Viral Puisi Munajat 212, Ini Penjelasan MUI | OPINI.id
Viral Puisi Munajat 212, Ini Penjelasan MUI

Neno Warisman seorang seniman dan ustadzah sempat membacakan puisi di acara Munajat 212 pada Kamis (21/02/2019) lalu, di Monas. Sebagian 'Puisi Munajat 212' tersebut menuai kontroversi karena ada satu bait dari 17 bait yang dibacakan Neno, berisi kekhawatiran jika tak memenangkan Pilpres maka tak ada lagi yang menyembah Allah.

Hebohnya "doa yang mengancam Allah" yang terselip dalam Puisi Munajat 212 yang dibacakan Neno Warisman di malam Munajat 212 itu, dinilai konteksnya tidak tepat. Hal ini disampaikan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorum Ni'am, saat diwawancara oleh salah satu stasiun televisi swasta, Sabtu (23/02/2019) sore.

Asrorum Ni'am menilai isi doa tersebut tidak salah. Sebab, doa itu adalah dzikir dari Rasulullah Muhammad SAW dan hal ini disebutkan pula dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim. Hanya saja saat dibacakan di acara Munajat 212 oleh Neno Warisman menjadi bermasalah karena konteksnya tidak tepat.

Ia menjelaskan, 'doa yang mengancam Allah' itu pernah dibacakan oleh Rasulullah Muhammad SAW secara khusyuk pada saat hendak Perang Badar. Perang Badar adalah perang pertama kali yang dilakukan oleh umat Islam melawan orang-orang kafir Qurais. Saat itu, jumlah pasukan Islam hanya berjumlah 315 orang dan harus melawan pasukan kaum Qurais yang jumlahnya 1.000 orang dengan persenjataan yang lengkap dan pasukan berkuda. 

Rasulullah Muhammad SAW dengan keimanannya ia yakin bahwa Allah SWT akan menolongnya. Rasulullah SAW berdoa terus-menerus secara khusyuk agar memenangkan umat Islam dalam perang Badar. Jika umat Islam kalah, maka dia khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah Allah SWT.

Asrorum Ni'am juga menyebutkan bahwa perang tersebut dilakukan saat umat Islam masih sedikit jumlahnya, jadi wajar jika Rasulullah SAW berdoa demikian. Namun dalam kontek masa sekarang tentu saja berbeda. Saat ini, konteksnya adalah pemilihan presiden atau Pilpres 2019, yakni mencari pemimpin terbaik diantara yang baik. Menurutnya, dalam doa perlu ada niat baik, ketulusan, agar hasilnya menjadi baik.

Perang Badar adalah pertempuran Badar (bahasa Arab: gazwat badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang Badar adalah perang di mana Allah SWT ingin menunjukan eksistensi umat Islam di kalangan kaum Arab dan dunia. Perang ini terjadi pada 13 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

"Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini." (HR Muslim)

Apa kamu setuju dengan pendapat MUI?
Setuju
Ragu-ragu
Ga setuju
1307 votes

Komentar (8)

Fresh