Serba Salah Bisnis Ritel | OPINI.id

Bangkrutnya jaringan Seven Eleven di Jakarta meninggalkan sejumlah pertanyaan. Mengapa bisa tutup? Kan gerainya tetap ramai pengunjung. Apalagi, ekonomi Indonesia tetap tumbuh, dengan tekanan inflasi yang melandai. Direktur Lusk Center for Real Estate Richard Green menuding keputusan perempuan tidak menikah jadi salah satu penyebab bisnis ritel menurun di Amerika Serikat. Lantas, bagaimana kondisi industri ritel di Indonesia?

Kisah Pilu Seven Eleven

Gerai ritel favorit anak muda, Seven Eleven di Indonesia, resmi tutup pada 30 Juni 2017. Hingga akhir hayatnya, Sevel punya 190 gerai tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Sejumlah alasan dituding jadi penyebab tutupnya Sevel, seperti biaya sewa retail space yang mahal di Jakarta, kesalahan manajemen, larangan penjualan minuman beralkohol, hingga nilai belanja pengunjung muda yang mini.

Jurang Ketimpangan Makin Luas

Lantas, pelajaran apa yang bisa kita petik dari bangkrutnya bisnis Seven Eleven di Jakarta? Seperti diungkapkan Direktur Lusk Center for Real Estate Richard Green, bisnis ritel punya masalah yang lebih besar dari sekadar persaingan dengan e-commerce. Menurut Richard, jurang ketimpangan antara si kaya dan si miskin semakin melebar di Amerika Serikat maupun dunia. Kondisi ini menyebabkan perubahan perilaku belanja masing-masing kelas ekonomi masyarakat. Saat ini, orang kaya cenderung menyimpan penghasilannya atau berinvestasi. Karena, mereka telah menikmati pertumbuhan kekayaan. Sementara warga miskin akan membelanjakan seluruh uangnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan, warga kelas menengah mulai mengurangi porsi belanja, dan menyimpannya untuk kebutuhan yang lebih penting. Karena, penghasilan mereka tak lagi berlebih saat ini. Kondisi ini pada gilirannya berimbas pada peritel menengah, seperti hypermarket Target di Amerika Serikat serta Seven Eleven di Indonesia.

Kerja Biar Punya Uang

Berkah Ramadan tahun ini terasa tidak signifikan bagi pelaku industri ritel Tanah Air. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengatakan, rata-rata kenaikan penjualan ritel selama Ramadan hingga libur Lebaran tahun ini diprediksi hanya sebesar 5% hingga 6%. Angka ini jauh lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan penjualan tahun sebelumnya antara 30% sampai 50%. Padahal, pendapatan dari penjualan Ramadan dan Lebaran berkontribusi antara 40% hingga 45% dari total pendapatan perusahaan ritel setahun penuh. Roy mengakui, biaya pendidikan tahun ajaran baru yang jatuh berdekatan dengan Lebaran mengurangi orang untuk berbelanja. Namun, industri ritel nasional menghadapi masalah yang lebih kompleks. Salah satunya bonus demografi yang tidak terkelola dengan baik. Roy menjelaskan, kelompok usia produktif di Indonesia sangat besar, namun banyak dari mereka mendapatkan pekerjaan dengan upah yang tidak signifikan. Alhasil, daya beli mereka tergerus.

Cewek Jomblo dan Transportasi Online

Direktur Lusk Center for Real Estate Richard Green memaparkan, jumlah perempuan usia 25 hingga 34 tahun yang memilih tidak menikah, ikut andil dalam menurunnya penjualan ritel di Amerika Serikat. Mereka ogah nikah karena sulit menemukan laki-laki yang mapan. Padahal, lanjut Richard, perempuan menikah memiliki jumlah pengeluaran yang lebih besar dibandingkan mereka yang jomblo. Perempuan berkeluarga juga menghabiskan waktu lebih lama di supermarket atau pusat belanja. Dengan kata lain, pemilik gerai ritel akan meraih keuntungan dari mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di tempat perbelanjaan. Sementara, laki-laki 'single' cenderung belanja seperlunya. Selama ini banyak yang menyudutkan posisi e-commerce menyebabkan penurunan penjualan bisnis ritel. Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey punya pendapat berbeda. Saat ini, Roy mengatakan, bisnis ritel offline justru tertekan oleh perubahan gaya hidup konsumen akibat layanan ojek online. Konsumen jadi enggan berbelanja banyak, karena akses membeli barang menjadi lebih mudah.

Masa Depan Konsumen Millenials

Kaum millenials yang berusia antara 18 hingga 34 tahun diyakini jadi penopang perekonomian. Mereka masih berada pada era produktif untuk bekerja. Namun, gambaran situasi saat ini mulai membuat banyak pihak khawatir terkait masa depan mereka. Salah satunya Direktur Lusk Center for Real Estate Richard Green. Menurut Richard, pelaku industri di Amerika Serikat harus mulai serius memperhatikan ke arah mana kelompok millenials akan berkembang. Pasalnya, mereka salah satu kelompok yang ikut merasakan dampak krisis keuangan 2008. Berdasarkan risetnya, Richard menemukan, bahwa orang-orang yang lahir pada era krisis ekonomi 1930-an, dan menjadi kaya pada 1970-an memilih gaya hidup hemat dan tidak berfoya-foya. Pengeluaran mereka lebih kecil dari generasi yang lahir sebelum maupun setelah 1930-an.

Komentar

Fresh