Sakdiyah Ma'ruf, Perempuan Melawan Radikalisme dan Kekerasan dengan Lelucon | OPINI.id
Sakdiyah Ma'ruf, Perempuan Melawan Radikalisme dan Kekerasan dengan Lelucon

Materinya seputar perlawanan perempuan melawan radikalisme dan kekerasan dengan lelucon pernah menjadi sorotan sebagai komedian perempuan.

Sakdiyah Ma'ruf merupakan perempuan komedian tunggal (komika) muslim pertama dari Indonesia yang memanfaatkan komedi sebagai cara perempuan melawan ekstremisme radikalisme dan kekerasan terhadap perempuan.

Sakdiyah Ma’ruf pernah masuk dalam 100 jajaran perempuan berpengaruh versi BBC 100 Women, sebuah ajang nominasi yang mengumpulkan perempuan-perempuan berpengaruh di komunitasnya dari seluruh dunia. Sakdiyah masuk mewakili Indonesia atas aktivismenya di dunia komedi.

Topik-topiknya tentang radikalisme, perempuan dan humanisme disebut menjadi cara cerdas dalam membangun diskursus yang selama ini sensitif.

Perlawanan perempuan melawan ekstrimis lewat komedi

Sakdiyah Ma'ruf adalah perempuan keturunan Arab, berhijab dan mewarisi ajaran konservatif. Ia sering menyuarakan kegelisahannya terhadap sikap radikal yang ditunjukkan sebagai warga keturunan Arab di Indonesia.

Sakdiyah juga disebut sebagai "komika perempuan muslim pertama dari Indonesia" yang menggunakan komedi sebagai "cara untuk menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan".

Dia tidak memungkiri bahwa sebagian anak muda keturunan Arab tertarik ideologi ISIS seperti dikutip dari BBC Indonesia.

"Komunitas Arab seperti terhubung lebih mudah -ketimbang masyarakat lain- dengan orang-orang di Timur Tengah. Ini terjadi karena situasi geopolitik yang mencair," katanya setengah menganalisis.

"Sebagian orang-orang Arab Indonesia ini kemudian mencari rujukan baru," lanjutnya.

"Di sinilah isu trans-nasional menemukan tempatnya". Namun Sakdiyah meyakini jumlah anak muda keturunan Arab yang tertarik radikalisme Islam jumlahnya kecil.

Meski ia mengaku cukup sulit untuk mengeksplorasi tema-tema konservatisme, tetapi hingga kini tema tersebut masih menjadi perhatian dalam mengulik materi untuk diekspresikan di panggung.

Perjalanan Sakdiyah di panggung komedi

Sakdiyah berasal dari lingkungan konservatif Islam yang mengalami kekerasan fisik dan aturan-aturan ketat dari ayahnya. Hal ini memicu "kemarahan" dan rasa takut sepanjang masa kecilnya.

Sakdiyah kerap membaca karya-karya tulisan perempuan Afrika-Amerika yang kerap meneriakkan kemarahan akan kondisi yang mereka alami.

Ia juga aktif di organisasi mahasiswa Islam moderat di kampus. Mengikuti kegiatan pers kampus dan terlibat di berbagai macam demonstrasi mahasiswa.

Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyuarakan kemarahan dan melawan ekstremisme melalui komedi. Ia pertama kali membawakan materi standup di kampus.

Masalah-masalah perempuan kerap menjadi materi saat berada di panggung, termasuk soal hijab. Selain itu, Sakdiyah juga kerap menyuarakan kegelisahannya terhadap sikap radikal yang ditunjukkan sebagian warga keturunan Arab di Indonesia.

Bagi Sakdiyah, komedi tidak boleh asal lucu atau asal kritik sosial saja, tetapi banyak hal yang harus dipertimbangkan dan menjadi pegangan dan etika bagi komikus. Ia mencontohkan bahwa memiliki pengetahuan yang cukup atas materi adalah hal penting untuk dibawakan.

**

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Kartini, Opini.id menghadirkan Sakdiyah sebagai moderator dalam sebuah Ruang Kolaboraksi dalam rangkaian acara Opini90 bertema:

“Perempuan Melawan __________”.

Ruang Kolaboraksi akan diadakan pada:
Rabu 24 April 2019
Pukul 13.00 - 17.00 WIB

Tempat:
Galeri Salihara
Jl Salihara 16
Ps. Minggu, DKI Jakarta 12520

Pastikan kamu jadi bagian dalam acara Ruang Kolaboraksi.

Informasi lengkap dan pendaftaran, klik Ruang Kolaboraksi: “Perempuan Melawan __________”

Menurut kamu perempuan bisa gak melawan radikalisme dan kekerasan seksual?
Bisa
Tidak
Ragu-ragu
11 votes

 

Komentar

Fresh