Dunia Melawan AIDS | Opini.id
 
 
 
 
 
 
Kerap dicap sebagai penyakit kutukan
yang tak ada obatnya, tetapi penelitian soal
AIDS masih berjalan sampai saat ini
Bicara soal HIV & AIDS, yang muncul pertama kali dibenak adalah stigma negatif. Jauhi, hindari, soalnya bahaya nanti kalau ketularan. Padahal faktanya gak segampang itu HIV & AIDS.

Tidak begitu banyak kisah dan asal-usul penyakit yang menewaskan salah satu vokalis band legendaris Queen, Freddy Mercury. Akan tetapi ada sebuah cerita yang mengatakan jika penyakit ganas ini berasa dari gaya hidup di Afrika.

 
 
 

Sejak jadi perhatian dunia tahun 1980-an sampai saat ini, hampir 75 juta orang direnggut oleh keganasan virus ini.

Hasil riset genetika yang dipublikasikan di Jurnal Science oleh tim peneliti Universitas Oxford dan Universitas Leuven, Belgia, virus ini sudah ada sejak tahun 1920 di Kota Kinshasa yang saat ini sudah jadi bagian dari Republik Kongo. Saat itu, jumlah pekerja seks komersial (PSK) cukup banyak. Belum lagi penggunaan jarum tidak steril di sejumlah klinik yang memungkinkan virus ini bermuara di Kinshasa.

Penelitian menemukan ada virus yang sama dengan HIV di tubuh monyet, simpanse, serta kera yang ada di Afrika bagian barat. Setelah dilakukan pengecekan, para ilmuwan menduga HIV merupakan keturunan dari SIV, yang mirip dengan dua tipe HIV (HIV-1 dan HIV-2).

Dengan kata lain, AIDS berasal dari gorila?

1920
 
 
 
 
Kinshasa
Republik Demokratik Kongo
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sampai saat ini, hampir
 
korban virus ini




Virus HIV berasal dari hewan primate. Ilmuwan menemukan jika setengah dari garis keturunan jenis utama virus human immunodeficiency atau HIV-1 berasal dari gorila. Ada kemungkinan, manusia melakukan perburuan hewan liar. Pada akhirnya, mereka pun terinfeksi virus dari Gorila Kamerun. HIV-1, penyebab AIDS, terdiri dari empat kelompok, masing-masing berasal dari transmisi virus kera ke manusia. Penelitian sebelumnya mengidentifikasi simpanse di Kamerun bagian selatan sebagai sumber dari kelompok M HIV-1. Virus ini telah menginfeksi lebih dari 40 juta manusia di seluruh dunia, dan memicu pandemi AIDS.
 
 
 
 
Ketakutan
Hoax
Diskriminasi
Ketiga poin ini jadi alasan utama kenapa para penderita AIDS semakin dijauhi. Hoax soal penularan virus ini menimbulkan ketakutan luar biasa, hingga para penderita kerap mendapatkan perlakuan yang berbeda. Ada beberapa poin terkait penularan AIDS yang sebenarnya tidak betul. Berikut penjelasan dr Adiyana Esti dari lembaga kesehatan Angsamerah dalam diskusi "Tangkal Hoax-nya, Pahami Fakta HIV/AIDS", 9 Agustus 2018.
 
 
 
1
HIV/AIDS menular lewat penggunaan pisau cukur secara bergantian dalam keluarga atau di tempat potong rambut.
Faktanya
TIDAK, memakai pisau cukur bergantian dengan ODHA tidak akan menularkan virus. Sebab, virus mudah mati di udara bebas. Pasalnya jangankan dengan ODHA, memakai pisau cukur bergantian meski dengan orang sehat juga tidak disarankan demi alasan kebersihan.
2
HIV/AIDS menular lewat penggunaan alat makan secara bergantian antara ODHA dengan orang sehat.
Faktanya
TIDAK. Selain karena virus mudah mati di udara bebas, virus dalam air liur tidak cukup banyak untuk ditularkan pada orang lain.
3
Virus HIV menular lewat ciuman dengan lidah atau sekedar cipika-cipiki.
Faktanya
SALAH. Virus HIV tinggal di sel T, salah satu bagian sel darah putih manusia. Sel ini ada di semua cairan tubuh manusia dalam jumlah yang berbeda. Paling banyak ada di dalam darah, kemudian cairan vagina (wanita), cairan sperma (pria) serta Air Susu Ibu. Virus memang ada di air liur, air mata dan keringat tapi jumlahnya sangat sedikit sehingga tidak cukup untuk menularkan virus HIV.
4
Virus HIV bisa ditularkan lewat makanan kaleng yang sudah diinjeksikan dengan darah yang mengandung virus.
Faktanya
SALAH. Virus HIV mudah mati di luar tubuh manusia. Selain itu, makanan kaleng juga melewati proses sterilisasi sehingga virus mudah mati. Selain itu ada kemungkinan hal ini adalah cara kompetitor untuk menjatuhkan saingannya.
5
Virus HIV dapat ditularkan lewat jarum di kursi bioskop atau tusuk gigi.
Faktanya
TIDAK, virus HIV mudah mati di udara bebas dalam waktu kurang dari semenit. Tanpa inangnya, seperti darah, sperma, ASI dan cairan vagina, virus yang ada di udara bebas akan cepat mati.
6
HIV/AIDS bisa ditularkan melalui air kolam renang.
Faktanya
SALAH. Tak masalah berenang bersama ODHA karena virus HIV mudah mati di udara bebas, apalagi air kolam renang mengandung kaporit yang mempercepat matinya virus.
7
HIV/AIDS bisa ditularkan lewat pakaian bekas.
Faktanya
SALAH. HIV/AIDS hanya bisa menular lewat kontak cairan tubuh seperti darah, cairan vagina, cairan mani dan ASI. Penularannya bisa lewat penggunaan jarum suntik yang tidak steril, hubungan seks tidak aman juga pemberian ASI dari ibu ke anak.
8
HIV/AIDS ditularkan lewat pembalut yang sudah terkontaminasi virus.
Faktanya
SALAH, sebab, virus HIV akan mati di udara bebas dalam waktu kurang dari semenit.
9
Pemeriksaan darah untuk kolesterol dan diabetes oleh petugas keliling yang mencurigakan adalah untuk menyebarkan virus HIV.
Faktanya
SALAH. Jarum yang dipakai untuk pemeriksaan kolesterol dan diabetes tak punya lubang penyimpanan darah. Sehingga virus HIV bakal mati di udara bebas.
10
ARV (obat untuk ODHA) adalah bahan kimia yang bisa menyebabkan kerusakan hati. Lebih baik menggunakan obat herbal untuk merawat ODHA.
Faktanya
Hingga saat ini obat yang paling tepat untuk HIV adalah ARV.
11
Nyamuk yang menggigit ODHA bisa menularkan HIV.
Faktanya
TIDAK. Dalam kasus tingginya jumlah penyakit HIV AIDS dan Malaria di Papua, banyak yang menyebutkan kalau kedua penyakit ini disebarkan oleh nyamuk. Ingat HIV bukan disebarkan oleh nyamuk. Virus HIV tersebar bukan di hemoglobin (sel darah merah), tapi di Leukosit (sel darah putih). Di Papua, HIV ditularkan karena kehidupan seksual yang tidak aman.
 
 
 
 
Indonesia dan AIDS
Data UNAIDS, menunjukkan pada tahun 2017, ada 36,9 juta orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Mayoritas orang dewasa, namun ada 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Penderita perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki yakni 18,2 juta orang berbanding 16,9 juta orang.

Yang bikin miris, sekitar 25 persen penderita tidak mengetahui kalau mereka terkena HIV atau AIDS.
 
 
 
 
UNAIDS
2017
0
Orang di berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS
 
 
0
Anak-anak di bawah 15 tahun
 
 
0
Penderita wanita
 
 
0
Penderita laki-laki
 
 
0
Penderita tidak mengetahui mereka terserang HIV atau bahkan mengidap AIDS
 
 
 

Yang penting menjadi perhatian adalah penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia telah menyebabkan 620.000 orang penderita saat ini. Pengidap HIV dan AIDS di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia dengan total 5,2 juta orang. Peringkat kedua Kawasan Afrika Barat dan Tengah 6,1 juta orang. Sementara penderita HIV dan AIDS terbanyak di dunia adalah Kawasan Afrika Timur dan Selatan sebanyak 19,6 juta orang.

Penderita HIV dan AIDS berdasarkan latar belakangnya dari pengguna narkoba suntik (28,76 persen), homoseksual (25,8 persen), transgender (24,8 persen), pekerja seks komersial (5,3 persen), dan mereka yang ada di tahanan (2,6 persen)..
 
 
 
 
Latar Belakang
Penderita HIV/AIDS
0
%
Tahanan
0
%
Trans gender
0
%
Pekerja Seks Komersial
0
%
Homo seksual
0
%
Pengguna Narkoba Suntik
 
 
 

Angka kematian akibat AIDS tercatat 940.000 kasus di seluruh dunia pada tahun 2017, masing-masing 830.000 kematian orang dewasa dan 110.000 anak-anak.

Penderita AIDS sendiri di Indonesia butuh perjuangan. Lagi dan lagi, masyarakat Indonesia masih memandang negatif para penderitanya, salah satu korban yang kerap terkena imbasnya adalah anak-anak dengan HIV. Natasya Sitorus selaku Manager Advokasi di Lentera Anak Pelangi mengungkapkan kekesalannya terhadap stigma yang kerap kali ditujukan pada Anak dengan HIV (ADHIV).

“Sebagian besar dari anak-anak ini belum mengetahui bahwa mereka memiliki HIV. Jadi yang mereka tahu tiap hari mereka harus minum obat, entah itu disebutnya sebagai vitamin, atau obat untuk penyakit lain. Karena memang pelaku rawatnya mungkin belum tahu bagaimana caranya menjelaskan HIV kepada mereka,” kata Tasya saat ditemui pada acara Hari Anak Nasional di Taman Budaya Sentul, Minggu (28/7).

Serupa tapi tak sama, stigma yang menimpa ADHIV juga kerap kali merembet pada stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Atau mungkin, banyak masyarakat yang melihat status ADHIV ada karena orang tua mereka terlebih dulu yang telah berstatus ODHA. Logikanya adalah, jika anak-anak di bawah umur saja yang dinyatakan positif HIV bisa semengerikan itu di mata masyarakat luas, bagaimana masyarakat menilai orang dewasa yang positif HIV bahkan AIDS?

Stigma secara tidak langsung justru menjelma menjadi penyakit masyarakat yang sangat mudah menular dari kelompok masyarakat satu ke kelompok masyarakat lainnya. Kalau sudah menyebar, stigma dengan jelas bisa berdampak jauh lebih membahayakan dibanding HIV/AIDS itu sendiri. Stigma masyarakat yang menabukan penyakit HIV/AIDS juga bisa membuat orang-orang yang mungkin terjangkit penyakit tersebut kemudian menutup diri dan enggan memeriksakan dirinya ke penyedia layanan kesehatan. Akibatnya sangat fatal. Orang tersebut akan terlambat mengetahui bahwa ia mengidap HIV, yang besar kemungkinannya menjadi AIDS kalau tidak diberi penanganan secepatnya. Di tahap inilah harapan hidup orang tersebut akan semakin menipis.




 
 
Data
Kementrian Kesehatan 2018
 
 
0
Kasus HIV menimpa ADHIV usia 0-19 tahun
 
 
0
Positif terjangkit AIDS


Sampai dengan penghujung tahun 2018 lalu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ada 2.881 kasus HIV yang menimpa ADHIV usia 0-19 tahun. Dari jumlah itu, 612 di antaranya positif terjangkit AIDS. Nina Djuwita Faried Anfasa Moeloek selaku Menteri Kesehatan saat itu menganggap ini layaknya fenomena gunung es. Sesuatu yang berada di bawah permukaan bisa jadi jauh lebih besar ketimbang yang bisa kita lihat di atas permukaan. Artinya, angka ini bisa lebih besar, mengingat stigma masyarakat yang membuat pelacakan pengidap HIV/AIDS jadi semakin sulit.
 
 
 
 
Vaksin Pembunuh Virus HIV Ditemukan
Apakah kamu percaya AIDS dapat disembuhkan ?
Percaya
Tidak