Razia Buku PKI: Buah Ketakutan yang Tak Terbukti | OPINI.id
Razia Buku PKI: Buah Ketakutan yang Tak Terbukti

Isu PKI kembali mencuat lagi di rezim Jokowi. Banyak pihak yang menuding, jika Jokowi adalah keturunan PKI bahkan bisa dibilang, sekarang adalah era kebangkitan PKI lewat tangan-tangannya. Namun sekali lagi, ungkapan dan tudingan itu bagaikan mimpi di siang bolong. PKI sudah tidak ada lagi, bahkan sudah mati. Yang tersisa hanyalah cerita-ceritanya saja sejak Orba tenggelam.

Namun, ketakutan yang dibangkitkan lagi ini punya pengaruh yang dahsyat. Sampai-sampai, razia buku jadi trend. Buktinya, baru-baru ini sejumlah buku yang dianggap berpaham Kiri di toko buku kawasan jalan HOS Cokroaminoto, Padang, dirazia aparat TNI dan Kejaksaan Negeri Padang. Bahkan, dua pekan sebelumnya, aparat kepolisian dan TNI juga merazia dan menarik buku yang dianggap mempropagandakan PKI dan berpaham komunis di Kediri, Jatim.

Dua hal ini terjadi sejak Jokowi menduduki jabatan sebagai presiden. Era reformasi dan demokrasi setelah rezim Orde Baru berakhir nyatanya tak bisa menghentikan tingkah era lawas ini. Memang secara gamblang ada di keputusan MK terkait pengamanan terhadap barang-barang cetakan yang isinya bisa ganggu ketertiban umum. Semuanya tertuang dalam UU Nomor 4/PNPS/1963. Namun balik lagi, MK justru menganggap ini bertentangan dengan konstitusi.

Dengan kata lain, Kejaksaan Agung (Kejagung) gak bisa sembarangan melakukan razia dan memberanguskan buku-buku itu. Semuanya harus lewat pembuktian terlebih dahulu di pengadilan. Lucunya lagi dalam setiap razia yang dilakukan. Mereka yang merazia buku hanya membaca dari judulnya saja, padahal belum tentu isinya memang kiri.

Bahkan menurut Robertus Robet di pengantar buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 (2013) karya Wijaya Herlambang, ada tiga syarat jika memang buku ini melanggar. Pertama buku wajib diuji dengan pertanyaan apakah berisi ancaman terhadap hak asasi. Kedua, pelarangan gak bisa dilakukan sewenang-wenang tapi harus tunggu keputusan pengadilan. Ketiga, penulis harus diberi hak jawab mengenai bukunya di pengadilan.

Jadi nih para aparat yang masih aja getol melakukan razia buku di sejumlah toko, namanya menyalahi prosedur hukum! Razia buku di era Jokowi bisa dibilang sudah terjadi empat kali. Sayangnya, buku yang dianggap berpaham komunis ini dimanfaatkan oleh kedua kubu yang lagi bertarung menjelang Pilpres 2019. Buktinya, kedua pihak setuju sama razia buku yang dilakukan polisi,TNI dan Kejaksaan Negeri.

Kamu setuju gak sama ide razia buku berpaham Kiri ini?
Gak setuju,cek isinya dulu dong
Setuju aja kalau benar
7 votes

Komentar

Fresh