Stop! Perusakan Citra dan Intimidasi Jurnalis | OPINI.id
Stop! Perusakan Citra dan Intimidasi Jurnalis

Sedih melihat perlakuan sejumlah kelompok terhadap jurnalis di Indonesia. Terutama bagi mereka sekumpulan orang berjubah putih yang mengatasnamakan dirinya organisasi Islam di Indonesia yang kerap mengintimidasi sebagian besar jurnalis Indonesia. Tapi siapa yang salah? Sekali lagi, mereka ini adalah sekumpulan massa yang akan tergerak dengan satu komando besar dari orang yang dipercaya.

Pengelompokan dan juga rasa ketidakpercayaan terhadap beberapa media yang dianggap tidak cover both side yang diutarakan oleh para elite politik, seakan jadi cambuk bagi para pekerja jurnalis di Ibu Pertiwi. Bayangkan saja, berapa banyak intimidasi terjadi terhadap jurnalis di negeri yang justru katanya PERS ini merdeka bersuara.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, mungkin terulang lagi. Kali ini aksi intimidasi jurnalis terjadi di acara Munajat 212. Salah satu jurnalis yang mengalami persekusi adalah Satria Kusuma, jurnalis video 20detik.com.

Kejadian bermula saat kericuhan yang terjadi akibat adanya copet di gelaran Munajat 212. Pada saat itu, Satria padahal sedang melakukan tugasnya yaitu mengabadikan momen kericuhan copet di dekat pintu keluar VIP, tepatnya di arah bundaran patung Arjuna Wiwaha dan langsung dikerumuni massa.

Menurut keterangan yang disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta, oleh pihak yang diduga bagian dari Laskar Pembela Islam (LPI), Satria mengalami perundungan, dipiting, dipukul dan diminta berjongkok layaknya maling. Kekerasan yang dialaminya pun terjadi di dalam tenda VIP.

Kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis di acara Munajat 212 tak hanya dialami oleh Satria saja, tetapi juga jurnalis kompas.cpm Nibras Nada Nailufar. Telepon genggam miliknya bahkan direbut oleh massa.”Mereka maksa minta saya tidak merekam,”jelasnya.

Padahal profesi jurnalis sudah jelas mendapat perlindungan hukum seperti yang tercantum dalam Pasal 8 Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kerja-kerja jurnalistik itu meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan kepada publik. Selain itu, mereka bisa dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, serta Pasal 18 UU Pers, dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp 500 juta.

Kini jurnalis yang kena intimidasi di acara Munajat 212 pun sudah melaporkan kejadian tersebut ke pihak Kepolisian Resor Jakarta Barat. Pengkubuan media yang kerap dilakukan para elite politik justru bisa dibilang membuat krisis jurnalisme.  Seperti yang pernah dilakukan oleh capres kubu 02 Prabowo Subianto yang pernah bertanya kepada jurnalis,”Kamu TV mana?,”.

 

 

Secara tidak langsung ungkapan dan pertanyaan serta keraguan para elite politik terhadap sejumlah media menambah citra jurnalis buruk, terutama dikalangan mereka yang lebih percaya dengan berita-berita hoax dan sebagainya.

Kamu setuju gak pelaku intimidasi jurnalis harus diungkap dan dipidana?
Setuju banget
Tidak setuju
Kalau perlu pelaku sama elite politiknya
150 votes

Komentar

Fresh