Zaman Sekarang Anak Muda Mudah Depresi | Opini.id
Opini.id
Pop Culture
Human Interest
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Isu kesehatan di Indonesia sudah semakin banyak dibicarakan oleh anak muda. Terlihat dari kampanye-kampanye edukasi kesehatan mental yang dilakukan oleh komunitas, media online, brand ataupun influencer.
Lihat saja Ayla Dimitri, influencer kecantikan dan fashion yang sudah mulai membicarakan kesehatan mental bareng Inspigo. Di sosial medianya pun ia sempat membahas kesehatan mental berdasarkan pengalamannya menjadi seorang influencer yang penuh dengan tuntutan tampil sempurna serta deadline dari client.

Tapi apakah di akar rumput isu kesehatan mental sudah dipahami dengan baik oleh anak muda? Isu kesehatan mental seperti jadi masalah orang dewasa saja. Ketika saya membicarakan kesehatan mental saat nongkrong masih menjadi guyonan semata. “Ceilaah, keren banget yaa ngomongin isu-isu mental illness. Lu gak update di sosmed. Berat banget kayanya masalah lu,” kata itu keluar dari mulut teman saya. Kesannya ngomongin kesehatan mental masih jadi barang untuk keren-kerenan semata. Dan terkesan masalah itu jauh banget dari kehidupan kita, hanya umur yang masih terbilang muda, gak punya banyak masalah.

Saya mau keluar dari anggapan ini, perlu sedikit serius buat bahas kesehatan mental. Saya mulai untuk mencari tahu gangguan mental yang dialami oleh orang-orang di sekitar saya. Hasilnya, cukup mengejutkan, karena gak pernah menduga sebelumnya orang yang selama ini baik-baik saja punya masalah mental.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Prevalensi gangguan mental emosional Indonesia umur lebih dari 15 tahun
2013
6 orang per mil*
2018
9,8 orang per mil*
Sumber data: Kemenkes, 2019
*per mil = per 1.000 penduduk
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sebut saja NN, seorang perempuan datang ke Jakarta untuk membangun karir. Ia baru tahu didiagnosa mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan Borderline Personality Disorder (BPD) oleh psikolog. Dua gangguan mental ini ia rasakan dalam periode yang berbeda, namun saling berkaitan. Dua ini terjadi karena NN alami depresi yang berkelanjutan.

Awalnya PTSD, ini terjadi ketika NN duduk di bangku SMA. Waktu usia Sekolah Dasar ia harus terima pengalaman pahit bapak ibunya berantem di depan matanya. Sampai akhirnya gejala PTSD pun muncul tanpa disadari oleh kedua orang tuanya. NN akan merasa gelisah ketika mendengar suara jeritan orang atau orang marah-marah. Ini membuat dia teringat sama peristiwa masa lalu orang tuanya. “Waktu itu nyokap cuma bilang gua panik aja. Tapi bukan cuma itu yang gua rasain, takut gelisah terus ngerasa nge-blank aja. Gua cerita ke kakek gua, terus kakek yang bawa gua ke psikiater,” terang NN.

PTSD-nya perlahan menghilang seiring tindakan terapi dan konsultasi ke psikolog. Saat tahun 2018 NN alami BPD yang membuat dirinya merasa tak diinginkan di dunia, insecure dan menyalahkan diri sendiri atas situasi genting. Jika gejala BPD-nya muncul, ia akan cenderung menyakiti diri sendiri seperti mengiris tangan dan menjambak rambut hingga rontok.

Gangguan ini muncul setelah NN tak jadi melakukan pernikahan dengan sang mantan. Semua rencana sudah dilakukan, namun tiba-tiba mantannya selingkuh dan NN putuskan tidak melanjutkan janji sucinya. “Gak tau sih, ini makin ngebuat diri gua gak berharga aja. Sebelumnya kan orang tua gak pernah bilang masalah mereka apa, jadi gua ngerasa gak berguna aja di hidup gua,” terangnya.

NN juga mengaku sosial media berkontribusi perparah Borderline Personality Disorder yang dialami. “Instagram tuh toxic banget. Kadang ada aja yang nge-DM (direct message) gue, Ih, kurus banget sih. Kecil banget badannya. Belum lagi masih ada aja yang nanyain pernikahan gue,”

Instagram tuh toxic banget. Kadang ada aja yang nge-DM (direct message) gue, Ih, kurus banget sih. Kecil banget badannya. Belum lagi masih ada aja yang nanyain pernikahan gue.
- NN
Ia mengaku banyak temannya yang tidak mendukung ceritanya ini, seperti sambil lalu saja mendengar curhatannya. Justru support datang dari pacarnya yang selalu mendengarkan masalah NN dan suka memberikan petunjuk jika sedang bingung.

Cerita lain datang dari teman kantor yang punya keponakan mengalami depresi hanya karena jerawat. KA (19) sangat malu dengan jerawat di mukanya hingga ia gak mau untuk bertemu sama teman sekolah dan orang-orang disekitarnya. Lama kelamaan kekhawatirannya sampai ia harus menutup semua cermin yang ada di rumah agar jerawat di muka gak terlihat. Kekhawatirannya berujung males beraktivitas, mengurung diri di kamar dan gak mau sekolah. Karena perilakunya sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tuanya membawa ke psikiater dan dia diagnosis alami depresi serta diberi resep obat-obatan.

Gimana Kondisi Mental Anak Muda di Indonesia?
NN dan KA mungkin cuma salah dua anak muda yang mengalami gangguan mental. Setelah ditelusuri lebih dalam mental anak Indonesia semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Meski angkanya tidak terlalu signifikan namun perlu diperhatikan masalah mental ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Top 5 provinsi dengan pengidap gangguan mental emosional 2013*
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Gangguan mental di Indonesia menjadi masalah yang serius. Prevalensi penderita depresi (gangguan mental emosional) di Indonesia pada umur lebih dari 15 tahun meningkat tajam. Prevalensi penderita depresi 6,1 orang per mil pada tahun 2013 meningkat menjadi 9,8 orang per mil di tahun 2018.
0
%
pengidap depresi sudah ditangani medis
0
%
tidak tersentuh penanganan medis
Sumber data: Riskesdas, Kemenkes


Teddy Hidayat, dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mengatakan angka ini cukup tinggi. Anak muda yang mengalami gangguan jiwa bisa menjadi kronis dan tidak produktif. “Bahkan berpotensi menjadi beban negara terbesar kedua pada 2020 dan bebas pertama di 2030,” kata Teddy.

Teddy juga menyinggung kematian anak muda di Indonesia kedua terbesar datang dari masalah bunuh diri. Bunuh diri bisa disebabkan oleh banyak faktor, tidak ada faktor tunggal. Ia mengatakan depresi yang dialami oleh anak muda bisa mendorong perilaku bunuh diri. Ironisnya 40 persen penderita depresi berpikir serius bunuh diri dan 15 persen benar-benar melakukannya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan angka bunuh diri pada usia 15-29 tahun cenderung menurun dari tahun ke tahun.
2007
4,5 orang per 1.000 penduduk
2017
3,86 orang per 1.000 penduduk
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tak hanya Indonesia saja, Amerika juga menghadapi masalah anak muda yang rentan terhadap depresi. Sebagai perbandingan, data penting untuk mengetahui dinamika kesehatan mental anak muda di Amerika.

13,3% (3,2 juta) anak muda berumur 13-17 tahun mengalami depresi mayor di Amerika Serikat. Rata-rata dari mereka juga mengalami kecemasan berlebih.
0
%
usia 13-17 tahun depresi mayor
Sumber data: National Institute of Mental Health (NIMH) 2017
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
penyebab depresi pada anak muda
0
%
nilai akademik
0
%
dituntut tampil menarik
0
%
INGIN DITERIMA LINGKUNGAN PERTEMANAN
0
%
TERTEKAN TUNTUTAN TAMPIL JAGO OLAHRAGA
0
%
narkoba
0
%
alkohol

Sumber data: National Institute of Mental Health (NIMH) 2017
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kebanyakan remaja Amerika merasa cemas setelah memikirkan masa depan mereka seperti jenjang pendidikan yang lebih tinggi, menjadi orang sukses dan berkeluarga. Tuntutan hal-hal seperti ini didukung oleh sosial media yang semakin menuntut mereka lebih, lebih dari kondisi mereka sekarang.

Kenapa Bisa Terjadi Depresi?
Gangguan mental depresi bisa menyasar siapapun, tak terkecuali anak muda yang sedang mencari jati diri. Remaja bukan individu yang ada di dunia ini tanpa masalah hanya karena belum bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Justru remaja punya banyak masalah karena gak punya duit (Kalo ini sih kere).

Depresi menurut American Psychiatric Association, adalah gangguan mental yang mempengaruhi suasana hati yang biasa kita rasakan secara negatif dan berdampak pada perilaku seseorang. Tak hanya merubah perasaan menjadi sedih saja, depresi akibatkan perubahan fisik dan kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Depresi dan perasaan sedih adalah dua hal yang berbeda. Jika kita merasa gagal sama satu pelajaran atau dalam hubungan tentu saja kita merasa sedih. Tapi jika merasakan sedih, seseorang masih bisa mengendalikan emosinya dan sadar harus bangkit. Jika berlarut, merasa tak percaya diri dan cenderung menyalahkan diri sendiri hingga tak berdaya untuk melakukan aktivitas biasa, ini baru dikatakan depresi. Bahkan depresi juga bisa datang ketika seseorang merasa senang, hanya saja orang tersebut merasa tak bisa kendalikan senangnya hingga berujung hampa.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Agar bisa mengetahui gangguan mental depresi pada remaja, lebih kenali ciri-cirinya.
  • merasa sedih berlarut-larut

  • hilang ketertarikan terhadap aktivitas sehari-hari atau hobi

  • prestasi menurun

  • berat badan naik-turun mendadak

  • terus merasa lelah

  • hilang percaya diri

  • merasa diri gak berharga

  • sulit konsentrasi

  • gangguan tidur

  • berpikir bunuh diri
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Menurut Wulan Ayu Ramadhani, psikolog klinis Klinik Rumah Hati, gejala depresi juga bisa merubah siklus menstruasi perempuan. Gejala-gejala yang disebutkan sebelumnya, menurut Wulan tidak bisa sama pada setiap orang atau memenuhi semuanya. Namun yang jelas depresi bisa mempengaruhi kognitif, emosional dan afektif remaja.

“Yang utama diperhatikan penderita ngerasa gak berharga, punya rasa bersalah, bisa jadi dia ngerasa apa yang dilakukan salah terus, ngerasa gak bisa ngapa-ngapain, gak punya hope. Terus sedikit-sedikit emosional.” kata perempuan lulusan Universitas Indonesia Fakultas Psikologi.

Orang yang mengalami depresi cenderung over generalization atau memukul rata semua apa yang dilakukannya adalah salah. Mereka merasa masalah yang dihadapi terjadi karena dirinya yang tak mampu bertahan, padahal kenyataannya banyak faktor lain yang jadi latar belakang masalah.

Ayu menjelaskan seseorang mengalami depresi karena tidak mampu mengelola emosi yang sedang dirasakan, terutama emosi tidak mengenakan dirinya. Anak muda menghadapi masalah ini ketika umur muda saat seseorang memiliki emosi yang tidak stabil, kontrol emosi jadi penting. Jika tidak bisa mengendalikan emosi di tengah tuntutan sosial dari lingkungan pertemanan maupun keluarga semakin besar potensi alami depresi.

“Rata-rata kita besar dengan tuntutan mesti memenuhi tuntutan sosial, harus, harus, harus. Karena harus itu kita gak terbiasa bahwa kita sebenarnya punya alternatif. Makanya ketika orang depresi biasanya mereka gak melihat bahwa ada alternatif lain. Makanya kadang muncul pikiran bunuh diri,” pungkasnya.

Rata-rata kita besar dengan tuntutan mesti memenuhi tuntutan sosial, harus, harus, harus. Karena harus itu kita gak terbiasa bahwa kita sebenarnya punya alternatif. Makanya ketika orang depresi biasanya mereka gak melihat bahwa ada alternatif lain. Makanya kadang muncul pikiran bunuh diri.
- Wulan Ayu Ramadhani, psikolog klinis Klinik Rumah Hati
Ada beberapa masalah yang melatarbelakangi depresi sangat dekat dengan remaja di Indonesia. Masalah pola asuh orang tua, bullying dan sosial media. Ayu menyinggung pola asuh yang serba instan yang dilakukan oleh orang tua membuat remaja sulit mengelola emosinya. “Ketika anak mau sesuatu atau gagal dalam aktivitasnya. Dengan mudah orang tua beri hadiah, tujuannya biar selesai aja masalahnya, biar diem dan gak malu-maluin. Padahal anak harus belajar konsekuensi dari tindakannya, ini latihan kontrol emosi,” singgung Wulan.

Masalah bullying masih menjadi masalah depresi yang dialami oleh remaja Indonesia. Jika perilaku perundungan zaman dahulu terjadi kontak fisik dan dilakukan secara langsung, sekarang sosial media permudah tindakan tersebut. Kata-kata kasar atau cemoohan di sosial media sangat mempengaruhi pembentukan identitas remaja. Jika tak sesuai harapan remaja tersebut akan menimbulkan depresi.

Kecemasan berlebih terhadap sosial media juga berkontribusi gangguan mental depresi. Sebagai remaja sosial media adalah acuan terhadap identitas diri. Sosial media seakan menuntut seorang remaja lebih dari apa yang mereka miliki, membandingkan diri sendiri dengan identitas lain yang dianggap lebih sempurna.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Beberapa Faktor yang Ngebuat Orang Depresi
  • Masalah dalam hubungan keluarga, pacar dan pertemanan

  • Tekanan dalam akademik

  • Kecemasan Terhadap Masa Depan

  • Tuntutan sosial media

  • Bullying

  • Keturunan dari Keluarga

  • Trauma Peristiwa

  • Kemiskinan

  • Pola Asuh Orang Tua

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dampak Depresi Jika Dibiarkan dan Tak Ditangani secara Medis
Depresi yang dialami oleh anak muda bisa berakibat serius bila tidak ditangani secara medis. Teddy Hidayat, dokter spesialis kejiwaan menyinggung konsekuensi depresi yang tidak ditangani bisa berujung bunuh diri. 40 persen atau sekitar 4.526.200 penderita depresi memikirkan bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya. 1 juta lebih diantaranya benar-benar melakukan bunuh diri.

Remaja dan dewasa muda tak produktif juga potensi masalah yang akan dihadapi Indonesia. Orang dengan masalah depresi cenderung tak percaya diri dan bingung untuk melakukan aktivitas sehari- harinya. Masalah pengangguran jadi tantangan dalam anak muda depresi.

Selain itu, Wulan menyinggung masalah stigma negatif terhadap penderita depresi bisa mengganggu proses pemulihan. Banyak dari penderita depresi tidak berani menceritakan masalahnya karena takut dicap sebagai orang yang tidak bersyukur, dianggap lemah dan kurang pendekatan agama. “Kadang disuruh ibadah yang banyak, ibadah memang bisa jadi proses pemulihan depresi dan kesehatan mental. Tapi perlu penerimaan diri terlebih dahulu, berdamai dengan masalahnya,” singgung Wulan.

Bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian kelompok remaja dan dewasa muda usia 15- 29 tahun.
- Teddy Hidayat, dokter spesialis kejiwaan
Cari Teman Curhat dan Konsultasi Psikolog Online
Gangguan mental depresi bukan sesuatu yang tak mungkin bisa disembuhkan dari seseorang. Jangan merasa putus asa terlebih dahulu atau mengakhiri hidup. Ada cara untuk pulih dari depresi.

Pertama yang harus dilakukan ketika dirasa mengalami depresi adalah pahami gejalanya dan konsultasi ke psikolog, hindari self-diagnose karena bisa mendorong penderita salah langkah menanganinya. Lalu cari lingkungan sosial yang mendukung untuk memvalidasi emosi yang dirasakan oleh penderita.

Langkah yang kedua ini memang sulit. Gak semua orang berani cerita masalah yang dihadapinya, entah malu atau takut dicap lemah, saya bisa ngerti. Tapi ini cara yang paling ampuh.
- Wulan Ayu Ramadhani, psikolog klinis Klinik Rumah Hati
Selain terapi dan konsultasi, Wulan akan menyarankan penderita depresi untuk mencari lingkungan sosial seperti pertemanan dan keluarga yang baik bagi penderita. Karena orang yang depresi cenderung lebih suka kesendirian yang mengisolasi dirinya dan membuat emosi penderita tidak tervalidasi dengan baik. Orang lain bisa jadi pembanding atau pilihan alternatif yang dibutuhkan oleh penderita. “Kalo hanya ke psikolog saja ini zona nyaman, makanya aku akan sarankan teman-teman untuk reach out orang yang memotivasi dirinya. Bisa teman, keluarga atau saudara.”

Bagi orang dengan depresi berhubungan sosial adalah hal yang berat. Maka ada cara lain yang bisa dilakukan seperti mencari hobi yang disukai, merubah penampilan, olahraga dan apresiasi diri sendiri. “Makanya kalo orang-orang depresi aku tuh suka kasih saran self appreciation. Dalam arti kalo mereka bisa bangun, ya terima kasih ke diri sendiri aja. Thank you ya, gua bisa bangun hari ini, karena gak gampang buat mereka,”

Self appreciation tuh penting. Sesederhana, makasih aja sama diri sendiri. Thank you yaa, udah bisa bangun hari ini. Udah mampu ngerjain sesuatu hari ini.
Sudahkah kamu mencintai dan menghargai dirimu sendiri ?

Sudah
Belum