Paslon Untuk Generasi Millennials | OPINI.id
Paslon Untuk Generasi Millennials

Mendatangkan jurkam-jurkam handal dari kedua paslon, program NGOPINI yang bertemakan “Mending Pamer daripada Nyinyir” telah dilangsungkan di Paviliun 28, Jakarta Selatan, 24 Januari 2019 lalu. Program ini ditujukan sebagai sarana adu gagasan dan pemaparan secara konkrit dari visi misi yang akan dibawa, juga sebagai pengingat bagi kita bahwa kita membutuhkan solusi nyata dari permasalahan, bukan kejelekan dan kesalahan dari tiap paslon. Bukan saatnya lagi kita menyebarkan hoax dan menghasut orang-orang untuk memilih pilihan kita. Pikiran kritis anak muda akan mempengaruhi nasib Indonesia kedepannya.

Program ini mengundang Dedek Prayudi dari Tim Sukses Jokowi-Maruf. Tak ketinggalan Faldo Maldini dari Tim Sukses Prabowo-Sandi.

Ada berbagai topik yang dibicarakan dalam program ini, mulai dari masalah cebong-kampret, cara apa yang mereka lakukan untuk membuat kaum millennials memilih, Nurhadi-Aldo, hingga pembahasan komen-komen dari masyarakat. Baik timses paslon 1 maupun 2 telah menyiapkan amunisi untuk memperkuat argumennya.

Dengan jumlah pemilih pemuda atau millennials terbanyak dibanding generasi-generasi sebelumnya, pertanyaan pun muncul. Gimana, sih, cara membuat millennials tidak skeptis dan tetap memilih dengan bijak, juga apa yang dilakukan para calon dalam visi misinya memberdayakan mereka?

Dedek Prayudi, atau yang biasa disapa Uki, mengatakan bahwa generasi millennials memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya, dimana mereka lebih percaya data daripada janji manis yang dilontarkan oleh calon. Untuk memikat mereka, harus dilakukan komunikasi politik yang sesuai dengan style mereka. Ia pun menyontohkan aksi memukau Jokowi saat closing Asian Games 2018 sebagai salah satu bentuk political branding.

Apakah political branding sama dengan pencitraan? Tentu. Tetapi apakah itu menjadikan political branding sebagai sesuatu yang buruk? Jawabannya adalah tidak. Pencitraan hanya akan menjadi buruk jika apa yang dikatakan di depan berbeda dengan apa yang dilakukan.

Faldo pun menambahkan bahwa generasi millennials adalah generasi yang kritis. Jika dihadapkan pada suatu pernyataan, mereka tidak akan langsung mempercayainya, melainkan melakukan riset terlebih dahulu. Ia mencontohkan hal yang dikatakan Pak Jokowi, yaitu ‘muka diktator’. Saat mendengar hal itu, millennials akan ngecek. Sebenernya muka diktator tuh, yang kayak gimana, sih?

Selain itu, ia menganggap generasi ini membutuhkan keberpihakan. Mereka perlu solusi pemerintah terhadap isu-isu yang mereka hadapi, salah satunya adalah tenaga kerja. Dalam hal ini, paslon 2 akan meningkatkan kualitas SDM yang kita miliki. Ia mengatakan bahwa rerata waktu tunggu kerja lulusan SMK adalah 5 tahun. Padahal, kan, mereka sudah disiapkan untuk bekerja.

Terkait hal ini, Uki setuju dengan Faldo. Lulusan SMK banyak yang pengangguran adalah hal yang ironis. Ia pun mengatakan bahwa akan ada usaha pemerataan SMK dan universitas yang sesuai dengan potensi daerah. Penyusunan kurikulumnya pun akan melibatkan ahli di industri tersebut. Selain itu, dengan adanya tren di bidang e-commerce, pemberdayaan teknologi pun akan ditingkatkan, salah satunya dengan pembuatan desa-desa digital. Dengan meningkatkan produktivitas anak muda, kita dapat mencegah terjadinya Indonesia terjebak dalam middle income trap 10 tahun ke depan.

Buat kalian kaum millennials, jangan lupa untuk tetap berpikir kritis dan tidak termakan hasutan yang dilakukan orang lain, ya! Pilihan kamu akan berpengaruh pada kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.

Komentar

Fresh