WNI di Sydney Ingin Pemilu Diulang | OPINI.id
WNI di Sydney Ingin Pemilu Diulang

Kisruh Pemilu 2019 di TPS Town Hall Sydney, Australia ramai diberitakan di Indonesia. Ratusan warga negara Indonesia (WNI) di Sydney dikabarkan tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

WNI melayangkan protes membuat petisi melalui situs Change.org, mendesak agar PPLN di Sydney, Australia, mengadakan pemilu ulang.

Source: laman pemilusydney

Cerita salah satu WNI
Salah satu mahasiswa di University of Sydney, Evan Kriswandi Soendjojo, menceritakan kejadian tersebut. Ia menceritakan, pemilu di TPS Town Hall sempat terlambat buka sekitar satu jam dari jadwal sebenarnya, yakni pukul 08.00 waktu setempat.

Evan melanjutkan, TPS Town Hall mengalami penumpukan calon pemilih yang sebelumnya belum melapor sebagai DPT. Mereka datang langsung untuk mendaftar di lokasi pada hari-H pemilu di Sydney.

Para calon pemilih yang tidak masuk dalam DPT dan mendaftar langsung pada hari-H disediakan surat suara cadangan.

"Namun masalahnya, banyak pemilih di TPS itu yang justru tidak melapor sebagai DPT. Polemik ditambah lagi dengan TPS yang tutup tepat waktu jam 18.00 tanpa perpanjangan atau antisipasi kendala. Tutup ya langsung tutup, sementara masih ada kerumunan di luar TPS," lanjutnya.

Akhirnya para calon pemilih berinisiatif ke TPS di KJRI Sydney yang diperpanjang sampai pukul 19.00. Meskipun ada WNI yang tetap bertahan di TPS Town Hall.

Muncul petisi online
Banyaknya WNI yang tak bisa menggunakan hak pilihnya, membuat warga negara yang berada di Sydney membuat petisi online.

Komunitas WNI di Sydney yang menamai dirinya The Rock menuntut diadakannya pemilu ulang. Mereka menuduh pihak PPLN Sydney gagal melayani ratusan warga yang tidak bisa masuk ke TPS hingga jam penutupan.

Mereka menuduh pihak PPLN Sydney gagal melayani ratusan warga yang tidak bisa masuk ke TPS hingga jam penutupan.

KPU tak ingin gegabah putuskan pemilu ulang
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman tidak ingin terburu-buru memutuskan untuk melakukan pemungutan suara ulang.

Hingga saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Panitia Pemilih Luar Negeri (PPLN) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), untuk menyelidiki duduk persoalannya.

Dalam laman resminya, PPLN memberikan penjelasan dan pemahaman kepada beberapa pemilih yang mengalami kendala dalam mendapatkan informasi terkini seperti tempat/lokasi TPS mencoblos dan metode pemilihan yang digunakan apakah POS atau TPS.

Menjelang jam 17.00 atau mendekati waktu bagi DPKLN untuk melakukan pencoblosan, antrian pemilih mencapai puncaknya. Pemilih DPKLN yang ingin mencoblos memenuhi pintu masuk lokasi gedung TPS berada. Untuk mengurangi antrian, KPPSLN yang bertugas berusaha semaksimal mungkin mempercepat pelayanan terhadap pemilih. Pemilih disabilitas diberi akses khusus sehingga bisa melakukan pencoblosan tanpa perlu mengantri.

Ketika waktu menunjukkan pukul 18.00, masih banyak orang berkumpul di depan pintu masuk lokasi gedung TPS. Dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah dengan Panwaslu, Saksi, Perwakilan Mabes POLRI dan pihak keamanan gedung; terutama pertimbangan keamanan gedung dan waktu penggunaan gedung yang terbatas, maka penutupan pintu masuk gedung dilakukan pada pukul 18.00.

Pemilih yang berada di luar gedung telah diberi penjelasan bahwa waktu pencoblosan telah berakhir, namun pelayanan masih dilakukan pada pemilih yang sudah memasuki gedung. Beberapa pemilih yang diluar gedung masih kurang puas meskipun telah diberikan penjelasan oleh PPLN.

Di tempat terpisah, Komisioner KPU Ilham Saputra menegaskan, pihaknya tak ingin salah dalam mengambil keputusan soal masalah yang terjadi di Sydney, Australia. KPU akan menunggu laporan resmi dari PPLN Sydney terkait proses pemungutan suara pada 13 April 2019.

Menurut kamu pemilu di Sydney perlu diulang?
Iya perlu
Gak perlu
Harus diselidiki dulu
12 votes

Komentar

Fresh