Skandal Kamera Tersembunyi di Korea Selatan | OPINI.id
Skandal Kamera Tersembunyi di Korea Selatan

Tidak lama setelah kasus asusila personel Big Bang Seungri yang juga menyeret kawan-kawan di grup chat sexnya. Polisi Korea melansir bahwa sekitar 1600 orang dirugikan karena difilmkan secara rahasia ketika sedang berada di dalam kamar motel (penginapan kecil) di Korea Selatan. Hasil mentah rekaman -tanpa ada upaya pengeditan- ditayangkan langsung (live-streamed) secara online. Untuk menonton video tersebut, konsumen diharuskan membayar sejumlah biaya. Kasus spycam ini sebenarnya sudah parah di Korea Selatan, mulai marak pada tahun 2012. Namun kembali menguak setelah Seungri ditangkap.

Polisi Korea Selatan sampai saat ini sudah menahan dua orang. Investigasi masif terus dilakukan. Investigasi ini melibatkan 42 kamar pada 30 penginapan (akomodasi) di 10 kota di Korea Selatan. Kamera-kamera ini disembunyikan di dalam kotak tv digital, soket dinding bahkan gantungan alat pengering rambut.

Video-video disebarkan melalui sebuah situs, situs penyebar video tersebut dikabarkan memiliki 4000 anggota. Ada 97 anggota membayar sekitar Rp675 ribu setiap bulannya untuk mendapatkan layanan ekstra menayangkan ulang (replay) video. Situs ini sudah meraup keuntungan sekitar Rp90 juta selama 3 bulan terakhir menurut Polisi.

Korea Selatan punya sejarah kasus berat tentang spycam. Tahun 2012, ada laporan 2400-an kasus ilegal filming dan 6400-an kasus di tahun 2017. Pada tahun 2011 ada 1354 tersangka, meningkat menjadi 5363 pada 2017, tidak mengejutkan bahwa 95 persen tersangka adalah laki-laki. Menurut laporan polisi seperti yang dilansir independent, ada 26.000 korban illegal filming antara tahun 2012 dan 2016 dan 80 persen korban adalah wanita.

Pada Juli 2018, 70 ribuan wanita beraksi  dengan cara duduk meneriakkan “My Life is not your porn”. Mereka memprotes digitalisasi bagian tubuh. Mereka juga memprotes keberadaan kamera tersembunyi di kamar (mandi) umum dan fasilitas lain. Konon akan dengan mudah menemukan video seperti ini di Korea Selatan, dengan penggunaan search keyword yang tepat maka video bisa didapat di media sosial seperti twitter dan tumblr. Hal ini menjadi ‘normal’ di Korea Selatan apalagi ditunjang dengan koneksi internet yang sangat tinggi.

Hukum Korea Selatan terbilang lemah untuk pelaku kejahatan ini, orang yang mengambil gambar yang bisa memunculkan stimulus secara seksual atau dianggap memalukan bisa dihukum sampai lima tahun dan denda setinggi Rp134 juta.

Coba bandingkan dengan hukum di Indonesia, UU ITE bilang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan dipidana paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Denda di Indonesia lebih tinggi daripada di Korea Selatan, tapi hukum tinggal hukum. Hukum mungkin bisa membuat pelaku jera sehingga tidak akan mengulangi kali kedua, tapi apakah calon pelaku akan berpikir tentang hukuman yang akan diterima ketika bertindak?

Butuh regulasi ketat tentang penggunaan kamera tersembunyi di Indonesia, sehingga tidak hanya pelaku pemasang yang seringkali disebut oknum yang dihukum tapi penyedia akomodasi juga harus ikut bertanggungjawab. Hal ini dilakukan supaya penyedia akomodasi ikut dengan ketat mengawasi usahanya.

Maraknya syp-cam apakah bikin kamu parno kalau nginep di hotel?
Parno Banget
Gak Parno
377 votes

Komentar (1)

Fresh