Jumat Berdarah di Masjid Selandia Baru | OPINI.id
Jumat Berdarah di Masjid Selandia Baru

Jumat berdarah di Selandia Baru. Keberkahan Jumat menjadi sebuah malapetakan bagi sebagian umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Al Noor Christchurch. Setidaknya 40 orang dipastikan tewas dan 20 lainnya luka-luka akibat aksi tembakan babi buta oleh sang teroris yang diketahui bernama Brenton Tarrant.

Perdana Menteri Australia Scott Morisson pun sudah mengkonfirmasi, satu dari empat orang yan ditangkap terkait penembakan masjid Selandia Baru adalah warga negaranya. Tidak hanya itu, ABC News juga melaporkan jika warga Australia itu berumur 28 tahun.

Tarrant sudah mengklaim jika dirinyalah yang bertanggungjawab atas penembakan yang terjadi di Masjid Al Noor Christchurch saat ibadah Jumat. Ironisnya lagi, sang pelaku melakukan live streaming ketika melakukan aksi penembakan di masjid tersebut. Dalam video terlihat jika sang teroris menembakan senjata dari pintu masuk sampai ke dalam masjid dan bahkan di luar masjid. Gak hanya itu saja, bahkan sang teroris juga kembali lagi untuk melakukan penembakan, meskipun yang ditembak sudah meninggal dunia.

Sebuah manifesto setebal 37 lembar seperti dikutip AP menyatakan kalau sang teroris memang sengaja dan niat datang dari Australia untuk merencanakan dan melakukan aksinya. "Menuju masyarakat baru kita maju pantang mundur dan membicarakan krisis imigrasi massal," demikian salah satu petikan manifesto berjudul "The Great Replacement" itu.

Manifesto itu juga menuliskan bahwa serangan itu adalah balasan untuk para penyerang di Tanah Eropa dan mereka yang memperbudak jutaan warga Eropa. "Kita harus memastikan eksistensi masyarakat kita dan masa depan anak-anak berkulit putih," demikian bunyi dari manifesto tersebut. Lantas kenapa sih bisa ada terorisme?

Sebelumnya manifesto itu adalah sebuah pernyataan sikap sebuah kelompok yang diumukan kepada publik dan sering bermuatan politis. Contohnya manifesto adalah manifesto komunis, manifesto futuris, manifesto fasis dan sebagainya. Bicara soal teroris, mengutip detikcom nih guys.

ada faktor eksternal yaitu lingkungan, kondisi sosial, kondisi politik, dan faktor eksternal lain. Ada juga faktor internal, yaitu motivasi untuk memberontak, pemahaman yang keliru terhadap suatu ideologi, dan delusi superhero. Di antara kedua kategori faktor itu, yang mana sebetulnya yang paling berpengaruh? Okelah, jika disebut paling berpengaruh mungkin tidak tepat, karena harus melibatkan perangkat analisis statistika. Kita katakan, faktor mana yang dinilai paling berperan dalam membentuk seseorang menjadi teroris?

 

Ternyata, yang paling berperan adalah faktor internal individu. Faktor ketidakadilan penguasa dalam distribusi ekonomi, itu sesungguhnya tumpang-tindih. Jika dilihat dari arahnya, dapat disebut faktor eksternal. Tapi, bisa juga disebut faktor internal. Sebab, ini melibatkan persepsi yang sangat subjektif. Pemerintahan dalam suatu negara bisa dipersepsi negatif, dan bisa juga dipersepsi positif, tergantung dari pemahaman seseorang. Faktor pemahaman terhadap suatu ajaran ideologi juga berperan besar. Ideologi di sini bukan saja agama, tapi ideologi dalam arti luas.

 Komunisme itu ideologi, bisa melahirkan paham terorisme juga. Agama belum disebut ideologi ketika agama itu hanya yang bersifat ritual ibadah personal. Tapi, ketika agama direpresentasikan dengan sebuah gerakan sosial, nah itu baru disebut ideologi --dan, disebut ibadah juga tapi ibadah sosial yang penilaian dan penafsiran terhadap hal tersebut sangat beragam.

Menurutmu ini aksi teroris apa bukan?
Iya
Bukan
640 votes

Komentar (4)

Fresh