Penjelasan Dewan Pers Soal Tabloid 'Indonesia Barokah' | OPINI.id
Penjelasan Dewan Pers Soal Tabloid 'Indonesia Barokah'

Peredaran Tabloid Barokah yang dianggap meresahkan dibeberapa daerah  telah dilaporkan oleh kubu Prabowo-Sandiaga, kepada pihak Bawaslu, kepolisian maupun kepada Dewan Pers untuk dilakukan analisis.

Terkait pelaporan tersebut, Ketua Komisi Penelitian Pendataan dan Ratifikasi Perusahaan Pers, Dewan Pers, Ratna Komala, Jumat (26/1/2019), mengatakan hasil sementara penyelidikan Dewan Pers berkesimpulan bahwa tabloid Indonesia Barokah bukan media pers karena tidak memenuhi syarat sebagai media pers, apalagi ini muncul jelang Pemilu 2019.

Kesimpulan tersebut didapat Dewan Pers dari hasil penyelidikan terkait tidak ditemukannya kantor redaksi Indonesia Barokah yang tercantum di Jalan Kerenkemi, Rawa Bacang, Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, nomor telepon yang dicantumkan di tabloid tersebut saat dihubungi pihak Dewan Pers tidak ada respons dari pihak tabloid itu.

Setelah dicek, nama 'Indonesia Barokah' juga tidak ada di data perusahaan pers. Nama-nama pewarta yang tercantum dalam redaksi mereka juga tidak teridentifikasi di data kompetensi wartawan.

Selain itu, jelas Ratna, seperti dikutip dari detik, tulisan yang disajikan tabloid "Indonesia Barokah" tidak melakukan proses peliputan, artinya mereka hanya mengambil dari media massa yang sudah beredar lalu membuat kesimpulan sendiri dari berita tersebut. Tabloid tersebut juga dinilai memiliki opini yang menghakimi.

Di dalamnya ada (konten) liputan khusus, ditemukan opini yang dibuat pihak tabloid Indonesia Barokah untuk menghakimi, lalu menggiring pembaca agar memahami bahwa Prabowo sedang menjalankan strategi yang disebutkan 'semprotan kebohongan'. Ratna menegaskan bahwa aspek-aspek yang harus dijaga dalam kode etik jurnalistik adalah tidak boleh menghakimi dan tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah.

Kamu setuju ga jika tabloid Indonesia Barokah adalah bentuk kampanye hitam?
Ga setuju
Ragu-ragu nih
Setuju
44 votes


Komentar

Fresh