Brunei Mulai Terapkan Hukum Rajam untuk LGBT | OPINI.id
Brunei Mulai Terapkan Hukum Rajam untuk LGBT

Brunei Darussalam resmi memberlakukan syariah Islam yang mencantumkan di antaranya hukuman rajam hingga tewas bagi LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di negara tersebut. Tak hanya diterapkan untuk muslim, aturan ini juga berlaku bagi non-muslim yang berada di negara tersebut.

Dalam pidato resminya pada Rabu (3/4/2019), Sultan Hassanal Bolkiah, menyerukan ajaran Islam lebih ketat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya ingin melihat ajaran Islam di negara ini bertumbuh semakin kuat," kata Sultan Hassanal Bolkiah sebagaimana dikutip kantor berita AFP dan dilansir BBC Indonesia.

Hukum syariah Islam di Brunei pertama kali disahkan pada 2013 dan mulai diterapkan 2014, berdampingan dengan hukum konvensional. Semenjak itu hukum syariah diberlakukan secara bertahap.

Tahap pertama mencakup hukuman penjara atau denda untuk pelanggaran-pelanggaran seperti tidak menunaikan salat Jumat dan hamil di luar nikah.

Tahap kedua dan ketiga yang dilaksanakan mulai 3 April 2019 memuat hukuman yang lebih berat, antara lain hukuman mati dengan cara rajam untuk tindak pidana sodomi dan perzinahan.

Sebelumnya, penyuka sesama jenis di negara dengan 400 ribu penduduk itu bisa dihukum penjara selama sepuluh tahun.

Namun, setelah revisi, para pelaku sodomi, pemerkosaan, dan pasangan bukan suami istri yang berhubungan intim atau bermesraan bisa dihukum cambuk sampai dilempari batu hingga meninggal.

Banjir kecaman dunia

Tindakan Kerajaan Brunei dalam menerapkan hukum ini ditentang oleh berbagai kalangan di dunia. Komisioner Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet, menuduh Brunei Darussalam berusaha menerapkan hukuman yang tidak manusiawi.

"Saya menyerukan kepada pemerintah untuk membatalkan penerapan hukum pidana baru yang kejam itu, yang akan menjadi langkah mundur serius bagi perlindungan HAM rakyat Brunei jika tetap diberlakukan," kata Michelle Bachelet, Senin (1/4/2019) seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Aktor kenamaan Hollywood, George Clooney juga mengecam langkah Brunei meminta publik untuk memboikot sembilan hotel yang dikelola pemerintah Brunei Darussalam di berbagai negara.

Senada dengan Clooney, Elton John legenda pop asal Inggris juga menyerukan untuk memboikot ditempuh sebagai upaya protes atas hukuman mati bagi homoseksual dan perzinaan.

"Saya memuji teman saya #GeorgeClooney karena mengambil sikap menentang diskriminasi anti gay dan kefanatikan yang terjadi di negara #Brunei - tempat di mana gay dilecehkan, dengan memboikot hotel-hotel Sultan Brunei," tulis pelantun Rocket Man itu melalui akun Twitter miliknya, Sabtu (30/3/2019).

Komunitas LGBT kabur

Dengan diberlakukannya hukum syariah Islam tersebut juga membuat banyak komunitas LGBT di negara itu langsung mencari cara untuk melarikan diri karena salah satu hukum yang akan diterapkan adalah rajam mati homoseksual.

Gelombang kelompok LGBT yang kabur kian deras setelah pemerintah Brunei menetapkan akan menerapkan hukum ketat tersebut.

Kesultanan Brunei Darussalam berdalih mempunyai alasan untuk menerapkan hukum cambuk hingga rajam sampai mati terhadap kaum penyuka sesama jenis atau lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurut mereka hal itu demi melindungi dan mendidik warganya.

"Hukum (syariah), selain mempidanakan dan mencegah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, juga bertujuan mengedukasi, menghormati, dan melindungi hak sah semua individu, masyarakat, atau kebangsaan, agama, dan ras," sebut pernyataan itu sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Coba tinggal di Brunei Darussalam?
Kenapa gak?
Ga mau
Mau kalau dibayarin ke sana
70 votes

Komentar (5)

Fresh