Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#politik

Usai Menjabat Pemilu AS, Apakah Biden Akan Menghukum Trump?

Usai menang Pemilu AS, Apakah Joe Biden akan menghukum Trump? Jawaban dari pertanyaan ini jadi indikator kedewasaan berpolitik di Amerika.

Project Syndicate  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Di antara para pendukung Partai Demokrat dan Partai Republik, ada godaan yang besar untuk menganggap pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebagai sekadar penyimpangan yang aneh. Seperti para pendukung Partai Republik yang mungkin mencoba menyalahkan Trump atas banyaknya pelanggaran selama empat tahun terakhir, sambil berharap bahwa peran mereka yang memungkinkan pelanggaran tersebut terjadi akan cepat dilupakan, para pendukung Partai Demokrat mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka mengikuti norma-norma demokrasi, dengan menahan diri dari mengungkit masa lalu. Usai menang Pemilu AS, apakah Joe Biden akan menghukum Trump? Atau justru Trump dan pemerintahannya tidak akan dimintai pertanggung-jawaban atas banyaknya korupsi, kekejaman, dan pelanggaran prinsip-prinsip dasar konstitusi. 

Hanya Diktator Tuntut Lawan yang Kalah 

Presiden AS terpilih Joe Biden memberikan keterangan mengenai perawatan kesehatan dan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Obamacare) saat konferensi pers di sebuah tempat yang menjadi kantor pusat transisinya di Wilmington, Delaware, Amerika Serikat, Selasa (10/11). Sumber foto: Antara/Reuters/Jonathan Ernst.
Presiden AS terpilih Joe Biden memberikan keterangan mengenai perawatan kesehatan dan Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Obamacare) saat konferensi pers di sebuah tempat yang menjadi kantor pusat transisinya di Wilmington, Delaware, Amerika Serikat, Selasa (10/11). Sumber foto: Antara/Reuters/Jonathan Ernst.

Terlepas dari perhitungan politik, banyak pengamat – mulai dari mantan bakal calon presiden dari Partai Demokrat Andrew Yang hingga ahli hukum dan sejarawan terkemuka – berpendapat bahwa hanya diktator yang menuntut lawan mereka yang sudah kalah. Dengan motif yang terlihat jelas, Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Bill Barr juga berpendapat bahwa “pemenang pemilu yang menuntut lawan mereka yang kalah bukan merupakan praktik yang terjadi di negara demokrasi yang matang.” Tapi generalisasi semacam ini terlalu terburu-buru. Slogan Trump “lock her up (penjarakan dia)” yang ditujukan bagi Hillary Clinton pada tahun 2016, tidak boleh dijawab dengan slogan “lock him up”; tapi “memaafkan dan melupakan” juga bukan satu-satunya alternatif. 

Baca Selengkapnya
Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation