Gagal Paham Soal Unicorn | OPINI.id
Gagal Paham Soal Unicorn

Calon presiden Prabowo Subianto mungkin gagal paham menyikapi perkembangan unicorn di Indonesia. Unicorn adalah sebutan untuk startup yang valuasinya tembus 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14,1 triliun.

Di satu sisi, Prabowo mendukung perkembangan unicorn, namun di sisi lain khawatir kalau unicorn tumbuh membesar.  

Istilah unicorn menjadi salah satu topik Debat Capres Kedua antara kandidat presiden petahana Joko Widodo dan penantangnya Prabowo Subianto di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam.

Ledakan di Luar Arena Debat Diduga Petasan

Ahok dan Elektabilitas Jokowi di 2019

Milenial Kunci Kemenangan Pilpres 2019

Bermula saat di sesi debat bebas, Jokowi menanyakan kepada Prabowo cara mendukung perkembangan unicorn.

Jokowi sendiri tak menjelaskan lebih rinci pengertian unicorn. Mungkin saja ini pertanyaan jebakan dari Jokowi yang ditujukan buat menjatuhkan lawan debatnya itu. Berharap Prabowo tak terlalu paham mengenai unicorn.

Jenis pertanyaan yang sama seperti saat Debat Capres di Pilpres 2014. Saat itu, Jokowi menanyakan masalah TPID kepada Prabowo tanpa menjelaskan kepanjangannya yakni Tim Pengandali Inflasi Daerah.

Benar saja, Prabowo sempat gagap dan memastikan dulu pengertian unicorn ketika ditanyakan kepadanya. "Yang bapak maksud unicorn? Unicorn yang apa itu, online online itu?" ujar Prabowo.

Prabowo menegaskan dukungannya terhadap perkembangan unicorn. Antara lain dengan menghapus regulasi-regulasi baru yang dinilainya menghambat seperti soal pajak.

Namun, Prabowo mengaku khawatir tumbuhnya unicorn dengan kekuatan tekologi tinggi bisa mempercepat aliran uang ke luar negeri. Dia khawatir antusiasme yang tinggi terhadap e-commerce dan layanan berbasis teknologi tinggi sejenis bisa membuat kekayaan Indonesia lari ke luar negeri.

Tentu saja, kekahawatiran Prabowo agak berlebihan. Justru unicorn inilah yang berpotensi menjadi akselerator perekonomian nasional.

Pertama tentu saja dari investasi asing yang masuk ke dalam negeri. Sebuah unicorn bisa menarik dana investasi triliunan rupiah dari berbagai seri tahapan investasi. Tentu tidak mudah menciptakan perusahaan startup dengan model bisnis sangat unik hingga menarik minat investor sebesar itu.

Faktanya, dari 7 unicorn di Asia Tenggara saat ini, 4 di antara ada di Indonesia. Masing-masing Tokopedia, Traveloka, Go-jek, dan Bukalapak. Go-jek memimpin dengan valuasi mencapai sekitar Rp 145 triliun saat ini.

Kedua, dana investasi yang masuk umumnya digunakan untuk memperkuat tim sumber daya manusia dan aktivitas marketing. Go-jek misalnya membelanjakan uangnya untuk terus menambah jumlah driver/pengemudi, jaringan mitra usaha, dan diskon berkala untuk konsumen.

Artinya modal yang disuntik sejumlah investor sudah tentu diputar di dalam negeri. Membuka lapangan kerja baru dan mendorong konsumsi masyarakat. Hal tersebut bakal turut menyumbang pertumbuhan ekonomi.

Kehati-hatian menyikapi unicorn seperti yang disampaikan Prabowo tentu boleh saja, namun tidak perlu terlalu skeptis hanya karena mayoritas investasi dikuasai asing. Mungkin memang kapasitas investor dalam negeri yang belum sebesar mereka untuk berani menanamkan modal begitu besar ke startup-startup.

Kita dorong saja agar investor dalam negeri bisa curi start ketika muncul perusahaan-perusahaan rintisan baru yang potensial.

Setelah Go-jek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia, unicorn kelima apa yang paling potensial?
Ruangguru
e-Fishery
Blibli
Ovo
560 votes

Komentar (1)

Fresh