Alasan Ikutan Nyoblos, Dari Haha-Hihi Sampai yang Serius | OPINI.id
Alasan Ikutan Nyoblos, Dari Haha-Hihi Sampai yang Serius

Pemilu akan digelar secara serentak di seluruh Indonesia pada Rabu, 17 April 2019. Seperti kita ketahui, saat ini kita sudah memasuki tahapan masa kampanye Pemilu, yang akan berlangsung hingga tanggal 13 April 2019. 

Di masa tenang ini tak ada salahnya juga kamu menelisik dan menimbang dengan bijak calon mana yang bakal kamu pilih di Pemilu 2019. Apalagi para pemilih muda saat ini jumlahnya cukup banyak, dan jika ditambah dengan mereka yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya. Jumlahnya bisa mencapai 30-40% pemilih di Pemilu Serentak nanti.  

Fakta ini membuat pemilih muda memegang peranan besar yang bisa menentukan hasil Pemilu Serentak nanti dan memastikan masa depan negara lima tahun ke depan. Ternyata banyak alasan yang dikemukakan oleh para pemilih saat akan menentukan pilihannya di Pemilu 17 April 2019.

Berdasarkan alasannya, seperti dilansir kompas.com, para pakar ilmu politik mengelompokkan pemilih Indonesia dalam tiga kategori besar, yaitu: pemilih ideologis, sosiologis dan rasional. Tapi ada juga kategori pemilih oportunis, pemilih mengambang bahkan ada juga sebutan pemilih haha-hihi atau pemilih yang ikutan gimana ramenya kondisi Pemilu.

Sebenarnya saat kamu ikutan mencoblos, saat di bilik suara hanya kamu yang tahu akan memilih calon yang mana. Memang bersifat sangat personal tanpa dipengaruhi siapapun, tapi ternyata tetap memiliki alasan beragam, berikut penjelasannya:

1. Tanpa Alasan.  Sebenarnya banyak diantara  yang ikutan nyoblos saat Pemilu tanpa alasan yang jelas. Sekedar berpartisipasi daripada dibilang warga negara tak bertanggungjawab. Konon sebagian besar pemilih ikut mencoblos tanpa sentuhan argumen rasional. Bahkan ada pemilih yang sekedar ikut-ikutan alias pemilih haha-hihi, nyoblos karena ikut gimana ramenya teman-teman nyoblos pilihan calonnya.

2. Doktrin Ideologi Ekonomi tertentu. Misalnya memilih karena kandidat mengusung program kerja yang kapitalis banget atau sosialis banget.

3. Ideologis Keagamaan. Misalnya mencoblos karena ingin memenangkan seorang kandidat dengan pertimbangan agamanya.

4. Asal-usul atau Etnis. Meskipun mungkin pemilih itu tidak mengenal secara pribadi kandidat pilihannya, bahkan mungkin tidak pernah diuntungkan secara langsung oleh sang kandidat.

5. Balas Budi. Ternyata banyak juga orang memilih atau mencoblos pilihannya dalam Pemilu karena ingin membalas budi baik seseorang.

6. Diwajibkan. Misalnya karena perusahaan atau instansi bahkan atasan di tempat kerja yang meminta bahkan cenderung 'memaksa' agar pekerjanya ikut mencoblos kandidat tertentu. Pasalnya di Indonesia, ada periode sejarah di mana seseorang bisa dipecat atau kehilangan pekerjaannya akibat memilih kandidat yang berbeda dengan pilihan pimpinan di tempat kerjanya.

7. Menghormati seseorang. Banyak orang ikut mencoblos, hanya karena menghormati seseorang. Seorang tokoh yang telah memastikan dukungannya kepada kandidat tertentu.

8. Lagi Ngetrend. Ada pemilih yang ikut mencoblos dengan alasan mengikuti ritme kehidupan yang sedang ngetrend. Misalnya mengikuti hasil jajak pendapat lembaga-lembaga survei.

9. Memilih karena afiliasi Parpol. Parpol yang didukung telah menyatakan dukungannya kepada salah satu kandidat, maka secara moral dan sebagai kader, seseorang seolah "mewajibkan diri" mencoblos kandidat yang diusung Parpol bersangkutan.

10. Mendapatkan imbalan. Turut mencoblos dalam Pemilu 2019 hanya karena mendapatkan imbalan bisa berupa uang, sembako, bingkisan dan lain lain. Tak hanya itu jika jagoannya menang, biasanya akan mendapatkan lagi imbalan tambahan pasca Pemilu. 

Kamu jadi pemilih yang mana di Pemilu 2019?
Pemilih serius dengan alasan jelas
Pemilih haha-hihi yang ikut-ikutan
Pemilih yang masih bingung nentuin pilihan
36 votes

Komentar

Fresh