Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#sosial

Viral Antre Panjang di Pengadilan Agama buat Cerai, Apa Sebabnya?

Belakangan ini beredar video yang viral di jagat maya, yang memperlihatkan antrean panjang warga di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung. Apa penyebabnya?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Belakangan ini beredar video yang viral di jagat maya, yang memperlihatkan antrean panjang warga di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung. Usai dikonfirmasi, pihak Pengadilan Agama (PA) Soreang membenarkan video unggahan akun Instagram dengan username @bandung.update tersebut merupakan antrean warga yang ingin menggugat cerai.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bandung'ers, jangan terkecoh yaa, ini bukan antrian penerima bantuan sosial, tapi antrian orang-orang yang mau cerai di Pengadilan Agama Soreang...😱😳🥺⁣ ⁣ Beneran nih jadinya ya, kalau tingkat perceraian di Bandung sangat tinggi? Ada yang bisa kasih komen realitanya gimana? Mungkin kalian pernah dapet cerita seputar perceraian dari temen kalian misalnya atau dari keluarga sendiri. Sebab, video ini juga dikasih ke Mimin dari seseorang yang lagi nganter saudaranya ke sana. ⁣⁣ ⁣Follow @bandung.update, update informasi di Bandung Raya dan sekitarnya!⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣Sumber : twitter @StefhanieQueen⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣#bandungupdate

Baca Selengkapnya

Adalah Ahmad Sadikin, Panitera Muda Gugatan PA Soreang yang mengonfirmasi hal tersebut. Lebih lanjut lagi, Ahmad menyatakan bahwa belakangan ini memang banyak masyarakat yang datang ke Pengadilan Agama dengan tujuan gugatan cerai. Jumlah gugatannya dapat mencapai 150 dalam sehari.

Sementara antrean yang viral tersebut, disebabkan oleh tidak cukupnya ruangan sidang menampung banyaknya masyarakat yang mengajukan gugatan.

Lonjakan tertinggi angka perceraian di Kabupaten Bandung, menurut Ahmad, terjadi pada bulan Maret hingga Juni 2020. Saking tingginya, PA Soreang bahkan sempat ditutup sementara selama dua minggu pada bulan Mei karena kewalahan. PA kemudian dibuka kembali dengan pembatasan sebanyak sepuluh gugatan per harinya.

Juni menjadi bulan dengan kasus perceraian paling tinggi dengan angka mencapai 1.012 gugatan. Padahal, gugatan pada bulan-bulan sebelumnya masih di angka 700 hingga 800 gugatan. Sementara bulan Agustus ini, total hingga Senin (24/8) sudah mencapai 592 gugatan dan masih bisa bertambah.

Lonjakan serentak di beberapa daerah lain

Fenomena ini gak cuma terjadi di Kabupaten Bandung. Masih di daerah Jawa Barat, Kabupaten Cianjur adalah daerah lain yang terjadi lonjakan angka perceraian.

Gak main-main, lonjakannya juga dirasa sangat signifikan. Berdasarkan data PA Cianjur, pada bulan Juni lalu, jumlah perceraian berada di angka 788 gugatan. Naik hampir delapan kali lipat dari bulan sebelumnya (Mei) dengan total 99 gugatan.

Hal yang menjadi perhatian adalah, jumlah kasus perceraian gugat lebih tinggi dibandingkan cerai talak. Kemudian, perceraian yang terjadi karena istri yang menggugat suami juga lima kali lebih banyak dibanding jumlah perkara yang diterima oleh PA Cianjur.

“Faktor ekonomi pemicu utama tingginya angka perceraian ”

- Humas Pengadilan Agama Cianjur Asep

Asep selaku Humas PA Cianjur menyatakan dalam keterangannya kepada Kompas, salah satu pemicu utama tingginya angka perceraian akhir-akhir ini adalah faktor ekonomi dalam keluarga. Pandemi yang banyak memakan korban PHK dan mengerdilkan penghasilan suami membuat istri merasa nafkah yang diberi tak lagi cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan tak sedikit kasus yang menyebutkan bahwa suami tidak menafkahi istrinya lagi.

Istri yang merasa penghasilan suami menurun atau bahkan tidak diberi nafkah sama sekali, terkadang memutuskan untuk bekerja. Di sinilah bibit perceraian mulai tumbuh. Skenario selanjutnya bisa ada dua alternatif: Suami tidak lagi merasa berfungsi sebagai sosok pencari nafkah sehingga muncul kecemburuan, atau suami menjadi malas bekerja dan memanfaatkan istrinya, sehingga pertengkaran menjadi sulit terhindarkan.

Selain kemiskinan, ada pula faktor moralitas yang menjadi alasan anomali sebuah perceraian. Asep menjelaskan, ada juga kasus di mana suami yang merasa kelebihan harta, cenderung berisiko berselingkuh sehingga perceraian terjadi.

KDRT Jadi Penyebab Perceraian di Aceh

Lain di Cianjur, lain pula di Provinsi Aceh. Meski kasus perceraian sama-sama melonjak, namun penyebab utamanya berbeda. Kasus perceraian di Provinsi Aceh melonjak mulai bulan Februari lalu.

Hingga bulan Juni, berdasarkan data Mahkamah Syariah Provinsi Aceh, total perceraian mencapai 2.397 gugatan. Jika di Cianjur penyebab utamanya adalah masalah ekonomi, di Aceh salah satu faktor utamanya adalah pertengkaran antara suami dan istri yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Daerah yang mencatat angka perceraian terbanyak adalah Aceh Utara dengan 280 kasus. Disusul oleh Bireuen dengan 200 kasus, Aceh Timur 167 kasus, dan Aceh Tamiang sebanyak 152 kasus. Atas fenomena ini, masyarakat diimbau untuk mencoba mediasi sebelum memutuskan untuk melakukan gugatan cerai.

Perceraian di masa pandemi

Sudah diprediksi sebelumnya, tingkat perceraian saat pandemi akan melonjak setelah pengadilan beroperasi kembali. Beberapa pasangan suami istri (pasutri) yang selama pandemi terjebak di rumah kesulitan untuk berinteraksi dan terlibat satu sama lain dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Mereka—para pasutri itu—dipaksa terbiasa mengatasi masalah yang sebenarnya bisa mereka hindari kalau seandainya pandemi COVID-19 gak pernah ada. Tapi kenyataannya beberapa bulan ini, masalah yang seharusnya gak jadi masalah keluarga harus bercampur dengan rutinitas kayak bekerja dan bersosialisasi dengan segala keterbatasannya.

Tekanan keseluruhan dari pandemi—finansial, emosional, dan fisik—memaksa beberapa orang buat ngasih perhatian lebih ke pasangan mereka, bahkan lebih dari yang udah mereka lakuin sebelumnya. Semua jadi kompleks saat tegangan jadi tinggi, tapi gak ada tempat untuk pergi.

Menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam jarak dekat bisa ningkatin kemungkinan perceraian, dan Indonesia bukanlah negara pertama yang merasakannya.

Di China, menurut laporan Bloomberg, terjadi lonjakan perceraian usai lockdown berminggu-minggu sejak bulan Maret. Kota Xian dan Dazhou, Provinsi Sichuan mengalami jumlah gugatan perceraian yang mencapai rekor tertinggi pada awal Maret. Sama seperti kejadian di Kabupaten Bandung, hal ini juga menyebabkan antrean panjang di kantor-kantor pemerintah.

Ada hal menarik yang didapatkan dari sebuah penelitian dari University of Washington. Penelitian itu menyebutkan bahwa perceraian di AS biasanya meningkat setelah bulan-bulan liburan musim panas, ketika pasangan justru ngabisin waktu yang lebih lama bersama-sama. Itu sebabnya Januari disebut sebagai “bulan cerai”.

Dari penelitian itu bisa kita simpulkan ada hal yang hampir serupa dengan situasi pasca-pandemi, di mana pasangan ngabisin waktu lebih lama dalam satu tempat, yakni rumah.

Hal ini bukan berarti kekacauan gak bakal menimpa pasangan kekasih atau tunangan yang belum tinggal serumah. Pasangan yang belum tinggal bersama juga mungkin terpaksa mengevaluasi kembali gimana rencana pernikahan, yang bisa jadi pemicu stres atau bahkan bisa menyebabkan putus.

Tapi agaknya kurang bijak kalau kita nyalahin pandemi sepenuhnya atas peningkatan tingkat perceraian dan masalah hubungan. Dilansir dari Spectrum News, ahli saraf asal New York bilang banyak kliennya yang udah nyadar kalau mereka punya masalah dalam pernikahan mereka sebelum pandemi. Nah, di momen pandemi ini justru keadaan makin buruk dan beberapa manfaatin ini jadi waktu yang tepat buat pisah dengan alasan berkurangnya komitmen, ketidakcocokan, perselingkuhan, atau konflik yang terus-menerus.

Intinya, emang sih pandemi COVID-19 ini bisa menjadi alasan beberapa pasangan “nyerah” dalam suatu hubungan baik itu pernikahan, pertunangan atau sekadar pacaran. Tapi pandemi jelas gak jadi faktor tunggal alias bukan satu-satunya penyebab yang memengaruhi hubungan suatu pasangan.

Pasangan mempelai saat menyapa tamu pada acara resepsi pernikahan secara
Pasangan mempelai saat menyapa tamu pada acara resepsi pernikahan secara "drive thru". ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Pasangan Banyak Menikah Saat Pandemi

Dari sekian banyak kemungkinan buat pisah, masih banyak kok pasangan yang malah memutuskan buat menikah semasa pandemi ini. Hal ini tentunya dengan mempertimbangkan berbagai macam alasan, biaya yang murah adalah salah satunya.

Ketika menikah di masa pandemi, pengantin gak perlu terlalu banyak ngabisin uang buat pesta pernikahan dan resepsi. Hal ini didukung juga sama kebijakan pemerintah yang masih melarang acara yang mengundang keramaian.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation