Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Krisis pandemi Covid-19 membuat terungkapnya ketimpangan gender dalam sistem kesehatan dunia. Faktanya, hanya sedikit tenaga medis perempuan yang mendapatkan kesempatan sama dengan laki- laki untuk menduduki posisi kepemimpinan dalam sistem kesehatan.
 
 
 
 
 
 
 
 
Representasi Perempuan dalam Sistem Kesehatan
Laporan World Health Organization (WHO) tahun 2019 bertajuk “Gender Equity in The Health Workforce: Analysis of 104 Countries” menyebutkan:
Perempuan dibayar sekitar 11-28% lebih rendah dibanding laki-laki di sektor kesehatan.
Perawat merupakan porsi terbesar di antara semua tenaga medis di dunia; 90% perawat adalah perempuan.
Kemungkinan perempuan untuk bekerja full-time lebih kecil dibandingkan laki-laki.
Partisipasi perempuan sangat baik di sektor kesehatan. Namun, hal itu tidak sejalan dengan kebijakan transformatif gender yang diperlukan sebagai jawaban atas ketidaksetaraan dan diskriminasi berbasis gender dalam pendapatan, akses pekerjaan penuh waktu, serta akses pengembangan profesional dan kepemimpinan.

Sistem kesehatan seakan menjadi sebuah sistem yang patriarkis. Perempuan tak jarang diposisikan sebagai kelompok yang tidak diprioritaskan menjadi pemimpin.
 
 
 
 
 
 
 
 
Tahun 2018, Nuzulul Kusuma Putri, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga menulis studi berjudul “Gender segregation of health workforce in the community healthcare setting”, meneliti 352 pejabat publik organisasi dinas kesehatan di dua provinsi. Hasilnya:
Pada tingkat pendidikan dan pengalaman kerja yang sama, sebagian besar pemimpin perempuan di bidang kesehatan terhenti pada tingkat kepemimpinan setingkat kepala seksi.
Pemimpin laki-laki punya kesempatan yang lebih besar untuk naik ke posisi jabatan lebih tinggi, setingkat kepala bidang hingga kepala dinas.
Data tersebut seakan menjadi miniatur Indonesia, di mana perempuan belum banyak ditunjuk sebagai pemimpin di sektor kesehatan. Sejak merdeka, Indonesia telah memiliki 20 orang Menteri Kesehatan, hanya 4 di antaranya yang perempuan.
 
 
 
 
 
 
 
 
Pandemi Covid-19 Buat Perempuan Makin Menderita
Perempuan adalah kelompok paling rentan sekaligus tangguh dalam menghadapi pandemi virus corona.

Kentalnya budaya patriarki di Indonesia membuat perempuan menanggung dampak yang bahkan seringkali lebih berat. Mayoritas perempuan minim akses dan kendali terhadap sumber keuangan untuk meredam dampak, adaptasi dengan perubahan, serta memulihkan kondisi saat menghadapi pandemi.

Saat berbicara di UN Women Asia Pasific & Women Empowerment Principles, 18 November 2020, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan data sebagai berikut:
60%

Sejak Maret 2020, 60% dari total 740 juta pekerja perempuan sektor informal Indonesia telah kehilangan pekerjaan mereka.
50%
35%

Pekerja perempuan yang masih bekerja kehilangan 50% jam kerja mereka, sementara laki-laki kehilangan 35% jam kerja.

Pendapatan pekerja perempuan di Indonesia lebih rendah 16-23% dibanding laki-laki.
Selain itu, dampak psikologis juga dirasakan oleh sebagian besar perempuan Indonesia selama pandemi.
 
 
 
 
 
 
 
 
Data Komnas Perempuan:

Perempuan alami peningkatan beban kerja dua kali lipat dalam pekerjaan rumah tangga dibandingkan laki-laki.
0
57% perempuan lebih banyak alami stres dan kecemasan dibandingkan laki-laki (48%).

Himpitan ekonomi dan beban mental yang berat membuat perempuan jadi sasaran kekerasan.
0
Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) sejak 29 Februari-27 November 2020, kekerasan terhadap perempuan mencapai 4.477 kasus dengan 4.520 korban.
0
59,8% adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
0
Jumlah KDRT terhadap anak perempuan mencapai 4.472 korban, lebih banyak dibanding anak laki-laki (1.778 korban).
 
 
 
 
 
 
 
 
Pandemi dan Perjuangan Perempuan dalam Kesetaraan Gender
UN Women, lembaga di bawah naungan PBB yang menangani kesetaraan gender, pada November 2020 lalu mengeluarkan studi terhadap 38 negara yang menyatakan bahwa:

Pandemi Covid-19 bisa mengacaukan perjuangan perempuan dalam menciptakan kesetaraan gender.

Penyebabnya:

Perempuan lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus keluarga yang terdampak Covid-19.
 
 
 
 
 
 
 
 
Semua (tentang perjuangan kesetaraan gender) yang kami kerjakan dan telah menghabiskan 25 tahun, bisa hilang hanya dalam setahun.
- Anita Bhatia, Wakil Direktur Eksekutif UN Women
 
 
 
 
 
 
 
 
Peran Vital Perempuan dalam Keluarga Selama Pandemi
Masalah ekonomi dalam keluarga sebagai dampak pandemi Covid-19 tidak harus disertai pertengkaran. Komunikasi yang baik antara suami dan istri adalah kunci keharmonisan rumah tangga.

Jika komunikasi sudah berjalan dengan lancar, banyak hal yang bisa dilakukan perempuan selama pandemi Covid-19, dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya:
  • Mengatur kembali keuangan rumah tangga.
  • Memberikan nutrisi terbaik untuk keluarga.
  • Mengasah kemampuan berwirausaha.
  • Menjadi tulang punggung keluarga (jika suami terkena PHK).
  • Menyangkal pemberitaan hoaks tentang Covid-19.
  • Membiasakan protokol kesehatan di rumah.
 
 
 
 
 
 
 
 
Peran Vital Perempuan dalam Keluarga Selama Pandemi
Erna Solberg, Sanna Marin, Katrín Jakobsdóttir dan Mette Frederiksen merupakan nama-nama perdana menteri perempuan yang masing-masing berasal dari Norwegia, Finlandia, Islandia dan Denmark.

Selain posisi yang sama dalam pemerintahan, apa lagi kesamaan yang dimiliki mereka berempat?

Jawaban:
Negara-negara tersebut memiliki tingkat infeksi Covid-19 yang jauh lebih rendah daripada negara-negara tetangga yang dipimpin oleh laki-laki, seperti Irlandia, Swedia, dan Inggris.
Negara-negara lain yang dijadikan contoh bagaimana menghadapi pandemi adalah:
Selandia Baru di bawah Jacinda Ardern,
Taiwan di bawah kepresidenan Tsai Ing-Wen, dan
Jerman di bawah Angela Merkel.

Ketiga negara tersebut juga dipimpin oleh perempuan.

Dengan demikian, tidak heran jika muncul anggapan bahwa para pemimpin perempuan dipandang lebih mampu menangani krisis dengan sangat baik.
 
 
 
 
 
 
 
 
Dengan alasan keadilan, media The Conversation “mengadu” negara-negara dengan profil, karakteristik sosio-demografis, dan ekonomi yang serupa secara head to head dalam penanganan Covid-19 pada kurun waktu yang sama (19 Mei 2020), dan hasilnya adalah:
HONG KONG
0
KASUS
SINGAPURA
0
KASUS
Hong Kong yang dipimpin oleh seorang perempuan mencatat 1.056 kasus dan 4 kematian. Singapura yang punya karakter ekonomi dan demografis sebanding namun dipimpin oleh laki-laki, mencatat 28.794 kasus dan 22 kematian.
NORWEGIA
0
KASUS
IRLANDIA
0
KASUS
Norwegia yang dipimpin oleh seorang perempuan memiliki 8.257 kasus dan 233 kematian, Irlandia yang dipimpin oleh seorang laki-laki mencatat 24.200 kasus dan 1.547 kematian.
TAIWAN
0
KASUS
KOREA SELATAN
0
KASUS
Taiwan yang dipimpin perempuan mencatat 440 kasus dan 7 kematian. Korea Selatan yang dipimpin laki-laki mencatat 11.078 kasus dan 263 kematian.
 
 
 
 
 
 
 
 
Berdasarkan data yang diolah dari Harvard Business Review, terdapat beberapa poin kompetensi yang lebih diungguli oleh perempuan dalam memimpin dibandingkan dengan laki-laki, di antaranya sebagai berikut.
Women Outscored Men on Most Leadership Competencies
According to an analysis of 360-degree reviews during the pandemic, women were rated higher on most competencies.
Female   Male 
COMPETENCIESRATINGS
Takes initiative60   50 
Learning agility59   50 
Impress and motivates others59   52 
Develops others58   49 
Builds relationship58   51 
Displays high integrity and honesty57   49 
Communicates powerfully and prolifically57   52 
Collaboration and teamwork56   50 
Champions change56   51 
Makes decisions56   49 
Innovates56   53 
Solves problems and analyzes issues56   53 
Customer and external focus56   54 
Drives for results55   48 
Values diversity55   45 
Establishes stretch goals55   50 
Develops strategic perspective55   54 
Technical or prefessional expertise53   55 
Takes risks52   51 
Source: Zenger Folkman, 2020
 
 
 
 
 
 
 
 
Untuk lebih memahami apa yang mendorong perbedaan dalam tingkat keterlibatan, pemimpin perempuan dianggap lebih mementingkan keterampilan interpersonal, seperti:
  • Menginspirasi dan memotivasi,
  • Berkomunikasi dengan kuat,
  • Kolaborasi/kerja tim, dan
  • Membangun hubungan.
 
 
 
 
 
 
 
 
Krisis pandemi Covid-19 membuat terungkapnya ketimpangan gender dalam sistem kesehatan dunia. Faktanya, hanya sedikit tenaga medis perempuan yang mendapatkan kesempatan sama dengan laki- laki untuk menduduki posisi kepemimpinan dalam sistem kesehatan.