Iklan Caleg:Sampah Visual Baru | OPINI.id
Iklan Caleg:Sampah Visual Baru

2019, negeri ini seolah terbaca sibuk ketika berbicara soal 2019, bisa diibaratkan seperti orang yang akan melakukan hajatan, jauh hari sudah terlihat riuh hiruk pikuk persiapan yang dilakukan oleh sang punya hajat. Begitupun juga dengan negeri ini, entah secara kebetulan atau disengaja, tahun ini banyak yang menyebut sebagai tahun politik, tahunnya para pemain politik untuk unjuk gigi.

Yang bikin tambah greget daripada tahun-tahun politik sebelumnya, tahun ini adalah pertama kalinya pemilihan umum (PEMILU) dilakukan secara serentak. Maksudnya serentak mungkin udah pada tahu semua kan ya, kalo belum tau ya silahkan dicari tahu.

Sebelum terjadi salah paham, disini yang saya maksud sebagai iklan itu adalah Alat Peraga Kampanye (APK), atau bahasa awamnya baliho atau spanduk atau poster para caleg (Calon Legislatif ) yang nanti akan menjabat di periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2024.

Surabaya sebagai salah satu kota besar di republik ini tidak luput dari fenomena iklan sampah ini, banyak sudut jalan kota sampai dengan jalan tikus masuk gang kecil perkampungan menjadi sasaran dari iklan sampah ini.

Seolah haus popularitas dan ingin dikenal warga sekitar tanpa ada program nyata, cukup dengan setor wajah tanpa perlu menjabat langsung tangan warga. Dipertigaan lampu merah, disudut warong kopi, di sisi kanan kiri gang masuk kampung, dan dimana aja selama mata bisa memandang pasti gampang buat ketemu sama yang namanya iklan sampah ini.

Disini kita gak akan ngulas tentang detail teknis baik persiapan ataupun pelaksanaan pemilihan umum. Ada fenomena unik tapi bikin gatal yang ingin kita angkat disini, mengenai iklan yang katanya  para calon wakil rakyat yang sering kita jumpai akhir-akhir ini dijalan. Terlihat wajar apabila sarana media ini sengaja dijadikan ajang pengenalan diri dari para calon wakil rakyat untuk para rakyat yang nantinya akal memberikan pilihannya.

Akan tetapi, terlihat sangat mengganggu apabila fasilitas ini dimanfaatkan secara berlebih. Yang dimaksudkan berlebih disini adalah tata cara pemasangan iklan serta tata letak yang terkesan ingin menang sendiri dan gak mau kalah dengan yang lain.

Saling tumpang tindih, apalagi akhir-akhir ini cuaca sering susah diprediksi, kadang panas, kadang dingin, kadang hujan, kadang angin kencang yang rentan bisa merusak pemasangan dari Alat Peraga Kampanye (APK). Gak heran, sebagian baliho justru jadi ancaman para pengendara seandainya jatuh atau roboh.

Mengenai tata cara serta tata letak pemasangan iklan para calon wakil rakyat ini sebenarnya sudah diatur oleh pihak yang katanya sebagai penyelenggara pemilihan umum, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), adapun salah satu contoh aturan tertulis dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) no 23 tahun 2018 yang salah satu poinnya adalah harus memperhatikan tentang etika, estetika, kebersihan, keindahan, dan keamanan. Jelas tertulis dalam aturan yang seharusnya bisa membuat Alat Peraga Kampanye (APK) menjadi teratur, kalau mau sama-sama taat aturan sih.

Kalau mau menyangkut solusi tentang fenomena ini, sebenarnya juga sudah jelas siapa yang memiliki kewengan untuk menindak lanjuti, baik dalam pengawasan maupun dalam hal penindakan sampai dengan penjatuhan sanksi, itupun kalau ada sanksi sih.

Akan tetapi semua ini kembali lagi kepada asumsi atau opini atau apalah itu yang berkembang di masyarakat yang notabennya disini sebagai warga negara yang nantinya akan menjadi tujuan dari adanya iklan sampah ini yang bahasa formalnya adalah Alat Peraga Kampanye. Kalau gambarnya saja sudah gak beretika, estetika, kebersihan, keindahan, dan keamanan, apalagi orangnya.

Artikel ini ditulis oleh Ganda Tri Kusuma untuk Opini.id

Kamu juga merasa terganggu gak sama iklan caleg?
Sangat terganggu
Gak biasa aja
5 votes

           

Komentar

Fresh