Perbedaan Quick Count dan Exit Poll dalam Pemilu | OPINI.id
Perbedaan Quick Count dan Exit Poll dalam Pemilu

Saat Pemilu serentak diadakan seperti yang akan bangsa Indonesia laksanakan pada Rabu (17/4) besok, istilah quick count dan exit poll pasti sering terdengar. Tapi nampaknya istilah quick count atau hitung cepat lebih akrab di telinga masyarakat Indonesia dibandingkan exit poll. Beberapa lembaga survei kerap melakukan quick count atau hanya exit poll saja ketika pemungutan suara. Bahkan ada lembaga survei yang melakukan keduanya sekaligus.

Seperti kita ketahui, lembaga-lembaga survei di Indonesia umumnya memperkirakan hasil pemilihan umum di pelbagai tingkat, mulai dari pemilihan bupati hingga presiden, dengan tiga cara, yaitu survei pra pemilihan, hitung cepat (quick count), dan jajak pendapat pemilih di tempat-tempat pemungutan suara (exit poll). Nah, apa perbedaan antara quick count dengan exit poll? berikut penjelasannya:

1. Quick Count

Banyak pakar yang menyebutkan bahwa quick count atau hitung cepat merupakan sebuah metode paling ampuh untuk memantau hasil pemilu. Dengan menggunakan metode ini maka hasil Pemilu baik Pilpres maupun Pilkada sudah bisa diprediksi hanya beberapa jam setelah tempat pemungutan suara (TPS) ditutup. Hasilnya juga hampir tidak pernah meleset dari real count.

Proses quick count dilakukan dengan menghitung presentase hasil suara pemilu di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang dipilih secara acak dengan metode statistik. Data hasil penghitungan suara dikirim ke pusat sistem data melalui perangkat elektronik. Pengiriman teks data disertai foto lembar C1 di lokasi TPS. Hasil quick count memang nyaris presisi karena sampelnya merupakan jumlah suara faktual dalam TPS.

2. Exit Poll

Exit poll merupakan salah satu metode yang digunakan media untuk memprediksi siapakah yang akan memenangkan pemilihan umum. Metode ini adalah polling terhadap hasil sebuah pemilihan yang dilakukan dengan cara menanyai pemilih setelah mereka keluar dari TPS. Dalam proses exit poll pemilih yang baru keluar TPS dijadikan sebagai respondennya. Secara prinsip exit poll itu sama dengan survei. Ada tekniknya dengan  menggunakan wawancara, hingga kuisioner terstruktur.

Exit poll lebih menargetkan data demografi pemilih, bukan memprediksi siapa yang bakal menang dalam pemilu atau pilkada. Data demografi yang dicari biasanya adalah usia, agama, suku, gender, tingkat pendidikan, pendapatan, latar belakang pilihan partai politik, afiliasi ormas keagamaan dan lain-lain.

Meski demikian, tidak semua negara menggunakan exit poll sebagai salah satu cara untuk memprediksi pemenang pemilihan umum. Salah satu negara yang masih menggunakan exit poll adalah Britania Raya terutama dalam pemilihan umum parlemen.

Hal ini disebabkan exit poll dianggap lebih stabil untuk memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang. Selain itu, exit poll dianggap mewakili hasil akhir dari pikiran para pemilih setelah keluar dari tempat pemungutan suara (TPS) dan memiliki selisih (margin of error) yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan jajak pendapat karena kemungkinan adanya fluktuasi hasil pada masa kampanye dan masa pemilihan umum.

Kamu lebih percaya yang mana untuk hasil suara Pemilu?
Quick Count
Exit Poll
Perpaduan antara keduanya
2606 votes

Komentar (14)

Fresh