Gerilya Digital Cebong-Kampret | OPINI.id
Gerilya Digital Cebong-Kampret

Kampanye di media sosial dalam pesta demokrasi memiliki peran penting di era digital ini. Konsekuensinya, bisnis buzzer berpeluang menjadi bisnis menggiurkan di musim politik menjelang pemilihan umum.

Tak sedikit buzzer yang mencari remah-remah rezeki dari pesta demokrasi. Klien mereka tak lain dan tak bukan adalah politisi yang ingin merebut suara rakyat melalui orang-orang terkenal yang sering disebut sebagai influencer di media sosial.

Tugas buzzer pun sebenarnya tak mudah. Mereka harus paham konten seperti apa yang diinginkan audiens di medsos. Namun, harus berkaitan dengan cerita ‘jagoan’ yang didukung.

Hariadhi, salah satu buzzer calon presiden dan calon wakil presiden 01 mengatakan audiens menyenangi cerita personal politisi.

“Cerita tentang kebaikan, keluarga, itu ngalahin isu pembangunan. Buat orang-orang, pembangunan ya memang sudah sewajarnya dilakukan pemimpin,” kata Hariadhi di acara Ngopini: Gerilya Digital Cebong-Kampret di Yan Kedai Kopi, Jakarta, Jumat (29/3) malam.

Talkshow Ngopini bertema Gerilya Digital Cebong-Kampret ini mempertemukan buzzer 01 dan 02 untuk bercerita pengalamannya. Pengamat cyber dan e-commerce juga dihadirkan untuk menjelaskan bisnis menguntungkan ini.

Hariadhi mengaku telah menjadi buzzer politik sejak 2014. Saat itu ia mendukung Jokowi-Ahok di pilgub DKI. Menurutnya, kepercayaan audiens sangat penting. “Kesalahan buzzer suka ngikutin uang. Terus enggak konsisten dukungannya ke mana. Bisa kiri atau kanan, tergantung uang,” kata Hariadhi.

Sementara itu Mustofa Nahra, buzzer capres dan cawapres 02 memiliki pendapat lain. Militansi seorang buzzer, menurutnya, tak bisa dinilai dari uang. “Lebih dari itu (uang), ada hal yang mereka perjuangkan. Ada kepercayaan kepada capresnya,” kata pemilik akun twitter @AkunTofa ini.

Sedikit berbeda dengan Hariadhi, masuknya Mustofa ke media sosial diawali oleh siraman rohani. Saat itu, caleg DPR RI Dapil Jateng V ini menulis blog hanya untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Namun kini, Mustofa aktif menjadi buzzer Prabowo-Sandi yang dikenal militan.

Buzzer sebenarnya hanya salah satu kategori yang ada dalam kampanye digital. Buzzer biasanya memiliki tugas memposting ulang dari konten yang sudah ada secara berulang-ulang. Biasanya konten yang disebar oleh buzzer adalah konten milik influencer yang sudah dipercaya oleh audiensnya dan telah memproduksi konten secara profesional. Di atas influencer masih ada kategori trigger yang memberikan pesanan kepada influencer.

Hoax dan Buzzer Bot Jadi Kendala

Menjadi buzzer memiliki tantangannya sendiri. Mustofa bercerita salah tantangan menjadi buzzer Prabowo adalah akun bot. Akun bot ini dapat seolah-olah mendukung pasangan calon tertentu, padahal itu hanya akun robot.

“Bisa aja kan, akun ini orang 01 terus dia nyusup ke 02. Begitu sebaliknya. Ini kan bahaya,” kata Mustofa.

Belum lagi soal kabar bohong. Banyak buzzer pemula terjebak berita yang belum diketahui kebenarannya.

“Mereka asal retweet atau repost kabar hoax yang dapat merugikan jagoannya sendiri.”

Pengamat cyber dan e-commerce Kun Arief Cahyantoro membenarkan adanya sistem akun bot. Menurut Kun, akun bot ini telah menjadi ladang bisnis baru di dunia politik digital. “Saya pernah ketemu kumpulan anak muda di Bandung yang mengelola akun bot ini. Penghasilan mereka luar biasa,” kata Kun Arief.

Perusahaan Medsos Paling Diuntungkan dari Bisnis Buzzer

Bisnis kampanye digital pada kenyataannya memang menjadi bisnis yang menggiurkan. Meski tak menyebut angka secara rinci, Kun memperkirakan perputaran uang dalam bisnis kampanye digital dapat melebihi Rp 1 triliun. “Angka ini kalau dilihat dari keseluruhan bisnisnya ya, termasuk pemasukan perusahaan media sosial,” kata Kun.

Perusahaan medsos, menurut Kun, menjadi yang paling diuntungkan dalam bisnis ini. “Seumpamanya transaksi Rp 1 triliun, 50 persen bisa masuk ke media sosial dan sisanya dibagi-bagi ke buzzer dan influencer,” katanya.

Lalu di mana peran politisi? Politisi memang tak membayar langsung kepada medsos (Facebook atau Instagram) perihal konten yang disebarkannya. Namun, hasil postingan politisi yang diikuti oleh ribuan atau jutaan pengikut itulah yang menghasilkan uang.

Selain mendapat keuntungan uang, perusahaan medsos juga mendapat aset berupa data intelijen, profiling dan monitoring dari pengguna medsos, termasuk pengikut akun politisi. Aset inilah yang dijual oleh perusahaan medsos ke badan riset berupa “big data”. Biasanya badan riset ini diperlukan oleh industri lain untuk mengetahui perilaku konsumen.

Di dunia politik, badan riset ini tak lain adalah konsultan politik. Konsultan politik dibayar oleh politisi untuk mendapatkan data intelijen dan profiling. Berangkat dari data ini, politisi membuat sebuah isu yang berhubungan erat dengan audiens atau rakyat.

Dari sinilah buzzer dan influencer bekerja. Mereka menyebarkan isu yang didapat dari konsultan politik untuk memenangkan politisi yang dijagokan. Dengan alur pekerjaan seperti ini, pemasukan buzzer dan influencer datang dari dua pihak, yaitu dari medsos (Facebook atau Instagram) dan politisi yang dijagokan.

Karena kampanye digital ini pada intinya hanya bisnis semata, Kun menegaskan media sosial bukanlah cerminan realitas yang sebenarnya. Kebenaran di medsos bersifat semu yang dapat direkayasa.

“Medsos cuma panggung bagi para politisi, netizen yang meramaikan. Intinya ini adalah bisnis yang sangat bagus,” tegas Kun.

Kamu tertarik jadi buzzer politik?
Tertarik
Enggak
Ragu-ragu
14 votes

Komentar

Fresh