Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Produksi massal plastik yang dimulai sejak enam dekade lalu, telah meningkat sangat cepat sehingga menghasilkan 8,3 miliar metrik ton, menurut Departemen Ekologi dan Evolusi Biologi University of Toronto dikutip dari phys.org. Sebagian besar adalah produk sekali pakai yang akhirnya menjadi sampah.
 
 
“Plastic” adalah kata yang awalnya berarti “lentur dan mudah dibentuk”.
 
 
Seiring berkembangnya zaman, “plastic” jadi nama untuk kategori bahan yang disebut polimer.
 
1869
 

Polimer sintetis pertama ditemukan oleh John Wesley Hyatt di New York, AS.
 
1907
 

Leo Baekeland menemukan Bakelite, plastik sintetis yang tidak mengandung molekul dari alam.
 
1935
 

Untuk melestarikan sumber daya alam yang langka, plastik nilon jadi barang subtitusi, ditemukan oleh Wallace Carothers sebagai sutra sintetis. Digunakan selama perang untuk parasut, tali, pelindung tubuh, pelapis helm, dan lainnya.
 
 
Selama Perang Dunia II, produksi plastik di Amerika Serikat meningkat 300%.
1960-an
 
Sampah plastik di lautan pertama kali diamati, sejak itu masyarakat makin sadar akan masalah lingkungan.
Karena kebanyakan plastik pada saat itu merupakan barang sekali pakai, maka plastik kebanyakan berakhir menjadi sampah. Sementara itu, sampah plastik sendiri butuh waktu lebih dari 400 tahun untuk terurai. Karenanya, sebagian besar sampah masih menumpuk di permukaan bumi dan dalam beberapa bentuk dan hanya sekitar 12% yang dibakar, menurut Susan Freinkel, penulis sains dalam bukunya berjudul Plastics: A Toxic Love Story tahun, 2011.
 
 
 
 
 
 
 
 
Data Perbandingan Sampah Organik dan Non-Organik (Plastik) di Indonesia
Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2017, Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah tiap tahunnya, komposisinya didominasi sampah organik yang mencapai 60% dari total sampah.
Organik
 
 60%
Plastik
 
 14%
Kertas
 
 9%
Karet
 
 5.5%
Logam
 
 4.3%
Kain
 
 3.5%
Kaca
 
 1.7%
Lainnya
 
 2.4%
Dari data di atas, terlihat bahwa meski sampah plastik tidak menjadi yang terbanyak di Indonesia, namun jenis sampah plastik menempati posisi kedua dengan persentase 14%. Kalau dihitung dari total 64 juta ton sampah per tahun, artinya sampah plastik menyumbang setidaknya 8,9 juta ton per tahunnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
Pemakaian Barang Berbahan Plastik di Indonesia
Barang berbahan plastik dan masyarakat Indonesia bisa jadi merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Dalam kehidupan sehari-hari saja, plastik masih dapat dengan mudah ditemukan di pasar tradisional, toko kelontong, bahkan rumah makan. Meski sudah ada upaya dari sejumlah mini market untuk mengurangi kantong plastik dengan kantong belanja yang dapat dipakai berkali-kali, plastik tetap tidak bisa dijauhkan dari masyarakat.

Menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dalam siaran pers pada Maret 2015, menilai industri petrokimia nasional (termasuk plastik) adalah indikator majunya sebuah negara.

Dua tahun setelahnya, yakni Februari 2017, Kemenperin menambahkan, industri kemasan plastik penting dalam rantai pasok sektor-sektor strategis seperti makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, dan elektronik.
 
 
 
 
 
 
 
 
Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Kemenperin
0
Perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik.
0
Perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik.
0
Kesanggupan produksi per tahun.
Meski demikian, menurut data Plastic Insight pada 2016, Indonesia termasuk negara dengan penggunaan plastik terendah di Asia, yakni 20 kilogram per kapita.

Sedangkan rata-rata konsumsi plastik dunia mencapai 45 kilogram per kapita,

Negara Asia lain seperti Jepang bahkan mengonsumsi plastik dengan rata-rata 108 kilogram per kapita.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya masalah Indonesia bukanlah produksi atau konsumsi plastik, melainkan penanganan sampahnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
Pemanfaatan Plastik Menjadi Energi
Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah mendorong pengembangan dan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya bioenergi, dengan menargetkan 23% energi terbarukan pada tahun 2025.
 
 
Menghasilkan energi terbarukan
 
 
Meningkatkan penyediaan, dan akses terhadap energi di masyarakat
 
 
Mengurangi emisi gas rumah kaca
 
 
Menurunkan pencemaran lingkungan
 
 
Meningkatkan perekonomian nasional
 
Meningkatkan perekonomian dan kesehatan masyarakat.
Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bekerja sama dengan EU-Indonesia Trade Cooperation Facility project (TCF) dan menerbitkan Buku Panduan Sampah menjadi Energi.

Kemajuan teknologi membuat sampah bisa diubah jadi sumber energi. Singapura, adalah contoh sukses penerapan insinerasi (pembakaran) sebagai salah satu proses chemical recycling yang bertujuan mengolah melenyapkan sampah tanpa memperburuk polusi udara.

Fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi juga akan dibangun di Jakarta, tepatnya di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter yang dicanangkan akan rampung tahun 2022.

Tak hanya di Jakarta, Jawa Barat melalui 5 kotanya juga akan membangun fasilitas yang berfokus pada sampah plastik. Lewat program “Plastic to Energy”, nantinya sampah plastik akan dikonversi menjadi bahan bakar pengganti batu bara.
 
 
 
 
 
 
 
 
Social Experiment: Kurangi Sampah Plastik
Pemprov DKI Jakarta lewat Pergub Nomor 142 Tahun 2019 melarang penggunaan kantong plastik bagi pelaku usaha, UMKM, dan pedagang pasar di Jakarta. Nyatanya, menurut survei Katadata, UMKM yang ada di pasar tradisional salah satu yang terdampak.

Para pedagang keberatan jika harus menggunakan pengganti kantong plastik seperti kantong cassava, spunbond, kantong kertas, kain, atau polyester karena biayanya terlalu mahal.

Ini (penggunaan kantong selain plastik) ngerugiin kita banget. Soalnya daging kan basah darah, kantong yang kain itu ngerembes.
Membeli spunbond menggunakan biaya sendiri, Awang merogoh kocek sebesar Rp2.200/kantong. Sedangkan kantong plastik Rp14.600 berisi 40 lembar.
 
 
 
 
 
 
 
 
Solusi Pengolahan Sampah Plastik untuk UMKM
Ada salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah plastik, yakni menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Prinsip ini menekankan proses pengelolaan plastik setelah konsumsi yang cocok untuk pelaku UMKM.

Ekonomi sirkular adalah alternatif untuk ekonomi linier tradisional dengan menjaga sumber daya dapat dimanfaatkan, meregenerasi, dan menggali nilai maksimum penggunaan produk dan bahan selama mungkin pada setiap akhir umur layanan.

Ekonomi sirkular membatasi timbunan sampah sekecil mungkin. Bagaimana sampah tidak terbuang, namun dapat dipakai dan didaur ulang kembali.”
- Menaker Ida Fauziyah, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
 
 
 
 
 
 
 
 
Konversi Beban Produksi:
Kantong Plastik vs Kantong Subtitusi
Dilansir dari riset oleh Katadata Insight Center (KIC), kantong substitusi yang beredar di pasaran masih lebih mahal dari kantong plastik.
Dari 1.162 pelaku UMKM makanan dan minuman di DKI Jakarta:
0
Masih menggunakan kantong plastik
0
Bilang harga jadi pertimbangan utama masih menggunakan kantong plastik.
 
 
 
 
 
 
 
 
Jika Harus Cari Subtitusi, Apa Saja Preferensi Subtitusi Plastik bagi Pedagang?
Kantong Organik
 
 65%
Paperbag
 
 48,1%
Polypropylene
 
 34,9%
Kardus
 
 24,8%
Anyaman Bambu
 
 10,2%
Karung Goni
 
 8,2%
Lainnya
 
 4,8%
 
 
 
 
 
 
 
 
Simulasi dan Prediksi Jika Menggunakan Subtitusi Plastik dalam Sebulan
Catatan: Dasar asumsi adalah data dari survei KIC yang menyebutkan bahwa rata-rata 1.800 lembar kantong digunakan oleh UMKM dalam sebulan. Jika memakai kantong plastik dengan asumsi harga Rp100 per lembarnya, artinya pedagang mengeluarkan Rp180 ribu per bulan.

Namun bagaimana jika menggunakan subtitusi kantong plastik?
Paperbag atau Kantong Kertas
• Harga satuan: Rp.1.000 (10 kali lipat harga kantong plastik)
• Jika dikalikan 1.800, maka pedagang menghabiskan Rp 1,8 Juta untuk belanja kardus per bulan.
Kardus
• Harga satuan: Rp.1.400 (14 kali lipat harga kantong plastik)
• Jika dikalikan 1.800, maka pedagang menghabiskan Rp 2,5 Juta untuk belanja kardus per bulan.
Tas Berbahan Spunbond
• Harga satuan: Rp.2.200 (22 kali lipat harga kantong plastik)
• Jika dikalikan 1.800, maka pedagang menghabiskan Rp 3,9 Juta untuk belanja kardus per bulan.
 
 
 
 
 
 
 
 
Jika Harus Cari Subtitusi, Apa Saja Preferensi Subtitusi Plastik bagi Pedagang?
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat khususnya Indonesia masih sangat bergantung pada produk berbahan plastik dan belum bisa menghindari pemakaian plastik. Namun seperti yang telah disebutkan pada paragraf awal, bahwa masalah utamanya bukan terletak pada produksi dan konsumsi plastik, namun sebijak apa masyarakat mengelola sampah plastik sehingga tidak merugikan lingkungan.

Sebagai contoh, kemasan plastik membantu pengamanan distribusi jarak jauh makanan. Selain itu, plastik juga bisa meminimalisir limbah makanan dengan menjaga makanan agar segar lebih lama, dan menghalangi masuknya bakteri. Misal, 1,5 gram plastik pembungkus timun dapat memperpanjang umur simpannya dari tiga menjadi 14 hari.

Dengan demikian, masalah ketergantungan masyarakat pada plastik sekali pakai, tidak cukup hanya mempertimbangkan hambatan, manfaat dan perilaku konsumen saja.

Diperlukan pula pendekatan multidimensional yang menggabungkan pendidikan publik dengan praktik di kalangan konsumen tentang pengelolaan sampah plastik. Jika secara konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin kebiasaan itu akan berubah menjadi kebijakan yang dapat dipatuhi oleh semua kalangan: Baik itu digunakan kembali, atau diubah menjadi energi mengingat adanya fasilitas teknologi di luar negeri dan tengah berkembang pula saat ini di Indonesia.

Selain itu, Indonesia sendiri juga memiliki manajemen pengelolaan sampah secara efektif dan efisien bernama Jakarta Recycle Center (JRC). Pengelolaan ini dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, dengan mengadaptasi konsep pilah sampah yang ada di Osaki, Jepang.
Sistemnya:

Sampah diangkut secara terpilah dari rumah warga


Dibawa ke TPS 3R

 
Hasilnya:

Sampah organik


Menjadi kompos


Sampah anorganik


Dibersihkan sesuai jenis dan berpotensi didaur ulang jadi sumber daya baru

 
 
 
 
 
 
 
 
DLH Jakarta bekerja sama dengan Chandra Asri dalam menyediakan 36.000 lembar kantong plastik berbahan 100% daur ulang. Kantong plastik yang terpakai akan didaur ulang oleh Indonesian Plastic Recyclers (IPR) untuk digunakan kembali. Selain itu, disediakan pula 200 poster edukasi pemilahan sampah dan jadwal pengangkutan sampah gratis.