Milenial, Kunci Kemenangan Pilpres 2019 | OPINI.id
Milenial, Kunci Kemenangan Pilpres 2019

Kedua kubu baik Jokowi maupun Kubu Prabowo terus berjuang keras dalam Pilpres 2019. Termasuk dalam upaya merebut perhatian kaum milenial.

Sebuah survei tahun 2017 tentang orientasi politik generasi milenial yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies, menemukan bahwa milenial Indonesia memiliki sedikit minat dalam politik. Sikap apatis politik di kalangan milenial menjadi salah satu target untuk merebut suara di Pilpres 2019 dari kedua kubu.

Tren golput yang menunjukkan peningkatan sejak Pemilihan Umum 1999. Hampir 30 persen pemilih terdaftar golput dalam Pemilihan Presiden 2014 dan pemilih yang lebih muda terhitung mayoritas golput.

Pasangan calon Prabowo-Sandiaga Uno memanfaatkan kesempatan ini untuk secara khusus tekun menghadiri acara-acara yang ditujukan untuk kaum muda dan mendorong mereka untuk mengambil bagian dalam proses politik.

“Milenial harus menjadi pemain, bukan hanya penonton,” kata Sandiaga dalam Indonesia Millenial Summit 2019 di Jakarta pekan lalu.

Kubu Jokowi tak mau ketinggalan, para politikus muda yang ramah milenial seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy, telah mendesak generasi muda untuk pergi ke tempat pemungutan suara pada hari pemilu.

Ridwan Kamil, dalam pertemuan yang sama juga menegaskan kepada kaum milenial untuk tidak golput. “Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, membuat pilihan yang salah akan menyebabkan lima tahun penyesalan", kata Ridwan Kamil.

Setidaknya 45 persen suara milenial direbut tim Jokowi dalam Pilpres 2019 ini. “Sebagai bagian dari tim kampanye (Jokowi) dan sebagai partai politik pendukung, kami terus berupaya mendekati milenial, sehingga mereka tidak apolitis,” kata Romahurmuziy mengutip dari Tribun.

Sikap apatis politik di kalangan milenial membuat kedua pasangan calon tak dengan mudah merebut suara milenial begitu saja. Tentu perlu perjuangan keras. IDN Research Institute dan lembaga jajak pendapat yang berbasis di Jakarta, Alvara Research Center, mengkonfirmasi hasil survey mereka, hanya 23,4 persen dari 1.400 responden milenial yang mengikuti berita politik atau mengikuti isu politik.

Berita politik di Indonesia masih dihiasi dengan strategi saling serang bahkan tak sekali kita menemukan berita yang seolah-olah dibuat-buat dengan tujuan menjatuhkan kubu lawan. Berita hoaks dan cocoklogi juga tak kalah ramai menghiasi media sosial yang mungkin saya menjadi salah satu alasan sikap apatis politik kaum milenial.

CEO Alvara Research Centre, Hasanuddin Ali, mengatakan bahwa walaupun milenial mungkin merupakan bagian besar dari pemilih yang memenuhi syarat, namun ia ragu apakah mereka akan muncul dalam jumlah yang cukup besar untuk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil pemilu yang akan datang.

Sikap apatis itu tidak terbatas di Indonesia saja. Menurut Deloitte Millennial Survey 2018 yang baru-baru ini dirilis, milenial di seluruh dunia memiliki pandangan politik yang samar-samar, di mana 71 persen melihat para pemimpin politik memiliki dampak negatif terhadap dunia.

Hasanuddin mengatakan bahwa mendapatkan suara milenial adalah tugas yang sulit, dan bahwa politisi harus fokus pada tujuan ini: mendapatkan dukungan generasi milenial.

Baik kubu Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Ma'ruf sebenarnya memiliki potensi masing-masing untuk meraup suara dari kalangan milenial. Semakin banyak anak muda yang bercita-cita menjadi entrepreneur yang bisa ditemui dari sosok Sandiaga. Sementara dari kubu Jokowi yang gemar mengunjungi acara-acara musik anak muda, penampilan kasual ala anak muda juga bisa ditemukan dari sosok Jokowi.

Jika milenial menggunakan hak pilih mereka, tentu mereka bisa menjadi kunci penentu kemenangan salah satu paslon dalam Pilpres 2019.

Menurut kamu apakah milenial bisa menjadi kunci penentu di Pilpres 2019
Bisa
Tidak
Ragu-ragu
49 votes

Komentar

Fresh