Gagal Paham dengan Gerakan Indonesia Tanpa Feminis | OPINI.id
Gagal Paham dengan Gerakan Indonesia Tanpa Feminis

"Indonesia doesn't need feminism" sebuah kalimat di akun Instagram bernama Indonesia Tanpa Feminis. Apa ini saatnya perempuan melawan feminisme?

Akun Instagram bernama Indonesia Tanpa Feminis membuat saya penasaran dan memaksa mencari tahu. Jika saya tidak salah, gerakan ini tengah mengkampanyekan beberapa agenda, diantaranya persamaan gender yang dikampanyekan kaum feminis adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah, sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang wanita. Dari unggahan di akun Instagramnya juga terlihat, Indonesia Tanpa Feminis terus menyuarakan sebuah kampanye Uninstall Feminism karena Indonesia tidak butuh feminisme.

Akun ini sudah memiliki pengikut hingga 2900 orang hingga Jumat, 05 April 2019. Hadirnya akun yang mengajak perempuan melawan feminisme malah menjadi perbincangan dan cibiran, kebanyakan justru dari kaum perempuan juga.

Banyak yang menilai apa yang disuarakan Indonesia Tanpa Feminis adalah kebutaan akan pengertian feminisme itu sendiri. Indonesia Tanpa Feminis meyakini lahirnya gerakan feminisme berasal dari gerakan sekelompok aktivis perempuan barat, lambat laun menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, termasuk negara-negara Islam.

Apa itu feminisme?

Woro Seto, pendiri organisasi Gerakan Ramah Perempuan mengkritik gerakan Indonesia Tanpa Feminis yang menganggap Indonesia tidak butuh feminis. Seperti dikutip dari tulisannya, ia berpendapat, mereka yang menggagas gerakan Indonesia Tanpa Feminis tak mengerti konsep feminisme yang sebenarnya.

Woro menjelaskan, feminisme adalah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan di bidang politik, pendidikan, ekonomi, budaya, menghapuskan budaya patriarki. Feminisme juga melawan diskriminasi terhadap wanita di ruang pribadi dan ruang publik. Woro menegaskan, konsep feminisme tidak melemahkan atau mendiskreditkan laki-laki.

Mustaqim (2008:85) dalam bukunya yang berjudul Paradigma Tafsir Feminis Membaca Al-quran dengan Optik Perempuan mengatakan bahwa feminisme merupakan paham yang ingin menghormati perempuan, sehingga hak-hak dan peranan mereka lebih optimal dan setara, tidak ada diskriminasi, marginalisasi dan subordinasi.

Bashin dan Khan di dalam buku Mustaqim (2008:4) juga berpendapat kalau feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut sehingga terjadi suatu kondisi kehidupan harmoni antara laki-laki dan perempuan, bebas dari segala bentuk subordinasi, marginalisasi, dan diskriminasi.

Feminisme bukan untuk menjadi lebih atau melawan laki-laki. Feminisme bukan hanya memperjuangkan emansipasi perempuan di hadapan laki-laki saja, namun juga memperjuangkan laki-laki (terutama kaum proletar) dari dominasi, eksploitasi, serta represi dari sistem yang tidak adil.

Dalam cakupan lebih luas, feminisme adalah kesetaraan terutama terkait akses pada pilihan hidup yang sama bagi semua gender. Feminisme lahir sebagai tanggapan terhadap peradaban yang percaya bahwa laki-laki dikodratkan lebih superior dari perempuan dalam segala hal. Lalu mereka diberikan hak dan tanggung jawab yang istimewa lebih dari perempuan. Feminisme juga hadir untuk memperjuangkan perempuan yang berada sebagai manusia kelas dua.

Kehadiran Indonesia Tanpa Feminis juga mendapat tanggapan dari seorang social media influencer, Gita Savitri Devi atau yang biasa dikenal Gitasav bersama suaminya, Paul Partohap. Mereka menyampaikan opini mereka melalui unggahan video di YouTube.

Perlukah perempuan melawan feminisme?

Banyak pihak, termasuk aktivis feminis di Indonesia masih terus memperjuangkan keberadaan perempuan di Indonesia dalam beberapa aspek. Seperti dalam aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, dan industri. Berbagai kesenjangan antara perempuan dan laki-laki sehingga menimbulkan diskriminasi masih sering terjadi.

Woro Seto, menegaskan, masih ada banyak ketidaksetaraan yang diderita perempuan Indonesia, salah satunya dalam hal upah dan pekerjaan. Menurut data  Badan Pusat Statistik (BPS) upah buruh perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Upah buruh pria di 2018 rata-rata sebesar Rp 3,6 juta, sementara wanita di angka Rp 2,4 juta. Menurutnya, inilah yang masih harus diperjuangkan oleh feminisme di Indonesia.

“Gerakan feminisme itu berkomitmen untuk mengatasi masalah-masalah sehari-hari seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, objektifikasi seksual. (Dengan feminisme) laki-laki diajarkan juga untuk menghormati perempuan, suami berbagi peran di rumah, seorang ayah ikut terlibat dalam membesarkan-anak-anak.”

- Woro Seto

Sejarah feminisme di Indonesia

Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kebangkitan perempuan pribumi adalah RA Kartini. Ia memperjuangkan hak-hak wanita untuk bisa sama rata dengan para kaum lelaki. RA Kartini adalah perempuan yang hidup di masa para kaum wanita pribumi Indonesia hanya melakukan pekerjaan rumah seperti layaknya ibu rumah tangga yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas memasak, menyapu, mencuci piring dirumah, dan lain sebagainya.

Kartini pun adalah sosok yang dapat dikatakan sebagai pelopor Gerakan Feminisme, dimana hal tersebut merupakan sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan anak-anak perempuan mendapat pendidikan yang sama seperti laki-laki. Selain RA Kartini, banyak tokoh perempuan melawan keterbatasan akses pendidikan. Seperti yang diperjuangkan Dewi Sartika, tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan di Indonesia. Rasuna Said, seorang pahlawan yang selalu memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan perempuan.

Sila disimpulkan sendiri, kira-kira Indonesia masih butuh feminis gak?

Indonesia masih butuh feminisme?
Gak butuh
Butuh
Ragu-ragu
327 votes

Komentar (2)

Fresh