Menikmati Takjil Dari Abad ke 16 | OPINI.id

Ada yang unik dengan tradisi yang dilakukan oleh warga di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Bantu. Tepatnya kepada jamaah di Masjid Sabiilurrosya'ad. Disaat berbuka puasa mereka menyajikan sebuah hidangan yang berbeda.

Namanya adalah bubur sayur lodeh. Salah seorang pembawa tradisi ini adalah Panembahan Bodho (salah satu penyebar Islam di wilayah tersebut).

Panembahan Bodho merupakan murid dari Sunan Kalijaga yang menolak jabatan Adipati Terong di Sidorejo, dan memilih menjadi ulama dan mensyiarkan Islam di Desa Wijirejo. Bubur yang digunakan sendiri merupakan makanan asli Gujarat, India. Kemudian dicampur sayur lodeh yang merupakan makanan khas warga Jawa.

Cara penyajiannya

Adalah dengan ditambahkan tempe dan tahu. Namun khusus di hari Jumat, penyajiannya ditambahkan dengan daging Ayam.

Makna Bubur Sayur Lodeh

Bubur sayur lodeh memiliki tiga makna. Pertama bibirrin yang berarti dengan kebagusan. Artinya ajaran Islam itu harus diajarkan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasa. Kedua, Beber. Sebelum takjil dibagikan ke jamaah masjid disampaikan nilai-nilai dasar Islam. Ketiga adalah Babar. Filososi adalah ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat, tanpa memandang status sosial dari mana dia berasal. Hingga saat ini, tradisi Bubur Sayur Lodeh ini masih dipertahankan oleh jamaah di Masjid Sabiilurrosya'ad.

Komentar

Fresh