5 Alasan Gunakan Hak Pilih dan Jangan Golput | OPINI.id
5 Alasan Gunakan Hak Pilih dan Jangan Golput

Belakangan ini muncul suara-suara bernada apatis dan keinginan untuk golput alias tidak gunakan hak pilih para Pileg 2019 dan Pilpres 2019. Meskipun tidak sedikit yang mengajak agar jangan golput.

Ada banyak alasan. Dari ketidakpercayaan terhadap penyelenggaraan pemilu hingga muak dengan kubu-kubu pendukung fanatik yang saling serang. Misalnya, fenomena cebong vs kampret.

Cebong Kampret Gak Akan Hilang Setelah 2019

Padahal, fenomena cebong atau kampret itu hanyalah bumbu politik saja. Tujuan utama pemilu tetaplah memilih calon pemimpin baik di legislatif (DPR, DPD, dan DPRD) serta pasangan presiden dan wakil presiden terbaik.

Kalau kita terbawa arus permukaan mengikuti permusuhan antarkubu dan tidak gunakan hak pilih, yang terjadi adalah lupa dengan esensi politik yang ingin kita tuju. Proses politik seharusnya jalan memilih para pemimpin yang bisa menyejahterakan rakyat.

Memang pada dasarnya golput itu hak setiap orang yang sudah punya hak pilih. Kamu boleh saja tidak gunakan hak pilih. Tidak ada sanksi apapun. Kecuali kamu mengajak orang lain golput, itu baru ada aturan yang melarang.

Namun, satu suara sangat berarti menentukan nasib masyarakat ke depan. Kalau kamu tidak gunakan hak pilih, banyak kerugian yang mungkin terjadi. Pokoknya jangan golput deh. Pertimbangkan 5 alasan sebagai berikut:

1. Memberi Peluang Politisi Busuk

Satu suara kamu sangat berarti. Bayangkan di luar sana ada politisi baik yang berjuang dengan cara sehat untuk mendapatkan suara. Sementara di sisi lain ada politisi busuk yang gunakan cara-cara jahat seperti money politics atau black campaign dengan menyebar hoax, fitnah, atau kabar burung. Peluang politisi jahat untuk memenangkan pertarungan menjadi lebih besar jika kamu gak gunakan suaramu. Pastikan suaramu diberikan kepada kandidat yang baik agar peluang mereka menang semakin besar.

2. Dia Lagi Dia Lagi

Para politisi yang sekarang duduk di pemerintahan maupun lembaga legislatif tentu sudah terlihat kinerjanya. Siapa yang benar-benar bekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan siapa yang memanfaatkan jabatannya saja. Siapa yang berkinerja baik, pilih lagi. Tapi kalau gagal, butuh wajah segar yang punya rekam jejak bersih dan berintegritas untuk menggantikan mereka. Jangan sampai yang duduk lagi justru politisi-politisi yang berkinerja buruk. Makanya jangan golput!

3. Ganti Pejabat Ganti Kebijakan

Penyakit lama yang sering terdengar di kalangan awam adalah setiap ada pergantian pejabat juga diikuti dengan kebijakan baru. Andai kebijakan baru lebih progresif dan menghasilkan kinerja jauh lebih baik harus disyukuri. Tapi kalau kebijakan baru justru letoy, yang rugi adalah semua orang. Pastikan suara kamu diberikan kepada kandidat yang mau meneruskan program-program yang sudah berjalan dalam jalur yang benar dan bisa melakukan improvisasi agar hasilnya lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran.

4. Miskin Terobosan

Semua kandidat dalam pemilu pasti menjanjikan program-program yang cita-citanya setinggi langit sebagai cara yakinkan pemilih. Tapi jangan terbuai dengan janji. Cek lagi strategi apa yang akan mereka tempuh untuk mencapai target-target tersebut agar tidak hanya manis di mulut saja tapi juga harus kuat di esensi. Pilih kandidat yang punya terobosan dan inovasi dalam membuat kebijakan.

5. Kecolongan

Jangan sampai kamu gigit jari kalau ternyata nanti yang menang adalah kandidat yang punya rekam jejak buruk, pakai politik kotor, dan tak berkinerja baik. Bukan tidak mungkin mantan pelaku kriminal tetap bisa duduk di jabatan-jabatan politik karena kita membiarkannya.

Jangan Coblos 46 Caleg Mantan Koruptor Ini
Mantan Koruptor Ngotot Nyaleg
Caleg Kok Ngarep Pinjaman Bank

Sudah banyak pelajaran yang diambil dari kemenangan Donald Trump dalam pemilu di Amerika Serikat karena kampanye menggunakan hoax, kemenangan Brexit dalam referendum yang kini membuat Inggris terkatung-katung, atau kemenangan politisi ultrakanan Jair Bolsonaro di Brasil.

Kecenderungan yang serupa sedang terjadi di Indonesia. Provokasi lewat hoax dan black campaign digunakan sebagai alat politik yang disebar melalui media sosial dan WhatsApp sehingga tak sedikit orang yang terpengaruh.

Jadi, kita memang harus berpartisipasi dalam pemilu dan jangan golput. Paling tidak gunakan hak pilih kita. Manfaatkan sebaik mungkin pilihan di bilik suara agar yang duduk di kursi pemerintahan dan anggota DPR adalah orang-orang terbaik.

Tapi ini hanya bisa terjadi jika semua orang punya niat yang sama yakni memilih yang terbaik untuk kemajuan bangsa. Bayangkan kalau setiap orang tidak peduli pilihan mereka apalagi tidak memilih? So, jangan golput ya!

Setelah kamu pertimbangkan baik-baik, apakah kamu akan gunakan hak pilih?
Ya pastinya dong
Masih gw pertimbangkan
Rada apatis sebenarnya
94 votes

Komentar

Fresh