Menyedihkan? Memang. Tapi hal kayak gini beneran dan bahkan sering terjadi. Buat bukti lebih jelasnya, nih gue kasih contoh-contoh kasus yang pernah kejadian.

Potret Kekejaman Netizen Indonesia

Kasus Dayana

Dayana adalah selebgram asal Kazakhstan. Ia dikenal sebagai lawan main Fiki Naki di OmeTV yang dianggap merendahkan fans Indonesia. Gak cuma sampe situ, informasi terakhir akun TikTok Dayana gak bisa kebuka. Doi nuduh netizen Indonesia rame-rame ngeblokir akun TikTok-nya, makanya jadi gak bisa kebuka lagi.

Drama GothamChess vs Dewa_Kipas

Setelah sekian lama ngunci akun Instagram-nya, pecatur Levy Rozman atau yang dikenal dengan nama GothamChess buka lagi akunnya dan nanggepin serangan netizen Indonesia. Sebelumnya, doi diserang gegara bilang kalo Dewa_Kipas alias Pak Dadang curang di Chess.com. Kritik itu doi sampein lewat postingan di Instagram Stories.

Orang Korsel yang rasis ke perempuan Indonesia

Beberapa waktu lalu viral di TikTok video cowok asal dari Korea Selatan yang bertindak rasis terhadap perempuan Indonesia. Doi lontarin hinaan dengan nyebut perempuan Indonesia punya wajah yang jelek dan orang Korea Selatan derajatnya lebih tinggi.

Video yang awalnya direkam pas main OmeTV ini kemudian bikin netizen Indonesia jadi murka. Akhirnya, doi dibuat malu oleh netizen karena berita rasisnya nyebar sampe ke negara asalnya.

All England

Atlet-atlet bulu tangkis Indonesia gak boleh tanding di All England 2021 padahal udah nyampe di Inggris. Alasannya, diduga rombongan tim bulu tangkis Indonesia satu pesawat dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Padahal, pas dites gak semua atlet Indonesia yang terkonfirmasi positif.

Alhasil, akun BWF (Badminton World Federation) dan All Engand akhirnya kena semprot juga sama netizen Indonesia. Gak lama, akun @allenglandofficial, ngilang entah karena di-report atau hal lain.

Netizen +62 dalam “Kandang”, Dibentur UU ITE dan Polisi Virtual

Polisi virtual beberapa waktu lalu dibentuk Polri dan udah beroperasi pula. Dibentuknya tim ini diklaim untuk mencegah tindak pidana Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, kehadiran polisi virtual di ruang digital perlu kayak Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) tapi versi internet, biar dunia siber bersih dan produktif. Sejak awal beroperasi hingga Kamis (18/3), udah ada148 akun medsos yang terjaring program pemantauan polisi virtual dan dapet teguran.

Belakangan juga muncul kasus warga Slawi berinisial AM yang ditangkap Tim Polisi Virtual Polresta Surakarta karena komentarnya di media sosial yang dinilai menghina Wali Kota Gibran Rakabuming Raka. yang merupakan putra pertama Jokowi.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di kantor DPRD Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021). Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo secara virtual oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama 16 kepala daerah lainnya di Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di kantor DPRD Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021). Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo secara virtual oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama 16 kepala daerah lainnya di Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa.

Pada akhirnya, AM membuat video permintaan maaf kepada Gibran. Berikut kutipan permintaan maaf AM dalam video berdurasi 2 menit 8 detik tersebut.

“Saya AM pemilik akun instagram @a***m_87, tanggal 13 Maret 2021, pukul 18.00 WIB. Benar saya menulis komentar di akun instagram @g***dare**lu**on yang ber-follower 650 ribu tentang semifinal dan final Piala Menpora di Solo. Saya menulis komentar: Tahu apa dia tentang sepak bola, tahunya cuma dikasih jabatan saja. Dengan ini saya meminta maaf kepada Bapak Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.”

Selama ini, UU ITE menegaskan kasus aduan harus dilaporkan langsung oleh korban. Meski demikian, secara terpisah, Gibran menyatakan gak pernah melaporkan hal itu ke ranah hukum.

“Tanya Pak Kapolresta. Saya tidak pernah melapor, loh. Orangnya juga tidak ditahan, hanya ditegur. Yang kayak gitu kan saya sudah biasa. Kita juga nggak gimana-gimana,” kata Gibran yang juga merupakan putra sulung Presiden Jokowi dilansir dari laman VOA, Rabu (17/3).

Muncul kecurigaan: Apa mungkin netizen +62 jadi barbar di negeri orang karena di negeri sendiri kebebasan berpendapat semakin dibatasi? Sehingga nasionalisme terkesan sebagai tameng di balik hasrat sederhana diri yang ingin menghujat tanpa ada hukum yang bisa menjerat?

Nasionalisme emang harus dipunyain sama seluruh masyarakat Indonesia sebagai wujud cinta Tanah Air. Tapi, kan masih banyak keleus bentuk nasionalisme selain jadi netizen barbar. Mungkin buat lo yang tersinggung dan bingung apa yang bisa lo lakuin buat nunjukin sisi nasionalis lo, bisa dimulai dengan matiin gadget dan liat lingkungan sekitar, ada gak yang butuh bantuan lo sebagai saudara sesama warga negara Indonesia?

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation