Remisi Susrama,Langkah Mundur Presiden Jokowi | OPINI.id
 Remisi Susrama,Langkah Mundur Presiden Jokowi

Bicara soal infrastruktur, presiden Joko Widodo boleh berbangga. Tapi ada satu persoalan yang justru bisa jadi skak mati petahana! Apalagi kalau bukan persoalan HAM. Jokowi dianggap tak mampu menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Salah satunya adalah kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, yang sampai sekarang pelakunya tak kunjung terungkap dan tertangkap.

Kali ini Jokowi kembali tersandung lewat persoalan remisi atau pengurangan hukuman kepada I Nyoman Susrama selaku otak pembunuhan wartawan di Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Hukuman penjara seumur hidup yang harus dibebankan kepada pelaku, kini berubah menjadi 20 tahun penjara. Pelaku pun dijatuhkan vonis seumur hidup pada 15 Februari 2010 di PN Denpasar, soalnya dia dianggap sudah melakukan pembunuhan berencana. Vonis ini sebenarnya lebih ringan dari tuntutan jaksa berupa hukuman mati. Beberapa kasasi dan upaya banding selalu ditolak di Pengadilan Tinggi Denpasar.

Namun, setelah menjalani hukuman 9 tahun penjara, tiba-tiba Presiden Jokowi menandatangani Keppres nomor 29 tahun 2018 pada 7 Desember lalu. Isinya terkait pemberian remisi terhadap 115 narapidana yang dihukum seumur hidup, termasuk Susrama. Aduh, sebenarnya Pak Jokowi kalau tanda tangan sesuatu dibaca dulu gak sih ya guys? Menanggapi ini, Menkumham Yasonna Laoly menjelaskan kalau remisi justru diusulkan oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan. Karena pelaku dianggap punya rekam jejak baik selama menjalani masa hukuman. Nah, usulan ini yang dibawa ke tim pengamat pemasyarakatan (TPP) untuk diusulkan ke Kantor Wilayah Kemenkumham.

Menyikapi hal ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar menilai remisi untuk Susrama merupakan langkah mundur penegakan kemerdekaan pers. Sebab selama ini tidak pernah ada kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang diungkap secara tuntas dan dihukum berat, selain kasus ini.

Seperti diketahui, kejadian ini diawali saat korban bernama Prabangsa menulis berita terkait dugaan korupsi sejumlah proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli,Bali, sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009. Salah satunya adalah proyek pembangunan TK dan SD bertaraf Internasional di Bangli, dan Susrama adalah pemimpin proyek tersebut. Dia pun marah sama pemberitaan yang ditulis redaktur Radar Bali, Jawa Pos Grup itu.

Pembunuhan pun dilakukan di rumah Susrama,Banjar Petak,Bangli pada 11 Februari 2009. Korban dieksekusi pada pukul 16.30 hingga 22.30. Saat itu Susrama juga turut memukul korban dengan balok kayu. Sadisnya, usai menghabisinya, jenazah korban pun dibuang ke laut, di Perairan Padang Bai, Karangasem Bali. Setelah dinyatakan hilang selama lima hari, Prabangsa kemudian ditemukan tak bernyawa di Teluk Bungsil, pada 16 Februari 2009. Kondisi tubuh korban mengalami rusak.

Susrama di sini adalah otak pembunuhan, dimana aksi bejatnya ini dibantu enam pelaku lainnya. Mereka adalah Komang Gede yang berperan sebagai penjemput korban. Dua orang lainnya, Nyoman Rencana dan I Komang Gede Wardana alias Mangde berperan sebagai eksekutor pembunuhan dan membuang mayat korban ke laut. Sementara tiga orang lainnya, yaitu Dewa Sumbawa, Endy, dan Jampes bertugas membersihkan darah korban.

Kamu setuju gak otak pembunuhan berencana ini malah dapat remisi?
Setuju
Gak setuju
167 votes

Komentar

Fresh