Induk Ditembak 74 Peluru, Anaknya Mati dalam Perjalanan | OPINI.id
Induk Ditembak 74 Peluru, Anaknya Mati dalam Perjalanan

Kondisi orangutan Sumatera yang dievakuasi dari perkebunan kelapa sawit di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh terluka parah akibat benda tajam pada tangan kanan, kaki kiri serta punggung. Hasil pemeriksaan x-ray menunjukkan Sebanyak 74 butir peluru senapan angin juga tersebar di seluruh bagian tubuhnya.

Sejak mendapat laporan dari masyarakat setempat pada Sabtu (09/03/19), tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama personel WCS-IP dan HOCRU-OIC turun ke lokasi dan berhasil mengevakuasi dua individu orangutan terdiri dari anak dan induknya, satu hari setelahnya.

Tak hanya luka akibat benda tajam, berdasarkan hasil pemeriksaan tim dokter hewan, diketahui bahwa induk orangutan mengalami patah tulang tangan dan kaki serta jarinya.  Mata kanan mamalia itu juga membengkak dan diperkirakan sudah rusak permanen. Sedangkan mata kirinya rusak karena pendarahan di bagian kornea dan pupil akibat tembakan tiga butir peluru angin. Mirisnya, bayi orangutan berusia satu bulan yang ditemukan bersama induknya, mati dalam perjalanan karena kekurangan nutrisi saat dievakuasi oleh tim.

Hope, nama yang diberikan untuk induk orangutan Sumatera yang berusia sekitar 30 tahun tersebut masih belum stabil. Hope masih akan berada di kandang treatment untuk mendapatkan perawatan intensive 24 jam. Nama HOPE yang diambil dari bahasa Inggris dan memiliki arti 'harapan' diberikan dengan harapan, Hope bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, BKSDA Aceh akan segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan Balai Gakkum untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan Sumatera dan penganiayaan induknya, di Subulussalam ini.

"Kita sesalkan dan mengutuk siapapun yang melukai dan menyiksa kedua individu orangutan ini dan akan berupaya bersama penegak hukum untuk bisa mengungkap kekejaman terhadap satwa liar dilindungi ini," jelas Sapto.

Sapto mengaku, pihaknya juga akan menyurati Kapolda Aceh terkait masalah penertiban senapan angin di masyarakat. "Karena di Perkapolri Nomor 8 Tahun 2012 ada aturannya, itu hanya digunakan untuk olahraga dan harus ada izin," tambahnya.

Bukan baru pertama kasus orangutan ditembak senapan angin terjadi. Dalam kurun waktu sejak 2010, kasus penembakan terjadi di Aceh Tenggara, kemudian secara berurutan terjadi di Aceh Selatan, Aceh Timur, dan Subulussalam. Padahal berdasarkan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990, pembunuh orangutan bisa dikenai hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Orangutan termasuk hewan langka yang dilindungi keberadaannya, tapi karena  ulah manusia juga, banyak orangutan musnah. Habitat mereka telah beralih fungsi sehingga kehilangan tempat tinggal dan rawan menjadi sasaran perburuan.

Komentar

Fresh