Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#politik

Kritik BEM UI: Presidennya Aja Woles, Kenapa Pendukungnya Ngomel?

Usai beredar kritik BEM UI yang viral menyebut dirinya “King of Lips Service”, Presiden Joko Widodo akhirnya buka suara dengan tanggapan santai. Namun, mengapa pendukungnya lebih "galak"?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Usai beredar kritik BEM UI yang viral menyebut Presiden Joko Widodo dengan sebutan “King of Lips Service”, orang nomor satu di Indonesia tersebut akhirnya buka suara. Pada Selasa (29/6), Jokowi mengunggah tanggapannya melalui media sosial Instagram miliknya.

Jokowi menanggapi kritikan BEM UI dengan pendekatan dan strategi komunikasi yang terkesan dingin, bahkan cenderung santai. Beliau juga mengatakan pihak universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Meski dalam salah satu kalimatnya ia berujar, “Tapi juga ingat bahwa kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan”.

Dilansir dari laman CNN Indonesia, Pengamat Politik Universitas Paramadina, Arif Susanto, menilai tanggapan tersebut merupakan respons khas Jokowi. Menurut Arif, Jokowi selalu menjaga “tangan tetap bersih” dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sifatnya ambigu dan multitafsir.

“Kampus gak boleh menghalangi mahasiswa berekspresi, tapi kenyataannya kan itu sudah terjadi dan tidak mungkin situasi reaksioner itu terjadi tanpa sebab. Kita bisa juga melihat pada problem-problem yang lain,” kata Arif kepada CNN Indonesia, Selasa (29/6).

Polemik kritik BEM UI ini menurut Arif sama halnya seperti saat isu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang berhembus beberapa waktu lalu. Pada saat itu, Jokowi menilai TWK tidak bisa dijadikan alasan untuk memberhentikan 75 pegawai KPK. Namun akhirnya, 51 pegawai tetap saja tidak lolos TWK dan tidak bisa lagi bergabung dengan KPK.

“Dengan strategi komunikasi yang bermain pada pernyataan-pernyataan ambigu, Jokowi tangannya bersih. Kalau kita mau melihat, siapa yang salah di sini, rektorat kan. Padahal hampir pasti, tindakan rektorat itu bukan tanpa latar belakang politik. Mulai dari misalnya, yang mengangkat rektor kan presiden. Kewenangannya ada di tangan presiden sekarang,” lanjut Arif.

Tanggapan Jokowi Tidak Substansial

Lebih lanjut lagi, Arif menilai respons Jokowi tidak menjawab substansi persoalan yang menjadi bahan kritikan BEM UI, seperti halnya revisi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sampai dengan penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Esensi protes itu sekarang justru terpinggirkan. Yang jadi poin, sekarang ini mahasiswa tentu punya kebebasan untuk melakukan protes, tapi protesnya itu proper atau enggak, layak apa enggak. Sekarang isunya jadi itu. Substansinya malah jadi isu pinggiran. Persis ini adalah gaya Jokowi,” jelas Arif.

Foto: Antara.
Foto: Antara.

Menurut Arif, ada tiga faktor yang membuat Jokowi terlihat terlihat nyaman meski telah dikritik oleh berbagai pihak, di antaranya sebagai berikut:

  • Pertama, solidnya dukungan terhadap Jokowi di level elite.
  • Kedua, ada pihak-pihak yang rela menjadi bumper untuk menjaga “tangan” Jokowi tetap bersih.
  • Ketiga, posisi masyarakat yang sudah terpolarisasi.

Senada dengan pernyataan Arif, lembaga swadaya masyarakat Setara Institute juga menilai respons Jokowi masih belum cukup. Hal tersebut diutarakan oleh Ismail Hasani selaku Direktur Eksekutif Setara Institute.

Menurut Ismail, respons Presiden Joko Widodo sangat disayangkan karena terkesan hanya formalitas belaka dan tidak masuk pada substansi kritik yang disampaikan oleh para mahasiswa sebelumnya.

“Anggapan tersebut terlihat dari konteks respons Presiden yang melihat kritikan tersebut sebagai bentuk ekspresi mahasiswa, bahkan juga menyebut sedang belajar mengekspresikan pendapat,” kata Ismail dalam keterangan tertulis, Selasa (29/6).

Respons “Galak” Para Pendukung Jokowi

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejatera (PKS), Hidayat Nur Wahid turut merespons pernyataan Presiden Jokowi. Menurutnya, Presiden Jokowi juga harus melihat para pendukungnya, atau buzzer di media sosial yang kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kasar tanpa sopan santun.

“Mestinya beliau mengkritisi buzzer-buzzer yang membela Istana dengan pernyataan-pernyataan yang jauh dari apa yang beliau sebut sebagai tata krama, etika dan sebagainya. Jadi menurut saya agar ini betul-betul tidak lip service sebagaimana dikritikkan oleh BEM UI itu,” ungkap Hidayat.

Presiden Joko Widodo bersiap meninjau vaksinasi COVID-19 massal pelaku transportasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Vaksinasi massal itu digelar karena pelaku transportasi publik melakukan mobilitas dan interaksi dengan masyarakat yang tinggi sehingga berisiko terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Presiden Joko Widodo bersiap meninjau vaksinasi COVID-19 massal pelaku transportasi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Vaksinasi massal itu digelar karena pelaku transportasi publik melakukan mobilitas dan interaksi dengan masyarakat yang tinggi sehingga berisiko terpapar COVID-19. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Di media sosial memang tak sedikit tokoh-tokoh yang mendukung pernyataan Jokowi, beberapa di antaranya pegiat media sosial Denny Siregar dan dosen Universitas Indonesia, Ade Armando.

Denny Siregar justru memberikan sindiran keras terhadap BEM UI dengan menilai mahasiswa yang mengkritik Presiden Joko Widodo “King of Lip Service” adalah bencong. Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya berlindung di belakang nama institusi jika ingin mengkritik presiden, melainkan dengan nama sendiri.

Ade Armando juga menjadi pihak yang tidak setuju dengan kritikan BEM UI terhadap Jokowi. Melalui akun Twitter miliknya, dia memberikan sindiran yang berbunyi:

“Ini karya BEM UI. Saya sih menghargai kebebasan berekspresi. Tapi kalau jadi lembaga yang mewakili mahasiswa UI, ya jangan kelihatan terlalu pandirlah. Dulu masuk UI, nyogok ya?”

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation