Nyobain MRT Jakarta, Moda Transportasi ala Jepang | OPINI.id
Nyobain MRT Jakarta, Moda Transportasi ala Jepang

Mass Rapid Transit atau MRT Jakarta resmi diuji coba untuk publik, Selasa (12/03) lalu. Empat ribu peserta rasakan sensasi bertransportasi ala Jepang (atau Singapura) di hari pertama uji coba publik. Saya adalah salah satunya. Saya coba naik dari stasiun Bundaran HI ke Lebak Bulus lalu kembali lagi. Total, PT MRT Jakarta targetkan 285 ribu peserta yang akan ikut uji coba dari 12 hingga 24 Maret.

Menurut saya, akses masuk ke stasiun MRT Bundaran HI cukup unik. Soalnya kita turun ke ruang bawah tanah, bukan naik tangga seperti akses ke halte Trans Jakarta. Mirip-mirip akses masuk ke subway di luar negeri lah (modal nonton film). Akses masuk berupa tangga dan eskalator. Untuk penumpang prioritas disediakan lift khusus. Tapi, di stasiun Bundaran HI, akses masuknya terpisah.

Masuk ke stasiun, senyum dan salam hangat para pegawai MRT menyambut saya. Salut! Meski terlihat sempit di luar, stasiun MRT Bundaran HI ternyata luas. Terluas dibanding 12 stasiun lainnya. Panjangnya 400 meter dengan lebar 20 meter. Konsepnya gaya hidup internasional. Mungkin karena terletak di pusat kota. Area ini juga dilengkapi wifi.

Area pertama berada di kedalaman 10 meter di bawah tanah. Area ini berisi fasilitas umum seperti pusat informasi, vending machine, toilet, mushola,ruang medis, retail, dll. Untuk menuju peron, kita harus tapping dulu dan turun satu lantai lagi. Area peron berada di kedalaman 18 meter di bawah tanah.

Peron di stasiun MRT diberi alat pengaman berupa pintu kaca (pintu tinggi di stasiun bawah tanah, dan pintu rendah di stasiun jalan layang). Saya rasa cukup efektif mencegah calon penumpang jatuh ke rel atau tersambar kereta bila peron sedang penuh sesak. Ada juga pintu darurat yang berjumlah 168 di 13 stasiun.

Interior kereta MRT secara umum serupa dengan KRL Commuterline. Tata letak kursi dan pintunya mirip. Dimensinya juga tak jauh beda. Saya bisa leluasa di dalam gerbong karena jumlah peserta uji coba sedikit. Satu gerbong MRT (20m x 2,9m x 3,9m) bisa menampung sekitar 300 penumpang. Satu rangkaian berjumlah 6 gerbong. Dengan jumlah armada 16 rangkaian, PT MRT targetkan 130 - 170 ribu penumpang per hari.

Hentakan saat kereta awal melaju cukup terasa. Mungkin karena kecepatannya yang tinggi yaitu 100 kpj di bawah tanah, dan 80 kpj di jalan layang. Tapi setelah itu, gerbong berjalan mulus minim guncangan.Gerbong terasa berisik saat kereta berada di jalur bawah tanah. Sebagai gambaran, saya hampir tak bisa mendengar suara lawan bicara saya. Tapi, saat berada di jalan layang, kebisingan turun drastis. Obrolan pun bisa dilanjutkan. Sekedar catatan, dilarang ngobrol dengan keras dalam MRT!

Alat kelengkapan dalam gerbong terbilang canggih ketimbang di KRL dan Bus Trans Jakarta. Indikator stasiun dilengkapi lampu yang menyala sesuai dengan posisi kereta. Jadi penumpang tak bingung sedang berada di mana. Ada juga indikator posisi gerbong supaya penumpang tahu berada di gerbong mana. Hal lain yang membedakan MRT dengan KRL adalah kursinya. Kursi MRT berbahan plastik tanpa bantalan busa. Selain itu, tak ada rak penyimpanan barang di atas kursi. Ini karena MRT disesain sebagai alat transportasi jarak dekat. Beda dengan KRT yang melanglang buana ke luar Ibu Kota.

Imbasnya, penumpang MRT dilarang bawa barang yang terlalu besar. Tas ransel harus digendong di dada atau diselipkan di antara kaki. Untungnya, menurut petugas yang saya tanyai, penumpang boleh membawa sepeda lipat ke dalam gerbong. Yeay!

PT MRT Jakarta janjikan kedatangan kereta tiap 10 menit dengan waktu tempuh 30 menit (dari Halte Bundaran HI ke Lebak Bulus). Saya tak bisa mengecek ketepatan waktu kedatangan kereta, sebab saya lagsung naik kereta pertama yang datang. Tapi soal waktu tempuh dari stasiun Bundaran HI ke Lebak Bulus, saya rasa janji MRT tak terpenuhi. Janji 30 menit ternyata melenceng! Berdasarkan hitungan stopwatch saya, kereta butuh waktu sekitar 27 menit. Semoga saat beroperasi nanti gak ngaret. Amin...

Sayangnya belum ada kejelasan soal tarif karena masih dibahas Pemprov dan DPRD DKI. Kalau jadi pakai skema awal, tarif berada di kisaran Rp 8.500 atau Rp 10 ribu per 10 km, ditambah biaya boarding Rp 1.500. Dengan skema itu, tarif maksimal MRT Jakarta berkisar Rp 12 ribu - Rp 14 ribu.

Secara umum, menurut saya MRT layak jadi moda transportasi utama bagi masyarakat, khususnya yang tinggal dan atau bekerja di sekitar jalur tersebut. Misalnya orang yang tinggal di sekitaran Lebak Bulus dan bekerja/beraktivitas di seputaran Senayan atau Dukuh Atas. Sangat menghemat waktu dan (mungkin) biaya. Bisa tempuh 16 km dalam waktu 27 menit lewati jalur macet seperti Jl. Antasari menurut saya cukup mengesankan. Ketimbang macet-macetan naik kendaraan pribadi.

Saya percaya setiap orang punya pengalaman dan kesan berbeda saat menjajal MRT Jakarta. Makanya, jangan sungkan kasih komentar atau berbagi pengalaman terkait uji coba MRT Jakarta. Salam.

Kamu yakin MRT akan mengubah Jakarta?
Yakin
Tidak
Ragu-ragu
5 votes

Komentar (1)

Fresh