Pertikaian Wiranto, Kivlan dan Sumpah Pocong | OPINI.id
Pertikaian Wiranto, Kivlan dan Sumpah Pocong

Isu kerusuhan 1998 menjadi perbincangan lagi. Pertikaian antara Wiranto dan Kivlan bermula saat dalam sebuah acara bertajuk “Tokoh Bicara 98” yang digelar di Add Premiere Ballroom, Jakarta Selatan pada Senin, (25/02/19), Kivlan menyebut Wiranto sebagai salah satu dalang kerusuhan 98.

Tudingan kepada Wiranto bukan hal yang baru. Mantan Panglima ABRI itu menyebutkan bahwa tudingan muncul beberapa kali, yaitu saat ia masuk Pilpres 2004 dan pemilihan wakil presiden 2009. "Itu semuanya selalu diwarnai tuduhan kepada saya. Sekarang saya buka-bukaan saja," kata Wiranto.

Tuduhan Kivlan kepada Wiranto dianggap tidak berdasarkan fakta. Sebelum menuduh, Kivlan seharusnya mempelajari laporan tim gabungan pencari fakta (TGPF) peristiwa kerusuhan Mei 1998, kata Wiranto.

Menurut Wiranto, dalam dokumen TGPF yang diketuai oleh Marsuki Darusman dan sekretaris Rusita Nur itu bisa dilihat dengan jelas institusi atau tokoh yang diduga menjadi dalang kerusuhan. Wiranto menyebut, justru ia sebagai Menhankam/Panglima ABRI saat itu melakukan berbagai upaya untuk mencegah kerusuhan.

Saat kejadian pada Mei 1998, Wiranto mengaku melakukan berbagai langkah persuasif, edukatif kompromis, dan dialogis dengan para aktivis reformasi agar jangan sampai muncul kekacauan. Namun, saat kerusuhan sudah mulai pecah pada 13 Mei, Wiranto langsung mengirim pasukan dari Jawa Timur. Tanggal 15 kerusuhan sudah mereda.

Tak cukup di situ, Kivlan pun menuding Wiranto dikendalikan oleh kelompok para jenderal untuk melengserkan Soeharto. Bahkan, kata dia, Wiranto menolak saat mendapat Instruksi Presiden (Inpres) untuk mengamankan Jakarta.

“Sebagai panglima ABRI waktu itu, Pak Wiranto kenapa dia meninggalkan Jakarta dalam keadaan kacau dan kenapa kita yang untuk amankan Jakarta tidak boleh kerahkan pasukan,” ujar Kivlan. “Pak Wiranto ini apakah didesain oleh grup para jenderal yang ingin Pak Harto mundur? Karena kenyataannya dia minta langsung kan, berarti dia terlibat dong.”

Wiranto menyatakan bahwa tuduhan Kivlan tentang dirinya yang ikut menjadi dalang kerusuhan 98 adalah tuduhan yang ngawur dan tidak berdasar.

“Saya sebenarnya kasihan sama saudara Kivlan Zein yang selalu melakukan pernyataan-pernyataan yang ngawur, tidak ada fakta. Karena, tidak lagi melihat kenyataan yang sudah beredar di masyarakat. Fakta-fakta yang beredar,” kata Wiranto.

Demi menguatkan pembelaan atas dirinya tersebut, Wiranto bahkan sampai menantang Kivlan untuk sama-sama melakukan sumpah pocong.

“Saya berani. Katakanlah berani untuk sumpah pocong saja. 1998 itu yang menjadi bagian dari kerusuhan itu saya, Prabowo, Kivlan Zein. Sumpah pocong kita, siapa yang sebenarnya dalang kerusuhan? Biar terdengar di masyarakat, biar jelas, jangan asal menuduh saja.” terang Wiranto.

Namun, Kivlan menolak tantangan sumpah pocong itu dan lebih memilih untuk berdebat di televisi. Kivlan juga menantang Wiranto untuk menempuh mekanisme peradilan militer atau pengadilan militer untuk benar-benar membuktikan siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi.

**

Dari pada saling ribut, memang baiknya Wiranto dan Kivlan saling membuktikan dengan mekanisme peradilan militer. Percuma kan, kalau saling ribut-ribut dan saling menuduh siapa yang harus bertanggung jawab di balik dalang kerusuhan Mei 1998. Keluarga korban kerusuhan Mei 1998 juga butuh perhatian, kan. Mereka juga butuh kepastian

Kamu sendiri percaya gak kalau Wiranto terlibat dibalik kerusuhan Mei 98?
Percaya
Tidak
Ragu-ragu
274 votes

Komentar

Fresh