Trotoar Milik Pejalan Kaki | OPINI.id


Jalur pejalan kaki ini dibuat untuk melindungi pejalan kaki. Trotoar biasanya lebih tinggi dari jalanan.

Gunanya gak hanya melindungi pejalan kaki dari kendaraan tapi juga memberikan ruang gerak yang nyaman. Tapi kenapa masih banyak orang yang melanggar hak pejalan kaki ya?

Trotoar Mutlak Dibuat Bagi Pejalan Kaki

Pengaturan mengenai trotoar terdapat dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (?UU 22/2009?) dan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (?PP 34/2006?).

Trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan di antara fasilitas-fasilitas lainnya yaitu: lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan/atau fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut.[1] Trotoar ini merupakan hak dari pejalan kaki[2] dan hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki[3].

Pidana Adalah Hukuman Bagi Pengendara Motor yang Melewati Trotoar

Nah ini nih kebiasaan yang parah! Sudah tahu trotoar untuk pejalan kaki, tapi banyak sekali pengguna sepeda motor yang melewati trotoar pada saat jalanan macet. Sebagai pejalan kaki kita wajib menegurnya nih. Kalau pengendara motor gak terima dan marah-marah, kita bisa membawa ini ke jalur hukum.

Soalnya ada pasalnya nih bagi pengendara motor yang bandel menjalankan kendaraannya di trotoar. Dalam UU LLAJ, diatur bahwa orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250 ribu.

Di samping itu, perlu diketahui bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor berkewajiban mengutamakan keselamatan pejalan kaki. Pengendara motor yang melintasi trotoar akan berpotensi mengganggu keselamatan para pejalan kaki.

Orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki (seperti tindakan pengendara motor yang melewati trotoar) dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu. Selain diatur dalam UU LLAJ, mengenai larangan kendaraan bermotor melintasi trotoar juga dapat dilihat pada peraturan masing-masing daerah. Contohnya di Jakarta ketentuan serupa dapat kita temukan dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi (?Perda DKI Jakarta 5/2014?).

Perda DKI Jakarta 5/2014 melarang kendaraan bermotor melintasi jalur trotoar serta mewajibkan pengemudi kendaraan bermotor untuk mengutamakan keselamatan pejalan kaki. Perda ini juga mengatur bahwa setiap pengemudi Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mentaati tata tertib berlalu Lintas Jalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (termasuk Perda ini).

Jika pengemudi kendaraan bermotor melanggar ketentuan larangan melintasi trotoar, berarti pengemudi tersebut tidak menaati tata tertib lalu lintas. Pengemudi kendaraan bermotor yang tidak menaati tata tertib berlalu lintas jalan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp.250 ribu.

Yang Salah Yang Marah!

Fenomena inilah yang kerap kali terjadi di Indonesia, khususnya di Ibukota Jakarta. Baru-baru ini beredar video perdebatan antara tukang ojek dengan koalisi pejalan kaki.

Pengendara motor yang berprofesi sebagai tukang ojek ini marah dan mengeluarkan kata-kata kotor saat diberikan nasihat agar tidak menggunakan fasilitas trotoar yang pada lumrahnya dibuat untuk pejalan kaki.

Pedagang Kaki Lima Juga Gak Berhak Gunakan Trotoar

Sudah dibilang trotoar itu hanya untuk pejalan kaki. Bukan untuk pengendara motor apalagi pedagang kaki lima. Lantas kenapa sih masih banyak pedagang yang bandel jualan di trotoar?

Ternyata usut punya usut, kecilnya denda yang diberikan kepada pedagang kaki lima (PKL) membuat mereka tidak kapok untuk mengokupasi jalanan trotoar Ibu Kota. Menurut Kasiop Satpol PP Jakarta Pusat Santoso, denda yang diberikan rata-rata tergolong rendah, yakni RP 100.000.

Komentar

Fresh