Opini.id
Pop Culture
Human Interest
 
LEBIH DEKAT

Orang Cerita Cuma Mau Didengar, Bukan Solusi

Interview Dengan Rhaka Ghanisatria & Adam Alfares Abednego
Ketika orang punya masalah cuma ingin didengar aja
— Rhaka Ghanisatria
Saya merasa kagum setelah menonton konten-konten Menjadi Manusia yang menceritakan kisah hidup orang dari perspektif orang itu sendiri. Masalah hidup mereka biasa saja, seperti manusia pada umumnya yang tak luput dari masalah. Namun, berani menceritakan masalah hidup berat yang mereka hadapi itu membuat saya kagum. Bercerita masalah yang biasa saya hadapi sehari-hari saja malas, kayanya gak penting deh orang harus tahu.

Tapi Menjadi Manusia(MM) malah menyediakan platform orang untuk bercerita masalah hidup mereka. Buat MM mencurahkan masalah yang kita hadapi adalah penting, gak perlu malu untuk merasa sedih, terbebani, atau merasa lagi berada di titik terendah hidup. Kita manusia biasa yang punya batas untuk menerima beban. Jika terus ditumpuk akan mengganggu kesehatan mental kita sendiri.

MM sangat concern dengan masalah hidup anak muda sekarang. Buat mereka anak muda sekarang terbebani dengan tuntutan media sosial yang punya standar tersendiri mendefinisikan kesuksesan hidup. Ini menjadi salah satu masalah yang bisa mengganggu kesehatan mental anak muda.

Saya dan Edo ingin tahu lebih jauh gimana sih perspektif Rhaka Ghanisatria, Co Founder and The Brain Menjadi Manusia dan Adam Alfares Abednego, Co Founder dan The Heart Menjadi Manusia tentang kesehatan mental dan gangguen mental. Menurut mereka itu berbeda loh.
THE INTERVIEW
 
 
Mas Rhaka apa kabar? Lagi sibuk ya? Kayanya abis ngadain acara, ini acara apa sih?
Rhaka Ghanisatria
Kita bikin namanya Support Group System, kalo di luar (negeri) cukup common dimana orang cerita sama orang lain, strangers. Kalo di film itu ada alcoholic, dengan penyintas kanker, di Indonesia satu hal yang belum banyak orang coba, awalnya kita skeptical juga siapa sih yang mau datang, ternyata sangat besar. Support group paling mudah orang untuk bercerita, mereka lebih mudah cerita sama orang yang baru mereka kenal membahas tentang apapun. Dulu kita adain dua minggu sekali dan sempat jeda lumayan lama. Cuma di tahun ini kita pengen dua minggu sekali rutin ada
Kenapa ada support system ini? Fokusnya apakah di masalah mental aja?
Rhaka Ghanisatria
Gak, masalah mental aja, tapi masalah hidup yaa. Semua orang punya masalahnya masing-masing, semua orang punya problem masing-masing. Kadang bingung aja, terus kalo saya mau cerita harus ke siapa? Cerita kemana?

Kita menyediakan ini, Menjadi Manusia sendiri ingin menjadi wadah untuk mendengarkan banyak cerita orang. Kita ingin wadah untuk kesehatan mental dengan cara mendengar dan juga berbagi dengan orang lain. Masalah hidup seseorang kan berpengaruh pada masalah mentalnya juga. Jadi mostly masalah hidup pernah putus cinta, masalah sama keluarganya. Ketika lu punya masalah masalah, lu belum tentu paling berat. Ketika mendengar cerita orang, mereka cerita ada yang di sexual harassed sama keluarganya, ada yang aborsi, kaya hal-hal yang menurut kita gak dengar secara langsung. Di sini kita memberikan kesempatan untuk orang bisa mendengar juga.
Tapi kenapa support system ini penting banget? Kan ketika ada media sosial yang kita semua bisa bercerita seperti Twitter yang bisa pakai thread.
Rhaka Ghanisatria
Menjadi penting karena ada tendensi ketika kita cerita sama teman kita akan dihakimi. Akan tetapi jika kita cerita dengan orang baru belum tentu saya akan ketemu dia lagi di kemudian hari. Jadi itu membuat orang merasa tidak ada tembok untuk orang bercerita dengan orang lain. Dan mungkin ketika kita realizing bukan cuma saya yang punya masalah.

Ada orang yang punya masalah jauh lebih berat sama dengan saya. Kan ketika orang punya masalah cuma ingin didengar aja. Tanpa memberikan solusi apapun, cerita aja. Kadang kalo misalkan mau cerita ya itu tadi, orang gak butuh solusi lah. Mereka cuma gak punya shoulder to lean on, ear to listen. Nah, kita mau memberikan itu ke anak muda untuk bercerita apapun.
Jadi kalo lu sendiri setuju masalah yang dihadapi anak muda sekarang itu berpotensi ke gangguan mental?
Rhaka Ghanisatria
Mungkin orang sering misconception tentang mental health dan mental illness. Apalagi di era sekarang everyone is talking about mental health. It is a trending things. Tapi itu tuh, ya mas punya kesehatan mental. Maksudnya kesehatan mental itu kondisi, kaya kesehatan fisik aja. Cuma orang suka misconception bahwa mental health itu penyakit, bukan mental health itu kondisi. Dan semua orang punya kondisi masing-masing. Saya punya mental illness. Saya sakit ibaratnya saya punya mental illness saya batuk, tapi mas punya kondisi mental health yang gak separah saya. Tapi ada momen mungkin mas sedih, nah itu mungkin akan berpengaruh ke kesehatan mental mas.

Oke sekarang kesehatan mental (kesadarannya) semakin naik, semakin naik. Tapi orang misleading, kedua misconception. Kemudian itu menjadikan ini sebagai sebuah tren. Oke gue punya bipolar. Gue punya OCD. Yaa, gue keren. Orang yang sakit gak mau menjadi sakit. Nah, di Menjadi Manusia kalo lu gak baik-baik saja, yaa gak ada salahnya untuk ke psikolog ke psikiater dan jangan self diagnose.
Rhaka Ghanisatria
Sebenarnya kan yang lebih berbahaya ketika kita self diagnose. Jadi tren ini menurut saya seperti dua mata pisau yang sebenarnya sama-sama bahaya. Yang pertama kalau belum terlalu aware jadi misleading, yang kedua ketika udah aware jadi self diagnose. PR-nya gimana caranya ketika kita berbicara kesehatan mental ini udah mulai terbuka. Tapi yang ingin kita sampaikan its ok kok. Untuk pergi ke psikolog, ke psikiater. It’s ok kok kalo lu gak baik-baik saja.
Sebenarnya menarik ketika ngomongin tren punya masalah mental di-posting di sosial media dan menjadi self diagnose. Kenapa sih bisa kaya gitu? Gimana menurut Mas Rhaka?
Rhaka Ghanisatria
Saya gak tau sih. Mungkin lebih ke kayak gini kali ya. Itu something yang trending. Orang suka kaya ngomongin sesuatu yang lagi tren aja. Misalnya semua orang lagi pake Yeezy, ketika Yeezy-nya berubah menjadi penyakit mental becoming a wave, mungkin orang melihatnya seperti itu. Ketika gue punya mental illness gue jadi keren.

Cuma harus dipahami juga ada orang punya mental illness didiagnosa oleh psikolog dan psikiater membagikan ceritanya untuk ngerangkul orang lain yang punya masalah yang sama sama mereka dan bukan untuk keren-kerenan. Itu salah satu hal yang coba kita cegah. Jangan sampai karena just like riding a wave, terus yang punya masalah beneran jadi ke ganggu. Kan yang jadi ketakutan kan itu. Saya un gak bisa mendiagnosa orang, saya bukan psikolog atau psikiater, saya gak bisa mendiagnosa kamu punya penyakit.
Ada tendensi ketika kita cerita sama teman kita akan dihakimi
Nah balik lagi soal masalah kecemasan masalah anak muda sekarang. Apa aja sih masalah mereka yang paling umum?
Rhaka Ghanisatria
Mungkin comparing others yaa. Satu udah nikah satu belum. Terus menganggap hidup adalah kompetisi dan ketika belum mencapai itu ya jadi satu masalah di hidup mereka. Umur segini gaji udah segini, mereka udah kok saya belum. Jadi suatu tolok ukur yang menurut saya, kayaknya ini gak kayak gini deh. Dan itu menjadi suatu tendensi membuat mereka kayaknya itu masalah, kayak ngebebanin. Balik lagi soal cinta, karir, dan diri sendiri sih. Tapi ketika ngomongin masalah diri sendiri balik lagi aspeknya kan banyak. Jadi mostly itu sih, cinta, karir dan diri sendiri.
Media sosial ikut membesarkan masalah itu gak?
Rhaka Ghanisatria
Iya dong. Sekarang kita melihat bahwa ada orang yang udah reach turn level tertentu kita menjadikan itu comparison, padahal gak. Dan ketika kita menjadikan itu comparison ada tendensi kita merasa kecil dengan diri kita. Jadi ya itu sih.
Soal isu mental health jadi tren. Banyak sekarang upaya untuk melakukan bangun kesadaran. Kayak Mas Rhaka bikin support system. Nah, terus campaign-campaign masalah mental udah banyak, mulai dari influencer, juga brand. Sebenarnya kenyataannya di akar rumput udah dipahami secara utuh belum sih?
Rhaka Ghanisatria
Ketakutan saya ketika orang membicarakan isu kesehatan mental, just for the sake of riding the wave. Wave-nya lagi ok nih. Lets talk about mental health and do something about this. Tapi kan itu salah satu hal yang kita gak bisa proyeksikan dengan baik. Apakah udah based on data, based on research saat melakukan itu. Cuma ketika saya gak tau banyak orang kayak gimana, di Menjadi Manusia saya tau gak capable akan hal itu ya saya riset. Saya gak punya ilmunya saya cari tahu ke orang yang punya ilmunya, saya ke psikolog, ke psikiater yang memang mendalami dan belajar sama ilmu ini. Saya juga gak paham tapi saya berusaha nanya ke orang yang lebih ahli dari saya.
Soal animo itu, harusnya jadi good point dong?
Rhaka Ghanisatria
Harusnya jadi good point kalo misalnya tujuannya tidak untuk riding the wave tapi untuk meningkatkan awareness. Itu dua hal yang berbeda. Ada ketika gue pengen mental health jadi sebuah isu yang trending, yaudah omongin. Tapi kalau itu menjadi tujuan sebenarnya gak masalah juga, tapi alangkah lebih baik kalo misalnya yang dijadikan tujuan dasarnya adalah mari naikkan awareness orang tentang kesehatan mental bukan cuma ikut-ikutan tren aja.
Adam Alfares Abednego
Kalo untuk ngomongin tadi isu awareness yang kayak ikut-ikutan tren dan segala macam. Yang perlu dipahami adalah ketika awareness makin tinggi, yang kita perlu kita pahami adalah gak cuma hal-hal baik aja yang akan datang. Kita gak bisa memungkiri hal-hal itu salah satuya ketika awareness tinggi tentang mental heatlh ada orang yang self diagnose. Ada orang-orang yang ingin ikutan tren mengaku kalau punya penyakit mental itu keren. Yang perlu dipahami adalah ketika semakin tingginya awareness itu akan terjadi hal-hal kayak gini juga. Tapi yang penting kita pahami ini adalah sebuah fase bahwa ketika makin tinggi ada hal-hal baik dan buruk.

Tapi kita harus make sure juga, hal-hal baik ini harus terus-terus disuarakan jangan sampai kita selalu ketika jalannya udah bengkok dikit kita harus luruskan lagi. Kita harus luruskan lagi ketika ada orang-orang, misalkan tahun ini udah banyak kenal dengan isu mental health itu penting, terus ada pula orang-orang yang self diagnose, mau gak mau kita harus luruksan nih bahwa self diagnose itu gak boleh, bahaya. Dari campaign-campaign yang kita kerjakan pun berbeda. Kita menyesuaikan mungkin apa sih yang sebenarnya jadi permasalahan.
Setuju gak kalo ada anggapan, anak muda sekarang lebih gampang terganggu mentalnya ketimbang anak-anak dulu?
Adam Alfares Abednego
Kalo based on data saya gak pernah hidup di zaman yang dulu. Saya gak pernah tau permasalahan orang tua saya kayak apa. Kalo misalkan lebih banyak atau gak, saya agak sedikit ragu karena dulu mungkin belum pernah ada yang riset dengan serius secara terus menerus. Mungkin dulu ada, tapi gak ter-cover aja. Tapi kalau sekarang karena awareness-nya tinggi jadi orang-orang pendataannya lebih gampang. Sebenarnya kalo menurut kita sih, sama-sama aja sih. Tapi kalo angkanya semakin tinggi, ya mungkin karena awareness-nya makin tinggi, makin baik juga.

Karena orang-orang yang punya masalah, orang akan selalu punya masalah tapi trigger-nya beda-beda. Mungkin orang dulu sama sekarang punya masalah yang berbeda. Yang sekarang sumber masalahnya sosial media, kalau dulu omongan orang tua lingkungan, tetangga. Harusnya akan sama saja sih, jumlah orangnya. Tapi kalau sosial media lebih tinggi ya mungkin aja.
Kalau Mas Rhaka gimana nih?
Rhaka Ghanisatria
Ya kayak tadi ya. The more awareness is increasing, the more that people will. Oh gue ada ini, ada kemungkinan gue akan ngecek (secara medis). Itu mendukung juga lah. Kayak dulu kan cek ke psikolog dan psikiater kan suatu hal yang tabu. Intinya sih, something yang aware dan orang finally tau mungkin masalahnya secara data mungkin selama ini orang gak pernah berani untuk mengakui itu, orang gak pernah berani ke psikolog. Intinya, gimana caranya orang bisa tahu dia bipolar kalo dia gak ke psikolog? Dulu kan ke psikolog adalah suatu hal yang aneh. Mungkin kalau isu ini udah disadari dari dulu, mungkin angkanya akan tinggi juga. Mungkin disitu sih.
Ketakutan saya ketika orang membicarakan isu kesehatan mental, just for the sake of riding the wave
Mas Rhaka kan punya riwayat mental illness, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) ya? Gimana sih mas ceritanya?
Rhaka Ghanisatria
Jadi saya jelasin dulu mental illness saya. ADHD adalah sebuah sistem yang membuat kerja saya berbeda dengan orang lain, membuat saya jadi hiperaktif, berpikir terus menerus dan lain-lain. Nah, susah fokusnya ini jadi sebuah masalah, kuliah saya jadi berantakan, saya jadi bandel, saya clumsy dan lain-lain. Kenapa disebut sebagai sebuah penyakit mental karena di sini udah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Buat saya ketidakfokusan ini mengganggu hidup saya, ya itu tadi saya jadi gak pernah masuk kelas, kuliah saya berantakan, saya bikin bisnis hancur, yaa intinya easily distracted dan udah sangat mengganggu. Sampai saya harus masuk rumah sakit jiwa.
Ketika itu pernah cerita gak ke orang tentang masalah Mas Rhaka sebelum makin parah dan masuk RSJ?
Rhaka Ghanisatria
Gak. Karena saya merasa ini ada yang something wrong tapi saya kayak ngerasa nunggu momen yang tepat. Ok, I have to talk to people.
Atau mas takut aja distigma orang?
Rhaka Ghanisatria
Hmm… Mungkin iya sih. Saya bingung cerita ke siapa. Kalo ada masalah ini terbukti dari segi psikolgis kenapa gak ke psikolog aja. Masalahnya saya waktu itu ngerasa baik-baik saja dan gak harus ke psikolog, ngerasa gak harus pergi. Sampai ketemu titik masalahnya secara tiba-tiba baru saya pergi. Saya ke psikolog atau ke psikiater tahun 2016, before mental health is common thing.
Gimana support system dari Mas Rhaka saat alami gangguan mental? Gimana ceritanya support system bantu lu?
Rhaka Ghanisatria
Untungnya keluarga saya mendukung, cukup menyadari untuk oh yaudah cek aja. Kan ada juga yang kayak oh yaudah mungkin kamu capek aja, kurang bersyukur. Ibadah aja. Untungnya saya punya keluarga yang cukup suportif lah.
Nah, Mas Rhaka lu kan punya support system yang baik. Gimana support system itu penting untuk orang-orang yang punya mental issue? Gimana lu menjelaskannya?
Rhaka Ghanisatria
Susah kalo orangnya itu udah kayak blocking, dia mikir mental health itu gak penting lah. Apalagi kalau misalnya keluarga juga udah blocking. Tapi kalau misalkan udah mulai terbuka satu sama lain dengan sebuah masalah itu akan lebih mudah. Karena orang dengan mental issue ingin diperlakukan seperti manusia pada umumnya kok. Saya gak peduli saya manusia juga. Meskipun saya punya mental illness membuat saya berbeda, tapi saya manusia juga.
Jadi pendengar aja penting ya? Karena gue kalau orang cerita, gue punya beban harus ciptakan solusi.
Adam Alfares Abednego
Gak lah. Itu miskonsepsi yang terjadi gitu. Ketika kita bikin support group pun kita gak tau kan orang mau dateng sampai mau cerita ke orang lain. Ternyata yang dibutuhkan orang itu bukan solusi, kadang yang mereka butuhkan didengerin aja. Kenapa kita gak butuh solusi? Solusi tuh sebenarnya udah kita pikirkan sendiri, kita mau ngapain tuh udah tahu.

Kita cuma butuh cerita aja, misalkan cerita cewek dideketin sama cowok. Sebenarnya cewek udah tau harus melakukan apa. Misal kondisi pacarannya gak baik, ini cewek cerita mau diputusin atau gimana. Terus kata temannya udah putusin aja. Terus udah gitu tetap gak putus kan? Karena emang gak mau putus, tapi ketika dia cerita dia cuma butuh validasi perasaan, butuh orang untuk memvalidasi perasaan mereka kalau ya dia tuh gapapa, kalau lagi sedih sedih aja, karena yang kita salah tuh, ketika orang dengarin cerita kita, tahunya kita harus kasih solusi nih.
Adam Alfares Abednego
Sedangkan ketika kita kasih solusi belum tentu solusi itu apa yang dia butuh. Kadang ada yang ngasih solusi, misalkan ‘Duh gue sedih banget nih, gue dipecat dari kerjaan gue’. Terus tiba-tiba lawan bicara kita ‘Yaudah sih, bersyukur aja’ masih banyak orang yang lebih beruntung. Itu malah menyakiti mereka gitu, ya kan gue cuma sedih. Padahal mereka cuma butuh jawaban ‘Ya wajar sih, kalau lu sedih kaya gini emang wajar. Lu rasain aja sedihnya’
Itu offensive juga ya ketika dijawab ya lu terima aja, kurang ibadah, kurang bersyukur.
Adam Alfares Abednego
Itu ada terms-nya toxic positivity. Ini ketika orang-orang yang menjawab cerita orang beranggapan kita tuh gak boleh sedih hadapi suatu masalah. Bersyukur aja, banyak orang yang jauh lebih buruk dari lu. Itu bukan yang dia butuhkan saat itu. Kata-kata penyemangat bisa jadi sangat menyakitkan. Karena dia gak butuh itu, dia butuh cerita aja dan didengar. Misalkan ada orang cerita ‘Duh, gue punya penyakit jantung nih’ terus orang yang diceritain jawab ‘Yaelah banyak kali yang mati mendadak karena jantungan’ itu kan kaya toxic, anggap orang yang cerita jadi gak bersyukur padahal cuma mau cerita aja.
Mas Rhaka nih, yang punya masalah mental. Bener gak sih cara berdamai dengan diri sendiri itu obat gangguan mental paling ampuh? Bagaimana lu menjelaskannya? Karena ada psikolog bilang lu boleh pergi ke psikolog untuk cari facilitator dan diagnose, tapi psikolog itu bilang jangan terus-terusan ke psikolog karena itu zona nyaman. Dia akan kasih saran ke kliennya untuk cari social support sendiri dan cerita masalah lu ke orang, setuju gak dengan hal itu?
Rhaka Ghanisatria
Ya setuju. Support system butuh, saya udah gak pakai obat sekarang. Cari grounding-nya sih. Semua orang punya grounding-nya masing-masing, kalau grounding saya nafas, ketika saya lagi symptom saya meditasi untuk bernafas dan bikin rileks diri sendiri jadi pikiran saya gak kemana-mana. Kemudian saya tahu, kalau saya lagi capek, otak saya kan kerja terus ya. Saya bisa kerja dari Senin sampai Rabu kerja terus, kalau saya capek, saya tahu kapan harus berhenti. Yaudah gue cuti dulu. Saya cuma butuh tidur at least 8 jam ketika saya udah capek parah banget.

Find your grounding. Grounding tuh kaya pegangan gitu sih. Ketika lu berada dalam posisi capek dan stres banget, pegangan itu buat mengatasi masalah lu. Tiap orang beda-beda punya grounding masing-masing. Makanya harus temukan sendiri. Kita gak bisa kalo gue ngelakuin napas, kerja dan bantu orang mungkin itu gak berlaku untuk orang lain. Kan yang paling tahu diri kita, diri kita sendiri.
Kalau self appreciation bisa gak? Gimana cara lu apresiasi diri lu sendiri?
Rhaka Ghanisatria
Bisa banget. Contoh, kalau diinget-inget hidup gue gak make sense aja. Yaa, gimana hampir mati gara-gara gorila. Yaudah gue cuma menghargai apa yang gue capai sekarang aja. gue bisa masuk TV, part of ambassador Youtube, tapi bukan itu. Lebih ke yaudah gue bilang makasih aja sama diri sendiri udah temenin gue sampai pada titik ini. Terdengar cringe atau gimana tapi diri lo butuh diapresiasi. Kalau lu berharap orang terima kasih ke lu dan lu sendiri gak terima kasih ke diri sendiri ya lu jangan harapkan itu.

Ketika lu melakukan kesalahan lu bisa nyalahin diri sendiri, lu sih goblok, lu sih tolol. Tapi ketika lu mencapai sesuatu kok lu gak terima kasih sama diri lu? Eh, terima kasih ke otak dah diajak terus berpikir. Terima kasih hati udah mau dibikin kecewa berkali-kali. Itu suatu yang simple buat saya terima kasih untuk diri sendiri.
Sekarang hidup lu gimana Mas Rhaka?
Rhaka Ghanisatria
Hidup saya kayak mimpi mas. Jadi ibu saya meninggal di usia saya 6 tahun. Dia cuma bilang ke saya ‘I become what i think, about become what I think’. Bahwa saya akan menjadi apa yang saya pikirkan. Kata-kata terakhir sebelum beliau meninggal dan katakan ke saya dan kakak saya ‘Rangga, Rhaka percayalah ‘I become what I think about’. Percayalah saya akan menjadi yang saya pikirkan, itu kata-kata ibu saya.

Kemudian ibu saya meninggal. Dengan segala masalah saya, saya pikir ‘Ah, lu cuma bisa nyusahin keluarga’. Terus saya beneran jadi apa yang saya pikirkan. Saya masuk RSJ, narkoba bikin hidup saya hancur. Akhirnya saya ubah pola pikir saya, suatu saat saya akan ngomong di Ted-X kejadian, suatu hari saya akan masuk televisi, kejadian. Ketemu Najwa Shihab, kejadian. Hidup saya sekarang kayak mimpi, tapi capek. Hehehe. Ada prosesnya.
Rhaka Ghanisatria
Banyak banget mimpi saya yang diamini, mimpi saya jadi kenyataan. Tapi prosesnya capek. Saya burnout kok berkali-kali. Tapi saya tau kok, ketika saya dikasih capek, ujian, tantangan tandanya saya mau naik kelas. Kita merasa kalo kita dikasih masalah itu kenapa gue? Tapi gue malah senang, oh ternyata Tuhan izinin gue untuk naik kelas.

Dan gue sekarang lebih pasrah sama kehidupan dan gak berekspektasi tinggi. Karena kadang yang bikin kita kecewa ekspektasi. Ekspektasi dan mimpi adalah dua hal yang berbeda. Ekspektasi harus banget kejadian, kalo mimpi kan yaudah kalo gak kejadian. Namanya juga mimpi. Makanya bermimpilah setinggi-tingginya, berekspektasilah serendah-rendahnya. gue punya satu kata yang sekarang jadi mindset hidup gue. Kalau misalnya buat lu, ya buat lu. Kalau gak, yah gak akan buat lu.
Kalau kamu cerita masalah hidup kamu ke teman sebenarnya apa yang kamu harapkan sih?
 
0%
Solusi
 
0%
Dengerin Aja Cerita Gue