Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Kapan Puncak Musim Hujan 2020? Ini Penjelasan BMKG

Perbincangan soal musim hujan sempat jadi trending topic di Twitter. Ada lebih 30 ribu postingan yang menanyakan kapan puncak musim hujan 2020 terjadi?

Indra Dahfaldi  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Perbincangan soal musim hujan sempat jadi trending topic di Twitter. Ada lebih 30 ribu postingan yang menanyakan kapan puncak musim hujan 2020 terjadi? Informasi masih ini menjadi penting diketahui, agar orang-orang bisa bersiap-siap dengan perlengkapan musim hujannya.

"Sedia payung sebelum hujan," pepatah yang sangat familiar kita dengar yang menunjukan persiapan seseorang dalam menghadapi sesuatu. Tetapi tetap saja walau pun musim hujan sudah tiba, masih saja ada orang yang gak persiapan soal hal ini. Contohnya berteduh di fly over yang efeknya membuat macet. Padahal seharusnya sudah bisa persiapan di rumah dengan berbekal dengan jas hujan

Dilansir Kompas.com. Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Agie Wandala Putra menjelaskan, dalam menentukan apakah suatu wilayah sudah masuk musim hujan atau belum, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan. Pertama, hanya menggunakan data angin, yaitu melalui perubahan mendadak angin baratan yang dibarengi mulainya periode musim tertentu.

Kedua, menggunakan data hujan saja, yakni jika hujan harian secara berurutan pada sejumlah tempat dengan akumulasi tertentu.

Ketiga, menggunakan kombinasi data hujan dan ditambahkan keberadaan angin baratan sejumlah tempat dengan akumulasi tertentu. Keempat, menggunakan kombinasi angin baratan dan outgoing long wave radiation (OLR). Dan yang terakhir, menggunakan tutupan awan dengan jumlah tutupan awan tinggi lebih dari kriteria.

Dari data yang rilis BMKG awal musim hujan pada 2020-2021 di 342 Zona Musim (ZOM) diprakirakan  mulai bulan Oktober 2020 sebanyak 119 ZOM , November 2020 sebanyak 131 ZOM, dan Desember 2020 sebanyak 56 ZOM.

Sedangkan beberapa daerah lainnya awal musim hujan terjadi pada April 2020 sebanyak 4 ZOM, Mei 2020 sebanyak 1 ZOM, Juli 2020 sebanyak 10 ZOM, Agustus 2020 sebanyak 4 ZOM, September 2020 sebanyak 6 ZOM, Maret 2021 sebanyak 8 ZOM, April 2021 sebanyak 2 ZOM dan Mei 2021 sebanyak 1 ZOM.

Jika dibandingkan terhadap Rata-Ratanya selama 30 tahun (1981-2010) di 342 Zona Musim, Awal Musim Hujan 2020/2021, sebagian besar daerah yaitu 154 ZOM diprakirakan mundur jika dibandingkan dengan rata-ratanya dan 120 ZOM, diprakirakan sama terhadap Rata-Ratanya. Sedangkan yang diprakirakan maju terhadap rata-rata sebanyak 68 ZOM.

Sifat Hujan selama Musim Hujan 2020-2021 di sebagian besar daerah yaitu 243 ZOM diprakirakan Normal dan 94 ZOM diprakirakan Atas Normal. Sedangkan Bawah Normal sebanyak 5 ZOM.

Tonton juga:

Lagi ngetren ujan uang nih kayaknya. Simak berbagai opini masyarakat dan berikan opinimu disini: http://opini.id

Puncak Musim Hujan 2020/2021 di 342 Zona Musim (ZOM) diprakirakan umumnya terjadi pada bulan Januari 2021 sebanyak 168 ZOM dan bulan Februari 2021 sebanyak 80 ZOM. Sedangkan beberapa daerah lainnya puncak Musim Hujan terjadi pada bulan Mei 2020 sebanyak 1 ZOM, Oktober 2020 sebanyak 7 ZOM, November 2020 sebanyak 27 ZOM, Desember 2020 sebanyak 24 ZOM, Maret 2021 sebanyak 9 ZOM , April 2021 sebanyak 5 ZOM, Mei 2021 sebanyak 13 ZOM, Juni 2021 sebanyak 5 ZOM dan Juli 2021 sebanyak 3 ZOM.

Fenomena yang Mempengaruhi Iklim  di Indonesia

Foto udara awan hitam yang menyelimuti Kota Bandung terlihat di Cibiru, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (5/10/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dari total 342 Zona Musim (Zom) di Indonesia, sebanyak 34,8 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada bulan Oktober 2020 yaitu di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pras.
Foto udara awan hitam yang menyelimuti Kota Bandung terlihat di Cibiru, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (5/10/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dari total 342 Zona Musim (Zom) di Indonesia, sebanyak 34,8 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada bulan Oktober 2020 yaitu di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/pras.

1. El Nino Southern Oscillation (ENSO)

El Nino Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Ekuator Pasifik Tengah dimana jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Nino.

Sebaliknya, jika anomali suhu permukaan lautnya negatif disebut La Nina. Pengaruh El Nino terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia. El Nino berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

Namun bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Nino tidak signikan mempengaruhi curah hujan di Indonesia. Sedangkan La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Pengaruh El Nino dan La Nina juga tergantung musim.

Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Nino / La Nina tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.

Sejak bulan Juli tahun 2020, kondisi anomali suhu permukaan laut di Ekuator Pasifik Tengah (region Nino3.4) berada pada kondisi Normal dengan indeksnya bernilai -0.11, yang mengindikasikan ENSO berada pada status netral.

Secara umum berdasarkan model-model prediksi ENSO dari BMKG dan juga institusi internasional lain baik model dinamis maupun statistik memprakirakan ENSO akan berada pada kategori netral hingga La Niña. Kondisi Netral akan terus berlangsung hingga September dan diprakirakan berpotensi terjadi La Niña (dengan peluang sekitar 60%) mulai Oktober 2020 hingga periode NDJ (NovemberDesember 2020 - Januari 2021).

Analisis data historis menunjukkan bahwa kondisi La Niña pada saat musim hujan memiliki dampak yang bervariasi yaitu mendekati kondisi normalnya hingga meningkatkan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Indeks Osilasi Selatan (SOI) sejak Mei sampai dengan Juli 2020 umumnya bervariasi positif dan negatif namun masih dalam kisaran normalnya, dengan indeks rata-rata selama 90 hari terakhir sebesar -0.15. Kondisi demikian memberikan indikasi bahwa tidak terdapat anomali sirkulasi angin passat yang mempengaruhi iklim di wilayah Indonesia.

2. Indian Ocean Dipole (IOD)

 Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi laut–atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO). Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat. Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

Pemantauan kondisi IOD (Indian Ocean Dipole) pada bulan Juli 2020 menunjukkan fenomena Dipole Mode dalam kondisi Netral dengan nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar 0.27. Prediksi BMKG, kondisi IOD diprakirakan akan tetap netral pada periode Agustus hingga November 2020 kemudian bulan Desember 2020 berpotensi terjadi DM (Dipole Mode) Negatif.

Meskipun institusi internasional seperti NASA menyatakan potensi terjadi DM (Dipole Mode) Negatif periode Agustus hingga Desember, namun sebagian besar institusi internasional lainnya seperti BoM (Australia), JAMSTEC (Jepang), dan luaran model NMME (North American Multi Model Ensemble) menyatakan Dipole Mode dalam kondisi netral.

Hal ini mengindikasikan bahwa pada awal Musim Hujan 2020/2021, kemungkinan besar tidak terjadi anomali perpindahan uap air antara wilayah Indonesia dengan Samudera Hindia.

3. Sirkulasi Monsun Asia–Australia

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun. Angin monsun didefinisikan sebagai sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

Hingga akhir Juli 2020 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya memiliki pola yang mirip dengan normalnya. Sirkulasi angin pada lapisan 850mb menunjukkan bahwa aliran angin monsun Australia masih mendominasi seluruh wilayah Indonesia. Prediksi nilai indeks monsun Australia menunjukkan bahwa aliran monsun Australia akan tetap aktif hingga November 2020 dengan intensitas relatif sama dengan klimatologisnya.

Sedangkan monsun Asia diprakirakan akan mulai aktif pada November 2020, khususnya di wilayah bagian utara equator, dengan intensitas yang sedikit lebih kuat dibanding klimatologisnya. Penguatan monsun Asia berpotensi meningkatkan peluang pembentukan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian utara khatulistiwa.

4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ ITCZ)

 ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa, yang menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan hujan.

Posisi ITCZ pada akhir Juli 2020 masih berada di utara garis ekuator dan akan bergerak ke arah selatan menuju garis ekuator mengikuti pergerakan tahunannya. Secara umum, berdasarkan prediksi angin periode Agustus hingga November 2020 menunjukkan ITCZ akan berada pada posisi sesuai dengan normalnya.

Namun pada Desember 2020 hingga Januari 2021, angin baratan diprediksi telah mendominasi hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan zona ITCZ sedikit lebih ke utara dibandingkan dengan normalnya. Hal ini diprediksi dapat berimpilkasi terhadap awal musim dan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa, Bali Nusa Tenggara yang berpotensi mundur dibandingkan kondisi normalnya

5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. Jika suhu permukaan laut dingin maka potensi kandungan uap air di atmosfer sedikit, sebaliknya panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan banyaknya uap air di atmosfer.

Pada bulan Juli 2020, kondisi anomali suhu permukaan laut di perairan Indonesia pada umumnya berada pada kondisi normal dengan anomali suhu berkisar –0.5°C s/d +2°C. Daerah dengan suhu permukaan laut yang relatif lebih hangat berada di Laut Maluku bagian utara hingga perairan utara Papua.

Suhu permukaan laut di Indonesia menjelang dan pada awal Musim Hujan 2020/2021 diprakirakan sebagai berikut :

Pada bulan Agustus - Oktober 2020, suhu permukaan laut di perairan Indonesia diprakirakan didominasi anomali positif, kemudian November 2020 mulai meluruh menuju kondisi normal dari sebelah utara Papua hingga seluruh wilayah perairan Indonesia bagian utara.

Sedangkan wilayah perairan selatan Jawa, perairan Maluku bagian selatan dan Papua bagian selatan umumnya diprakirakan akan lebih hangat dengan anomali suhu permukaan laut berkisar +0.5 °C hingga +1°C. 2) Pada bulan Desember 2020 - Januari 2021, suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia diprakirakan akan berada dalam kondisi normal.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation